Semerbak aroma bumbu yang ditumis merasuk ke indra penciuman membuat Arsya membuka matanya perlahan. Ia mengerjap berulang kali untuk mencoba menerima cahaya yang mulai masuk ke retina. Ia pandang sekitar tempatnya ia tidur. Bukan kamar dengan nuansa kayu. Bukan pula kasur empuk yang menjadi alas tidurnya. Ia baru tersadar jika sedang tertidur di ruang tamu rumah Anjani. Mengambil handphone yang ia letakkan di meja untuk melihat pewaktu. Masih pukul 09.13. Tidak terlalu lama ia tertidur rupanya, tetapi itu lebih baik daripada tidak tidur sama sekali. Tubuhnya pun sudah sedikit lega karena otot-ototnya diberikan waktu untuk beristirahat. Arsya meregangkan badannya. Ia tarik ke atas kedua tangannya. Badannya ia putar ke kanan dan ke kiri. Rasanya tubuhnya menjadi lebih enteng. Arsya menar

