Rompang 7

1731 Words
Assalamu’alaikum. Give your vote for this story. Thank you. Happy reading!! Semoga banyak hal yang dapat diambil manfaatnya. Aamiin. Anjani baru saja memarkirkan motor maticnya di samping rumah. Dengan riang ia berjalan menuju pintu utama rumah sambil memutar-mutar kunci motornya yang ia letakkan di jari telunjuk kanannya. Ia melepas flat shoes hitamnya dan ia letakkan di rak sepatu yang ada di dekat pintu setelah mengucap salam. Rumah dalam kondisi sunyi. Sukma pun tidak segera menjawab salam darinya, membuatnya mengernyitkan dahi. “Kemana Ibu? Pintu dibuka, tapi kok Ibu nggak jawab salamku?” gumam Anjani heran. Tidak biasanya ibunya seperti ini. Ibunya pasti akan menutup dan mengunci jendela juga pintu jika bepergian. Apabila pergi sebentar ke toko dekat rumah, setidaknya menutup pintu. Sedangkan saat ini, pintu rumah terbuka lebar. “Assalamu’alikum. Ibu, Anjani pulang,” salam Anjani sedikit berteriak. Sukma sedikit berlari menghampiri Anjani yang baru saja melangkah menjauhi ruang tamu untuk semakin masuk ke dalam rumah. Anjani memandang ibunya heran. “Ada apa, Bu?” Sukma menempelkan jari telunjuknya di depan bibir. “Ssstt.. jangan kenceng-kenceng kalau ngomong,” peringat Sukma dengan suara lirih. Anjani memandang ibunya dengan heran. “Memangnya ada apa, Bu? Ada maling?” tanya Anjani dengan suara pelan. Ia jadi panik. Pikirannya pun menjadi ngawur, ia mengira jika ada maling di rumahnya di siang bolong seperti ini sehingga Sukma memintanya mengecilkan suara. Sukma dengan cepat memukul lengan putrinya. Membuat Anjani mengaduh. “Husstt.. Kamu kalau ngomong jangan ngawur,” peringat Sukma tegas. “Mana ada maling siang-siang begini,” lanjut Sukma. “Ya Ibu ada-ada saja. Jadi kalau nggak ada maling terus ada apa, Bu?” tanya Anjani lagi. Sukma memandang Anjani dengan pandangan merasa bersalah. Sukma pun menarik lengan Anjani. Anjani semakin dibuat bingung. Ia mengikuti langkah ibunya. “Ngapain ke kamar Kak Anjeli, Bu?” Sejak Anjeli meninggalkan rumah ini, tidak ada siapa pun yang menggunakan kamar itu. Kamar itu dibiarkan kosong, sesekali Sukma atau Anjani bergantian membersihkan kamar itu agar selalu bersih, terhindar dari sarang laba-laba dan debu yang menumpuk. Anjani baru saja masuk ke kamar Anjeli. Ia masih berdiri di dekat pintu. Ia memandang ke kasur kakaknya dan ibunya secara bergantian. Ia jadi merasa merinding. “Bu, itu anak siapa?” tanya Anjani dengan takut. Otaknya jadi memikirkan hal-hal horor. Sukma menghembuskan napas pelan. “Itu anak Kakak kamu.” Anjani mengerjap bingung. “Kakak pulang ke sini?” Sukma menggeleng. “Kakakmu menitipkan Putri pada kita.” Anjani tidak paham. Otaknya tiba-tiba berhenti bekerja. “Maksudnya gimana, Bu?” Sukma menarik napas dalam kemudian menghembuskannya pelan. “Kakakmu tadi ke sini sendiri. Dia menitipkan Putri entah sampai kapan. Setelah itu kakakmu pergi. Jadi, Ibu minta agar kamu menerima semua ini,” kata Sukma sambil mengelus pipi cucunya. Sebenarnya, ia tidak siap mendapatkan tatapan kekecewaan dan kemurkaan Anjani sehingga ia lebih memilih memandang cucunya. Amarah seketika menguasai Anjani. Bagaimana bisa ibunya dengan tangan terbuka menerima putri kakaknya itu? Anjani berusaha menguasai diri. Ia boleh saja dikenal sebagai perempuan galak di sekolah, tetapi ia tidak pernah berani membentak ibunya dengan keras. Tidak akan pernah. Boleh saja ia tegas. Namun bukan membentak. Ia masih tahu akan perintah Allah agar tidak menjadi anak durhaka. Anjani mengatur napasnya. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya kemudian ia buang dengan perlahan. Anjani kemudian memilih duduk pada kursi yang diletakkan di dekat pintu. Ia masih ingat sebuah pesan Rasul, “Jika seseorang marah saat sedang berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun, jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud, No. 4782. Al-Hafizh Abu Thair mengatakan bahwa hadits ini shahih). Anjani sudah mulai merasa tenang. Ia pandang ibunya yang tampak memandang putri kakaknya dengan sayang. “Apa alasan Ibu menerima dia?” tanya Anjani dengan nada rendah. “Bagaimana bisa Ibu menerima dia dengan tangan terbuka? Sedangkan Kak Anjeli menjenguk kita saja tidak pernah? Apa yang membuat Ibu dengan rela melakukan ini? Apa Ibu tidak memikirkan Anjani ketika ibu menerima permintaan Kak Anjeli?” cecar Anjani dengan suara yang semakin lama semakin melemah. ‘Andai aku tadi langsung pulang, tidak keluar dengan Nabila, mungkin aku bisa bertemu dengan Kak Anjeli. Akan kuberikan beberapa pesan untuk menyadarkan kelakuan Kakak yang seenaknya sendiri itu!’ batin Anjani kesal. ‘Kenapa kelakuan Kakak semakin ke sini semakin membingungkan? Kehidupan apa yang dia jalani sehingga membuatnya seperti ini?’ Sukma mengalihkan fokusnya menghadap putri bungsunya. “Nduk, meskipun Kakak kamu jauh dari kita setelah perpisahan antara Ibu dan Ayah, dia tetap putri kandung ibu. Dia tetap darah daging ibu. Seorang ibu pasti akan berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya, meskipun Sang Anak telah menikah. Dan ibu tidak dapat menolak permohonan kakakmu. Apalagi sorot mata kakakmu menunjukkan permohonan yang sangat dalam,” jelas Sukma. Sesekali ia mengalihkan pandangannya agar terhindar dari tatapan Anjani. Ia berusaha menyembunyikan alasan yang sebenarnya. Apa yang baru saja ia sampaikan memang benar, tetapi ada hal lain yang ia tutupi. Dan ia merasa, Anjani tidak perlu tahu hal itu untuk saat ini. Anjani tidak mengerti dengan jalan pikiran ibunya. Namun, rasa-rasanya ia tidak mampu berkomentar apa pun. Marah pada Sukma pun tidak benar. Ini salah kakaknya. Putri Anjeli sudah terlanjur di sini. Dititipkan ke orang lain atau lebih parahnya panti asuhan, jelas bukan langkah yang tepat. Maka, mau tak mau Anjani hanya bisa menerima semua itu dengan pasrah. “Namanya Putri Anjayanilea. Panggilannya Putri,” kata Sukma memecah kesemrawutan pikiran Anjani. Anjani ikut memandang pada bayi mungil itu. Dari tempatnya duduk, ia dapat melihat bahwa bayi itu cantik. Kulitnya putih bersih. Hidungnya mancung. Bentuk bibirnya juga indah. Matanya yang menutup tetap memancarkan kecantikan yang pastinya saat besar nanti akan membuat banyak pasang mata jatuh hati padanya. “Kamu bersedia kan menerima Putri untuk tinggal di sini?” Sukma memandang Anjani dengan konstan. Sorot mata Sukma yang teduh juga sarat permohonan, membuat Anjani tidak mampu berkata tidak. “Hem.. Anjani akan berusaha, Bu. Namun, Ibu jangan terlalu berharap bahwa Anjani akan dengan cepat beradaptasi dengan ini semua,” balas Anjani. Sukma mengangguk disertai dengan lengkungan senyum lebar. Ia lega karena Anjani tidak sampai marah dan membuat kekacauan. Ia bersyukur bahwa putrinya semakin dewasa. Putrinya semakin bijak dalam menghadapi takdir yang digariskan. *** Anjani hanya memandang bayi mungil yang sedang asyik dengan dunianya sendiri dari kursi yang berjarak agak jauh dari kasur. Sejak kedatangan bayi kecil itu ke rumah ini, Anjani belum pernah bersedia untuk menggendong Putri. Sesekali ia menggantikan ibunya untuk menjaga Putri yang dipanaskan di pagi hari. Awalnya, ia bahkan merasa risih dan marah ketika di waktu-waktu tertentu Putri menangis kencang. Ingin rasanya ia menyemburkan kekesalannya pada bayi itu. Ingin ia menyalahkan bayi yang tidak berdosa itu. Namun, Sukma dengan sabar akan mengingatkan Anjani dan memberikan pengertian. Dan, ketika hatinya mulai melunak dan dengan legowo menerima kehadiran Putri, ia dengan tangan terbuka menawarkan diri untuk bergantian menjaga Putri meskipun masih sangat kaku dan menjaga jarak. Sukma yang akan menggendong Putri kemudian diletakkan pada kereta dorong bayi. Anjani bersedia jika mendorong kereta itu, tetapi tidak pernah mau memegang bayi menggemaskan itu. Kereta bayi itu akan ia dorong dari kamar Anjeli menuju ke bagian teras rumah yang mendapatkan sinar matahari pagi. Kurang lebih 15-20 menit, Anjani akan menemani Putri. Kemudian ia akan mendorong kereta itu berkeliling di dalam rumah. Terkadang, ia juga mau memegangi botol s**u saat Putri minum. Namun, tetap saja butuh waktu lama bagi Anjani untuk menerima semua itu. Lambat laun, Anjani sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Putri. Dengan lengan yang sedikit kaku, ia mulai menggendong Putri. Sukma tidak pernah memaksa kepada Anjani agar ia dapat menerima Putri dengan cepat. Dan rasa lega Sukma rasakan saat tiba-tiba di suatu pagi, Anjani meminta Sukma membantunya untuk menggendong Putri. Sukma melengkungkan senyumnya lebar kepada putri bungsunya. Masalah s**u yang diminum Putri, dulu saat Anjeli mengantar Putri ke sini, ia sudah membawakan banyak stok ASI yang disimpan dalam pouch khusus ASI. Karena ASI itu diminum Putri, tentu saja stoknya semakin lama semakin menipis. Beruntungnya, Anjeli akan mengirimkan ASI-nya melalui jasa pengiriman barang. Entahlah, Anjani masih tidak habis pikir dengan Anjeli yang datang tiba-tiba pada mereka hanya untuk menitipkan Putri. Sempat terbersit di pikirannya, ‘Apakah Kak Anjeli tidak sayang dengan Putri? Urusan apa yang membuat seorang ibu meninggalkan—bukan tetapi menitipkan bayinya yang baru akan menginjak usia dua bulan kepada nenek dan tantenya? Apa urusan itu lebih penting dari bayi mungil itu?’ [Apa maksud Kakak menitipkan Putri di sini? Dulu saja lebih memilih kehidupan pada dunia baru Kakak. Giliran ada sesuatu yang dibutuhkan baru kembali ke aku dan Ibu. Memang pikiran manusia terkadang susah dipahami, ya!!] Anjani langsung mengirim pesan itu pada Anjeli sore hari saat Putri baru saja dititipkan. Ia hendak mengirimkan kata-kata yang lebih pedas, tetapi ia masih menghormati kakaknya. Dan seperti biasanya, pesan itu tidak dibalas. Dibaca saja tidak. Bukan seperti itu, lebih tepatnya kakaknya menonaktifkan laporan dibaca. Terkadang ia berpikir, mengapa orang-orang menggunakan fitur itu? Apa memang serahasia itukah informasi penerima pesan sudah membaca pesan itu atau belum? Sudahlah, Anjani lama-lama lelah jika memikirkan kakaknya. Seiring bergulirnya waktu, Anjani pun sudah tidak lagi memikirkan alasan kakaknya. Ia lelah. Toh sepertinya Anjeli bodoh amat dengan itu semua. Anjani berusaha belajar menerima Putri. Hingga akhirnya, ia pun sudah luwes menggendong dan memberikan perhatian pada Putri. *** Pagi ini, ia menimang Putri di teras. Kegiatan setiap pagi sebelum berangkat sekolah, ia akan menemani Putri berjemur. “Seandainya ibumu tidak tiba-tiba seperti memutus ikatan persaudaraan, mungkin dari awal kita bertemu, Tante akan sayang sama kamu, Dek,” ucap Anjani sambil sesekali menoel-noel pipi bakpau Putri. Bayi mungil itu seakan mengerti jika sedang diajak berbicara. Matanya yang bening memperhatikan bibir Anjani yang bergerak. Anjani pun dibuat tersenyum lembut. “Namun, pengandaian-pengandaian itu tidak boleh terus Tante ratapi. Katanya akan membuka celah setan.” Seutas senyum lebar ia hadiahkan pada Putri. “Tumbuh dan berkembanglah jadi anak yang sholihah ya, Sayang.” Putri masih memfokuskan pandangannya pada tantenya. Membuat Anjani gemas kemudian ia mendaratkan kecupan-kecupan kecil di pipi dan dahi keponakannya. “Anjani!! Bawa Putri masuk. Sudah siang, kamu harus segera bersiap ke sekolah,” teriak Sukma dari dapur. “Sudah dipanggil sama Nenek. Ayo kita masuk ke dalam,” ajak Anjani dengan berseru senang. Kedatangan Putri mengajarkannya untuk menerima segala takdir yang Allah hadirkan pada hidupnya juga hidup keluarganya. Putri juga mengajarkannya arti sabar juga ikhlas. Dan kehadiran Putri membuatnya mulai dapat melatih diri agar selalu ikhlas dalam menjalani sesuatu, agar apa pun yang ia kerjakan terasa ringan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD