Melihat Aluna yang menatap ke arahnya Wira yang sedang berdiri, dengan segera dia pun menjatuhkan tubuhnya ke atas kursi, membuat wanita tua yang berada di samping terlihat menatap heran ke arahnya.
"Kamu kenapa duduk lagi?" tanyanya dengan penuh kecurigaan.
"Aku memiliki kelainan saraf, kalau berdiri aku bisa namun kalau untuk berjalan aku sangat susah. tapi ngomong-ngomong apakah kaca ini tembus pandang dari atas panggung?"
"Kenapa bertanya seperti itu?"
Yah tidak apa-apa, aku malu dengan keadaanku yang sekarang." Jawab Wira yang selalu dipenuhi dengan kebohongan.
"Ya tidak mungkin terlihatlah, karena kaca ini kaca tidak tembus pandang. lagian suasana di sini gelap Jadi tidak mungkin orang yang berada di atas panggung mengetahui keberadaan kita."
Mendengar penjelasan seperti itu Wira pun terlihat menarik nafas lega, merasa penyamarannya tidak akan diketahui oleh Aluna. di mana Dia sedang mendekati gadis berkursi roda itu dengan mengikuti apa yang sedang dirasakannya.
Lampu yang tadi mati pun kembali dinyalakan, sehingga auditorium itu terlihat kembali terang benderang. setelah memberikan penghormatan kepada para pengunjung para musisi pun mulai meninggalkan panggung untuk beristirahat, Begitu juga dengan Wira yang terlihat meninggalkan ruangan untuk menemui kekasihnya.
"Kalau mau bertemu dan meminta tanda tangan para musisi aku harus menunggu di mana?" Tanya Wira kepada seorang satpam.
"Oh Bapak ini ketemu mereka? Mari saya antar."tawar satpam itu dengan ramah karena mungkin Wira adalah tamu kehormatan.
Wira pun mengikuti satpam itu dengan menggunakan roda elektrik yang bisa berjalan tanpa harus memutarkan rodanya menuju ke salah satu koridor di mana Nanti para musisi yang baru tampil akan keluar di sana. terlihat ada beberapa orang yang menunggu ingin meminta foto atau cenderamata dengan orang-orang yang mereka kagumi.
"Di sini pak, nanti para musisi akan keluar dari sana." jelas satpam itu sambil menunjuk ke arah dalam.
"Terima kasih atas bantuannya."
"Sama-sama Pak, saya mohon izin untuk melanjutkan pekerjaan." ujar satpam itu sambil berlalu pergi meninggalkan Wira bersama kerumunan orang-orang yang sudah ada di tempat menunggu para musisi keluar dari ruangannya, sambil terus bercerita tentang keindahan-keindahan musik yang dimainkan, membuat Wira semakin terkagum-kagum dengan Aluna yang begitu piawai memainkan musik.
"Tidak, aku tidak boleh tertarik dengan wanita cacat sepertinya. aku mau mendekatinya karena kalau aku tidak berhasil membuatnya jatuh cinta. uang sebesar Rp70.000.000 aku akan melayang dibagikan kepada teman-teman yang mengikuti taruhan." gumam Wira yang menepis jauh-jauh perasaan yang hinggap di dalam dirinya.
Lama menunggu akhirnya terdengar suara dari langkah kaki dari arah dalam, diikuti dengan munculnya segerombolan orang yang terlihat menenteng tas berisi alat musik masing-masing. di depannya ada Aluna yang menggerakkan roda kursinya menuju ke luar, orang-orang yang sudah dari tadi menunggu mereka pun berlarian mengajak foto bersama dan meminta tanda tangan, membuat Aluna terlihat disibukan dengan tersenyum ramah melayani semua fans yang mengidolakannya.
Setelah mendapatkan keinginannya, orang-orang yang menunggu pun mulai pergi meninggalkan tempat itu yang membuat Aluna sedikit terkejut tidak menyangka bahwa orang yang sedang mendekatinya berada di pertunjukan.
"Kamu datang mau nonton pertunjukanku?" tanya Aluna dengan sedikit rasa heran.
"Yah, maaf sebelumnya tidak memberitahu terlebih dahulu."
"Tidak apa-apa, terus Dari mana kamu tahu kalau aku akan melakukan pertunjukan musik Simfoni malam ini?"
:Dari mananya kamu tidak perlu tahu, yang jelas aku datang ke sini untuk menemui dan Mengagumimu secara langsung.
Teman-teman Aluna melihat kedekatan mereka berdua saling terlihat melempar senyum dan memberikan kode agar secepatnya pergi meninggalkan tempat itu, memberikan keleluasaan bagi orang yang sedang melakukan PDKT.
"Aluna, kami pamit duluan ya!" soalnya kami capek ingin beristirahat."
"Baik terima kasih atas pertunjukan malam ini, Kalian benar-benar luar biasa."
"Kamu juga sangat luar biasa, Sampai nanti." ujar salah seorang perempuan sambil memeluk memberikan selamat, sedangkan yang laki-laki mereka pun hanya melakukan tos kepalan tangan.
"Oke Bro! kami nitip teman kami karena kami masih memiliki kesibukan yang lain, yang tidak bisa ditinggalkan." ujar salah seorang pria sambil mengedipkan sebelah mata seolah tahu apa yang diinginkan oleh Wira.
"Siap, laksanakan. Terima kasih sudah melakukan pertunjukan dengan begitu luar biasa." jawab Wira dengan mengulum senyum.
Teman-teman Aluna pun mulai pergi meninggalkan Aluna dan wira yang terlihat sedikit ada kekakuan, Entah kenapa pembicaraan yang sudah dirangkai sebelum bertemu tiba-tiba hilang seketika.
"Kamu belum menjawab Dari mana kamu tahu kalau malam ini aku melakukan pertunjukan?" tanya Aluna kembali memecah keheningan.
"Itu masalah gampang, jangankan hanya untuk mencari kapan kamu melakukan pertunjukan, mencari keberadaan kamu aku pasti bisa. kalau pun tidak aku akan berjuang sekuat tenaga."
"Kok bisa seperti itu?"
"Yah itulah perjuangan." Jawab Wira dengan wajah serius.
"Perjuangan untuk apa?" selidik Aluna yang terlihat semakin penasaran bola mata yang indah memenuhi wajah orang yang berada di hadapannya.
"Nanti juga kamu akan mengetahui, sekarang Bolehkah aku meminta foto denganmu?" Jawab Wira yang biasanya sangat mudah mengungkapkan perasaan cinta kepada wanita yang baru ia temui namun ketika bertemu dengan Aluna Dia terlihat sangat berhati-hati.
"Untuk apa? Jangan gitu deh! aku jadi minder," ujar Aluna yang seketika wajahnya berubah memerah seperti tomat.
"Kenapa minder Aku fans beratmu, Aku juga ingin memasang foto kita berdua di dalam kamar, di atas kepala. supaya ketika aku bangun aku memiliki motivasi lebih untuk menjalani hari yang penuh perjuangan.
"Kamu tidak malu meminta foto dengan orang sepertiku?" tanya Aluna yang seketika kepercayaan dirinya hilang entah mengapa jantungnya pun mulai berdegup sedikit kencang.
"Kenapa harus malu. Malam ini kamu terlihat sangat cantik dan mempesona, Aku tidak ingin membuang momen ini menjadi momen terindah dalam hidupku." ujar Wira sambil menekan tombol kursi untuk mendekat ke arah alunan, membuat Gadis itu semakin kikuk hanya bisa menundukkan kepala tidak berani beradu tetap dengan pria yang begitu kharismatik.
Wira pun terus melaju sampai kursi rodanya berada di samping Aluna, namun mereka berlawanan arah Wira menghadap ke arah belakang sedangkan Aluna menghadap ke arah depan.
"Sebentar, aku ambil handphonenya terlebih dahulu." ujar Wira sambil merogoh kantung jas yang dikenakan kemudian mengeluarkan handphone lalu mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala.
Ciss.....!
Wira pun memberikan aba-aba ketika Aruna menatap ke arah handphonenya, dengan segera Wira pun menekan tombol untuk mengambil gambar, setelah itu Dia pun melihat hasilnya tidak puas dengan satu kali jepretan Wira pun mengulangnya sampai dua kali.
"Kamu benar-benar sangat cantik malam ini." Puji Wira setelah mengetahui hasil jepretan kamera handphonenya.
"Ah kamu terlalu pandai membuat orang melambung tinggi, jangan seperti itu kalau niatnya untuk dihempaskan kembali."
"Kamu yang selalu mengajarkan bahwa kita tidak boleh memiliki prasangka buruk kepada orang lain, sikap kita harus tetap optimis jangan pesimis."
"Pintar juga kamu membalikkan kata-kata." jawab Aluna yang sudah mulai kembali menguasai keadaan.
"Kata-kataku tidak Sepandai ketika kamu memainkan biola, sampai aku merasa terhipnotis dan terhanyut dalam setiap gesekan-gesekan yang kamu mainkan.
"Terima kasih, Apakah kamu mau ikut bergabung dengan kami?"