Diner Dengan Idola

1082 Words
Wira dan Aluna pun meneguk anggur yang ada di dalam gelas, sambil menatap wajah masing-masing seolah ingin mendalami dan memahami perasaan yang tersirat dari tatapan yang diberikan. "Sebenarnya kita bersulang untuk apa?" tanya Aluna dengan meletakkan kembali gelas ke atas meja. "Bersulang untuk merayakan keberhasilanmu yang sudah membuat para penonton terpaku dengan pertunjukan yang begitu memukau.c "Ah itu kayaknya terlalu berlebihan. Mana mungkin kamu merasa bahagia ketika aku berhasil menggapai suatu impian, karena kita tidak memiliki hubungan apapun." "Walaupun kita tidak memiliki hubungan spesial, namun aku merasa bahagia dan motivasiku berlipat ganda saat bertemu mengobrol seperti sekarang." "Apakah yang kamu ucapkan sekarang itu adalah kebenaran?" tanya Aluna yang kembali mengambil gelas anggur lalu mendengkurnya satu kali tegukan. "Aku tidak pernah berbohong dengan orang lain. Lihatlah karirku sekarang yang begitu Cemerlang. Meski aku berada dari atas kursi roda banyak orang-orang yang mempercayaiku sebagai CEO sebuah perusahaan. itu menunjukkan aku bukanlah orang yang pandai berbohong," jawab Wira yang selalu bangga dengan apa yang ia gapai, meski lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja namun dia bisa memiliki perusahaan yang begitu besar. "Terima kasih kalau begitu. Semoga saja apa yang kamu ucapkan tulus dari dalam hati." "Untuk persahabatan yang lebih dekat!" ujar Wira sambil mengangkat kembali gelasnya kemudian diadukan dengan gelas milik Aluna. "Sebenarnya apa yang kamu inginkan, sampai-sampai kamu menyempatkan diri untuk menemuiku di sini?" tanya Aluna dengan wajah serius. "Tidak ada yang kuinginkan, Aku hanya ingin mengenalmu lebih dekat lebih, saling memahami satu sama lain." "Mengenal lebih dekat, untuk?" tanya Aluna tatapannya memenuhi wajah Wira. "Untuk lebih dekat dan siapa tahu saja kamu merasa cocok denganku. dan Itupun kalau kamu memperbolehkan, Kalau tidak aku mungkin hanya bisa menangis di kamar mandi." jawab Wira membuat Aluna terlihat mengulum senyum, merasa lucu dengan apa yang diucapkan. Gadis berkursi roda itu, ketika tersenyum membuat Wira semakin betah menatapnya. sampai dia tidak sadar kalau tangannya menekan salah satu tombol kursi roda. hingga akhirnya kursi itu meluncur ke belakang. Wira lupa kalau kursi roda yang ia duduki adalah kursi roda elektrik yang masih berjalan menggunakan baterai. Bruk! Kursi roda itu menabrak kursi yang berada di belakangnya, sampai orang yang sedang duduk menikmati makanan terdorong ke atas meja. membuat Wira sedikit panik dengan segera dia pun menekan kembali kursi rodanya untuk maju kedepan. sampai akhirnya dia pun mendorong meja yang berada di di depannya, membuat Aluna yang lupa mengunci kursinya terdorong ke belakang . Brugh! Kursi roda Aluna pun menabrak kursi yang berada di belakangnya, membuat orang yang sedang makan terlihat menatap kesal ke arah Wirq, karena mungkin sudah mengganggu kenyamanannya ketika menyantap makanan. "Aduh, sialan bukannya membantu mempermudah pekerjaan, malah membuatku semakin repot. dasar kursi roda sialan!" gumam Wira dalam hati sambil mematikan tombol kursi rodanya. Para waiter yang melihat kekacauan itu dengan segera Mereka pun membantu Wira dan Aluna, untuk memposisikan kembali kursi roda masing-masing. "Mohon maaf, mohon maaf...! ini bukan kesengajaan ini adalah kecelakaan." ujar Wira kepada kedua orang yang terganggu. Mereka berdua tidak menjawab hanya mendengus kesal melihat kelakuan yang ditimbulkan orang disabilitas itu namun setelah Aluna yang meminta maaf mereka melanjutkan kembali acara makan bersama keluarganya tanpa mempedulikan lagi Wira dan pasangannya. Gelas yang jatuh diberpihkan oleh waiter, kemudian diganti dengan gelas yang baru bahkan minumannya diisi ulang kembali. "Sudah dimatikan Pak, tombol on off-nya?" tanya waiter untuk memastikan kenyamanan para pengunjung. "Sudah Pak, sudah. kalau tidak percaya nih Lihat!" jawab Wira sambil menekan tombol-tombol yang berada di dekat tangannya, namun kursi roda itu tidak melaju karena Wira sudah mematikan mesinnya. "Maaf atas kekacauan yang aku buat." Ujar Wira sambil menatap kembali ke arah pasangannya, wajahnya dipenuhi dengan raut penyesalan. "Tidak apa-apa, Lagian Kenapa kamu memakai kursi roda elektrik, Biasanya juga kamu memakai kursi roda yang tanpa menggunakan baterai." "Tadinya aku ingin memanfaatkan teknologi yang semakin canggih, namun bukannya semakin memudahkan pekerjaan, yang ada bisa kamu lihat kejadian seperti Barusan. aku merasa malu dengan tindakan bodohku." "Tidak apa-apa, tidak harus malu karena itu bukan kesengajaan dan kita berada di atas kursi roda bukan keinginan masing-masing, melainkan ini sudah ditakdirkan oleh sang pencipta." jawab Aluna yang terus memotivasi. "Itulah yang aku kangenin dari kamu yang selalu memberi semangat ketika aku terpuruk, bukan menyalahkan yang membuat mental seseorang semakin Down." "Yah aku tahu, karena aku pernah merasakan Berada di posisi itu, di mana semua kesalahan ditujukan kepadaku, karena aku mengemudi mobil dengan begitu ugal-ugalan. namun selalu ada keluarga yang selalu memotivasi dan mendukungku sepenuh hati, mereka tidak menyalahkanku namun Mereka menerima semuanya dengan lapang dada." "Beruntung bagi orang-orang yang masih memiliki keluarga yang lengkap, yang tidak ada pernah terpisah oleh apapun, mereka akan terus mendapatkan dukungan secara penuh baik dari ayah ataupun ibu." jawab Wira yang terlihat raut wajahnya seketika berubah mengingat kembali ke kejadian yang ia lalui, di mana dia menjadi korban dari broken home orang tuanya yang bercerai. Ketika Aluna mau menanggapi ungkapan Wira seorang waiter pun datang dengan membawa pesanan mereka masing-masing, hingga obrolan pun terhenti sesaat ketika mereka menikmati makanan yang dipesan. Suasana di restoran nampak itu terasa begitu nyaman, suara piano yang dimainkan terdengar begitu lembut membuat para pengunjung semakin betah berlama-lama di sana. bukan hanya dari pelayanan melainkan dari makanan-makanan yang mereka nikmati memang benar-benar memberikan sensasi kelezatan yang begitu luar biasa. "Kamu sangat cantik sekali Aluna. Kalau kamu tidak duduk di kursi roda, mungkin akan banyak pria yang akan berlomba-lomba untuk mendapatkan cintamu. mungkin aku juga akan termasuk di dalamnya." umpat Wira di dalam hati matanya sesekali menatap lekat ke wajah Aluna yang terlihat begitu manis, apalagi ketika tersenyum tipis membuat dunia Wira terasa teralihkan. "Kamu kenapa menatapku seperti itu?" tanya Aluna yang sadar kalau dirinya menjadi bahan perhatian. "Tidak apa-apa, Kamu sangat cantik malam ini. apalagi gaunmu sangat indah semakin menambah Pesonamu." Puji Wira dengan kejujuran hatinya. "Bagian tubuh yang mana, yang menurutmu lebih cantik dari diriku?" tanya Aluna yang terlihat berani seolah menantang ingin mendapat pujian yang lebih dari Wira, mungkin anggur yang ia Minum sedikit mempengaruhi Jalan pikirannya "Wajahmu sangat cantik tubuhmu juga mulus dan putih, apalagi kalau kamu sedang tersenyum memamerkan gigi-gigi yang berbaris rapi membuat laki-laki akan terbang melayang ingin memilikimu." Puji Wira dengan sesungguhnya, karena memang begitulah kenyataannya. Aluna yang memiliki tubuh yang sangat bagus dipadukan dengan wajahnya yang sangat cantik, membuatnya tidak memiliki celah sedikitpun kalau dia tidak duduk di kursi roda. "Hehehe itu terlalu umum yang aku dengar pujian dari seorang laki-laki. Apa kamu tahu bahwa ada yang lebih indah dari semua yang kamu lihat sekarang?" tanya Aluna yang kembali mengambil gelas anggurnya membuatnya semakin merasa nyaman untuk berbicara yang lebih menantang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD