Pagi di Kota Jakarta, jalanan terbangun dari kesejukan malamnya. Suara klakson kendaraan bercampur dengan deru langkah pejalan kaki yang bergegas menuju tujuan masing-masing. Lampu-lampu lalu lintas bersinar terang, menciptakan jaringan cahaya yang membelah kegelapan. Di sudut-sudut jalan, warung-warung kaki lima mulai beraktivitas, menyebarkan aroma kopi dan nasi uduk ditambah gorengan yang menggoda. Meskipun kesibukan sudah dimulai, kekacauan lalu lintas yang biasa belum sepenuhnya menyelimuti kota ini di awal pagi.
Pohon-pohon di tepi trotoar menyapa matahari pagi dengan daun-daun yang berkilau, memberikan sejuk tersendiri di tengah hiruk-pikuk perkotaan. Para pekerja kantoran berdandan rapi, berjalan tergesa-gesa dengan tas dan laptop mereka. Di sudut jalan, pedagang keliling mulai membuka lapak dagangan, menata buah segar dan camilan untuk menarik perhatian pejalan kaki.
Namun, di balik ketenangan pagi, napas kemacetan mulai terasa. Lalu lintas bertambah padat, dan kebisingan kota Jakarta pun merayap perlahan. Meskipun begitu, pagi ini tetap menjadi waktu yang istimewa di mana harapan baru bergelayut di setiap sudut, menandakan awal perjalanan sehari yang penuh dengan cerita.
Wira terus mengendarai mobilnya menuju ke salah satu tempat untuk meminta tolong temannya yang bernama Andi
hatinya diselimuti rasa khawatir takut sahabatnya sudah pergi ke kantor atau mengantar anaknya, karena kalau hal itu terjadi. maka seharian ini dia akan menanggung rasa malu tidak bisa keluar dari mobil dan tidak bisa menghubungi siapapun.
Tin! Tin! tin!
Suara klakson dibunyikan karena Wira tidak tahu dengan cara apa lagi Dia harus memanggil sahabatnya, kalau dia keluar takut bertemu dengan istri atau anak sahabatnya, ataupun tetangga yang tinggal di sekitaran.
Tin, tin, tin.....
Wira memainkan klakson seperti orang yang baru pertama kali memiliki mobil, membuat para tetangga yang berdekatan dengan rumah Andi, sedikit merasa kesal kemudian mengintip dari balik pintu gerbang, ada juga yang keluar, bahkan terlihat ada yang sudah menghampiri. Beruntung Andi yang sudah selesai sarapan dan bersiap mengantar anaknya ke sekolah dia pun keluar.
Awalnya dia merasa heran kenapa atasannya datang ke rumah, karena walaupun ada acara keluarga dan wira diundang, dia tidak pernah datang dia hanya menitipkan salam ataupun selamat sama bawahannya.
"Sini!" Panggil Wira sambil mengeluarkan kepalanya sedikit.
"Ada apa sih, pagi-pagi sudah ganggu ketenangan orang aja, mentang-mentang punya mobil bagus seenaknya memainkan klakson." jawab Andi sambil menghampiri.
"Jangan marah-marah dulu, Tolong buka pintu gerbangnya! Soalnya ini urgent banget."
Dengan sedikit wajah kesal Andi pun membuka pintu gerbang, sehingga mobil Wira bisa masuk ke dalam halamannya yang cukup untuk 2 mobil. Andi tidak langsung masuk ke dalam dia menemui beberapa tetangganya untuk meminta maaf atas kebisingan yang ditimbulkan oleh sahabatnya, dan dia menjelaskan bahwa Wira sedikit terkena gangguan mental.
"Ada apa sih, pagi-pagi sudah datang ke sini sambil menimbulkan kericuhan." Ungkap Andi yang melihat Wira masih belum keluar.
"Tolong ambilkan gua baju, atau kalau nggak handuk, yang penting gua nggak seperti ini."
"Emang kenapa?" tanya Andi yang belum mengetahui.
Wira pun memperlebar kaca jendela mobilnya sehingga tawa Andi pun meledak, ketika melihat teman sekaligus atasannya tidak memakai baju, dia hanya memakai kolor dan sepatu tanpa memakai kaos kaki. Andi terus menertawakan kelakuan sahabatnya yang kadang nyeleneh seperti itu.
"Eh, kamu malah tertawa, buruan ambilin apa kek. handuk atau apa." gerutu Wira sambil menutup dadanya menggunakan tangan.
"Kenapa Pak Bos sampai seperti ini, dikejar hansip ya?"
"Buruan jangan meledek deh, ini keadaannya sangat urgen." pinta Wira dengan wajah yang kesal namun dia tidak bisa berbuat banyak karena keadaan yang sedang tidak memungkinkan untuk berdebat.
"Ceritakan dulu kenapa sampai begini, pasti dikejar hansip."
"Ya sudah kalau kamu nggak mau meminjamkan baju, aku keluar masuk ke rumah, nanti Istri dan anakmu melihat bisa-bisa mereka tertarik dengan tubuh atletisku." ujar Wira sambil membuka pintu mobil namun dengan segera Andi pun menahan.
"Tenang, tenang Bro, sebentar!" ujar Andi yang masih terkekeh kemudian dia pun masuk ke dalam rumah, Tak lama dia pun kembali sambil membawa handuk kimono agar Wira mudah mengenakannya.
Tanpa membuang waktu, wira memakai kimono itu kemudian dia pun keluar dari mobilnya. Dia merasa lega karena tubuhnya bisa tertutup, memang dia sangat senang memamerkan badannya yang kekar dan berotot namun bukan untuk khalayak umum, melainkan untuk wanita yang menginginkan tubuhnya.
"Pinjamin gua baju kamu, masa gua pulang mengenakan pakaian seperti ini?" ujar Wira sambil memindai keadaan tubuhnya yang terlihat masih acak-acakan.
"Yah, iya. Lagian Kenapa kamu bisa sampai telanjang seperti ini?"
"Nanti aku ceritakan, sekarang pinjamkan aku baju."
"Ya sudah, ayo masuk!" ajak Andi yang selalu membereskan kekacauan yang ditimbulkan oleh sahabatnya.
Mereka berdua pun berjalan menuju ke rumah kemudian masuk ke dalam kamar ruang tamu, tak lama Andi yang mengambilkan baju datang sambil memberikan kepada Wira, meski baju Andi tidak bermerek seperti apa yang sering Wira kenakan, namun itu cukup untuk menutupi bagian tubuhnya.
"Ada Pak Wira, Ayo sarapan Pak!" Ajak istri Andi ketika melihat Wira datang menghampiri kemeja makan.
"Dia nggak akan suka makanan seperti ini, dia lebih suka sandwich berisi telur mentah." ujar Andi mencibir.
Tanpa menunjukkan wajah yang penuh dosa, Wira pun duduk kemudian mengambil roti lalu mengoleskan sandwich dan melipat roti kemudian dimasukkan ke dalam mulut. istri Andi sangat tahu bahwa sahabat dari suaminya Memang begitulah keadaannya, kadang kalau tidak mengerti dengan sikapnya orang akan sakit hati dengan semena-mena dan apa yang dimiliki dia sekarang.
"Mau pulang kapan?" tanya Andi setelah selesai sarapan bersama keluarga.
"Wah parah lu Di, masa sahabat yang jarang berkunjung ke rumah, lu usir begitu saja." Jawab Wira sedikit mendengkur.
"Iya Lu enak, lu mau datang jam berapa pun ke kantor pasti tidak akan ada yang memarahi. berbeda dengan gua, yang kalau telat pasti loh ngomel-ngomel seperti emak-emak yang kalah menawar jualan."
"Nggak, hari ini gua bebasin lu, tapi Temenin gua ya."
"Temenin apa, gua harus ngantar anak sekolah."
"Kan ada istrimu, sesekali nggak apa-apa kalau dia yang ngantar." jawab Wira sambil melirik ke arah istrinya yang sedang merapikan bekas sarapan.
"Halah, kamu merepotkan aja." dengus Andi namun dia tidak bisa berbuat banyak karena keinginan Wira adalah perintah.
"Jangan marah-marah, nanti cepat tua loh!"
"Emang kenapa sih sampai pagi-pagi gini sudah ada di rumahku, dan kenapa kamu telanjang. kamu tidak bayar di klub malam ya, sehingga kamu digunduli seperti itu?" ujar Andi sambil memindai keadaan sekitar takut anaknya mendengar apa yang ia tanyakan.
"Enak aja, uang gua banyak. kalau dipakai hiburan ke klub malam mungkin satu abad uang gua baru habis."
"Terus kenapa kamu bisa seperti ini?"
"Nanti aja aku ceritakan setelah anakmu pergi, Soalnya ini agak sensitif."