Setelah melihat jam, Wira terdiam sesaat mengingat-ingat kembali apa yang harus dikerjakan waktu itu. sehingga dia pun teringat bahwa dia sudah memiliki janji dengan Aluna. tanpa membuang waktu Wira pun bangkit kemudian mencuci muka di kamar mandi, setelah itu dia kembali mengenakan pakaian yang berserakan di samping kasur busa.
"Terima kasih sudah membangunkanku, aku harus secepatnya pulang karena hari ini ada meeting penting dikantir." ujar Wira setelah mengenakan seluruh pakaiannya.
"Iya sama-sama, tapi kamu tidak boleh lupa dengan janjimu."
"Janji apa?" tanya Wira yang terlihat mengerutkan dahi layaknya pria b******k yang selalu menciptakan wanita setelah dia pakai.
"Kok Kak Arfan sudah melupakan janji yang baru semalam diucapkan. apa jangan-jangan Kak Arfan hanya mempermainkanku?" tanya Clarissa yang matanya mulai mengembun dipenuhi kesedihan.
"Aku tidak akan lupa dengan apa yang sudah aku ucapkan, aku secepatnya akan menemui orang tuamu. tapi untuk sekarang izinkan aku untuk pulang dan bekerja terlebih dahulu."
"Baik kak, aku akan selalu menunggu waktu Bahagia itu tiba.:
"Ya sudah sekarang aku harus benar-benar pergi, takut aku kesiangan dan kita jangan berhenti berkomunikasi, soalnya kita harus terus membahas acara lamaran kita."
"Iya Kak, Baiklah kalau begitu hati-hati di jalan!
Wira pun terlihat mengulum senyum, kemudian mendaratkan satu ciuman di kening Clarissa. setelah itu dengan buru-buru dia pun keluar dari kosan menuju mobilnya yang terparkir di halaman. tanpa membuang waktu dengan segera Wira pun pergi meninggalkan Clarissa yang masih terlihat cemas dengan janji-janji yang diucapkannya.
Setelah agak jauh meninggalkan rumah Clarissa, Wira berhenti di tepian jalan kemudian mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Lisa, karena perintah yang kemarin belum sempat dijelaskan dengan begitu rinci.
"Ada apa lagi, pagi-pagi sudah menelpon?" tanya Lisa seperti biasa dengan nada ketusnya seolah tidak menghormati sang atasan.
"Kenapa kamu marah-marah sepagi ini, apakah suamimu tidak memberikan jatah semalam?"
"Kalau ngomong mulut itu dijaga, jangan asal nyeplos seperti orang yang tidak pernah memakan bangku sekolah."
"Woi Siapa juga yang mau makan kayu, Meski dulu aku orang yang kekurangan tapi aku tidak sebodoh itu dengan memakan bangku sekolah, karena aku masih bisa dan doyan makan nasi." jawab Wira yang tidak pernah mau kalah ketika berdebat.
"Susah ngomong dengan orang egois sepertimu, Kenapa nelepon pagi-pagi?"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin mengingatkan bahwa hari ini sebelum berangkat ke kantor kamu harus mampir ke rumahku dulu.
"Mau ngapain? Itu bukan job desk yang harus aku kerjakan."
"Memang itu bukan pekerjaanmu, tapi itu adalah kesalahanmu yang tidak becus Mencari kursi roda, sehingga aku harus menggunakan kursi orang lain.
"Maksudnya?" tanya Lisa yang semakin tidak paham.
"Kenapa kamu membawakanku kursi roda yang Sudah usang dan sangat jelek, sehingga rodanya macet tidak bisa digerakkan."
"Itu kesalahanmu, Kenapa kamu menyuruhku Mencari kursi roda yang Sudah usang. Aku mau memberikan saran untuk membeli kursi roda yang baru tapi kamu menolak. itu bukan kesalahanku Tapi itu adalah kesalahanmu."
"Iya, iya aku yang salah, tapi aku mau minta tolong sama kamu."
"Maaf aku tidak bisa, aku banyak urusan pagi ini."
"Tolonglah Lisa aku bingung harus minta tolong sama siapa lagi. mau meminta tolong sama Andi aku tidak enak karena terlalu sering merepotkannya. satu-satunya harapan orang yang bisa menolongku hanyalah kamu." seperti biasa Wira pun mengeluarkan jurus memelasnya agar mendapat bantuan dari staf kerjanya.
"Pokoknya aku tidak mau bantu."
"Tolonglah, tolong! nanti akan aku usahakan cuti yang panjang, supaya kamu bisa liburan dengan keluarga." Pinta Wira yang terdengar semakin melas.
"Yang benar? aku sudah tidak percaya dengan kata-kata manis namun tidak ada buktinya." tanya Lisa yang mulai tertarik dengan penawaran yang diberikan.
"Kapan aku berbohong masalah pekerjaan kepada kamu."
Mendengar perkataan Wira, Lisa pun terdiam karena apa yang diucapkan oleh atasannya memang benar begitulah adanya. Wira tidak pernah berbohong dalam pekerjaan hanya satu kekurangannya dia selalu membohongi wanita-wanita yang ia temui.
"Please Tolonglah....!" rengek Wira untuk kesekian kalinya, seperti anak kecil yang meminta jajan kepada orang tua.
"Baiklah, tapi janji cuti panjang Ketika nanti anakku libur sekolah."
"Siap, bahkan kalau kamu mau bonus akhir tahun bisa kamu ambil dari sekarang."
"Sudah jangan kebanyakan janji nanti kebingungan kalau mau menepatinya apa yang kamu butuhkan dariku?"
"Sebelumnya aku ucapkan terima kasih. begini Lisa, kemarin kan kamu membawakanku kursi roda yang sangat jelek dan sudah rusak, sehingga Aku harus meminjam kursi roda milik Aluna. Untuk itu hari ini kamu harus mengembalikannya dan jangan lupa kamu beli bucket bunga mawar yang besar sebagai ucapan terima kasihku dan Sampaikan salam kepadanya."
"Tidak aku tidak mau kalau berhubungan dengan Aluna. Apakah kamu tidak tega melihat kekurangannya, terus kamu mau mendekati untuk dimanfaatkan, untuk disakiti hatinya. Kamu benar-benar pria yang sangat b******k yang tidak memiliki hati, sampai-sampai wanita cacat seperti itu Kamu hendak permainkan."
"Aku tidak ada niat mempermainkan setiap perempuan yang aku temui, aku hanya ingin mengenalnya lebih dekat sebelum aku melanjutkan ke jenjang yang lebih serius."
"Kalau kamu memiliki tujuan seperti itu, Tidak sepantasnya kamu menggauli wanita-wanita yang kamu temui, kamu hanya cukup berbicara dan mengobrol, itu sudah cukup untuk mengenal satu sama lain." nasehat Lisa yang selalu di lontarkan ketika berbicara dengan Wira, namun pria yang Hatinya sudah mengeras seperti batu dia seperti tidak mempedulikan.
"Iya aku sudah berhenti melakukan hal seperti itu, makanya kalau kamu tidak percaya kamu tanya sama Luna, Apakah aku sudah berbuat yang tidak pantas dengannya, atau belum? karena aku benar-benar tulus mencintainya."
"Kamu tidak sedang berbohong kan?"
"Tidak aku sedang tidak berbohong, maka tolonglah aku supaya Aluna bisa mencintaiku." jawab Wira yang memelankan intonasi suara, seolah perkataannya sangat serius dan pantas untuk didengarkan.
Mendengar keseriusan ucapan Wira, hati Lisa pun mulai terketuk sehingga dia akan membantu atasannya untuk menemukan cinta sejati, agar dia tidak selalu bermain-main dengan perempuan.
"Apa ucapanmu benar-benar tulus dari dalam hati?:
"Aku sedang mencobanya, jadi tolong bantu aku untuk berubah menjadi lebih baik."
"Kalau kamu serius, Baiklah aku akan membantumu. di mana kursi roda yang harus aku kembalikan, dan harus ke mana aku antarkan?"
"Di rumahku, kamu ambil saja ke rumah karena aku sedang berlari pagi. jangan lupa belikan terlebih dahulu bucket bunga mawar merah yang besar, jangan yang kecil dan sampaikan permintaan maaf Bu tidak bisa menemuinya."
"Ya sudah, aku akan berangkat ke rumahmu sekarang."
Telepon pun terputus dengan segera Wira pun mengetikkan Nominal uang untuk membelikan Aluna seikat Bunga mawar merah bunga yang disukai oleh gadis lumpuh itu, kemudian mengirimkan alamat rumah Aluna. Sedangkan Lisa yang sudah bersiap berangkat dengan segera dia pun pergi ke mobilnya, kemudian meninggalkan rumah untuk pergi mengambil kursi roda.
Sesampainya di apartemen dan ketika pintu pun terbuka, Betapa terkejutnya Lisa karena di apartemen atasannya ada seorang wanita yang sedang dijamu oleh asisten rumah tangga yang bertugas membersihkan rumah. kesal, marah, merasa dibodohi bercampur menjadi satu. giginya mengerat mengeluarkan suara, tangannya mengepal. membuat Cindy menatap Aneh ke arah wanita yang baru datang.