Empat puluh dua~

1240 Words

Setelah mendapat laporan dari sang asisten, Ozkhan bergegas mengakhiri panggilan. 'Ke mana Shanum?' Benak Ozkhan bertanya-tanya, dengan pandangan kosong ke segala arah. Berusaha tetap tenang kendati pikirannya kalut bukan main. Sementara perhatian ketiga orang di hadapan masih tertuju pada Ozkhan. Mereka memandang penuh pertanyaan. Numa memilih mendekat, dan bertanya lebih dahulu. "Ada apa, Sayang? Siapa yang menelepon?" "Emir." Ozkhan menjawab singkat. "Emir asistenmu?" sambung Hakkan. Ozkhan mengangguk. Kepikiran Shanum membuat d**a pria itu terasa sesak, dan lantas mengendurkan lilitan dasi yang terasa mencekik. "Memang dia bilang apa?" tanya Hakkan lagi. "Dia tidak bisa menghubungi Shanum," kata Ozkhan. Sepasang alis Hakkan naik, merasa asing dengan nama tersebut. "Shanum? Si

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD