Lunetta kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku, dan tidak memperdulikan isi pesan tersebut. Lalu kembali menemui Gerhan yang sedang menunggunya. “Ngapain sendoknya diliatin terus?” tanya Lunetta “Iya benar, benda ini nggak bisa buat potong daging” ucap Gerhan. Lunetta hanya tertawa kecil. “Nih pake ini” ucap Lunetta lalu ia menyerahkan pisau kepada Gerhan. Mereka pun mulai menikmati hidangan makan malam yang disiapkan oleh Gerhan. “Oh iya, kira-kira kamu bisa nyiapin satu porsi lagi ngga? Saya pengen ajak Kak Ryan makan malem disini. Saya udah janji. Rumah dia masih satu perumahan jadi pasti datangnya cepet” “Bisa. Tapi saya tidak mau” “Loh kenapa?” “Saya maunya cuma berduan sama Luna” Lunetta terdiam, pipinya memerah. Ia berusaha tidak salah tingkah dan

