Drama Berangkat Sekolah

2730 Words
Terlihat Cewek berhijab panjang pake cadar item vibes mysterious gitu , ngeluarin napas berat kayak abis lari marathon. Udah dari tadi dia try hard ngikat tali sepatu, tapi skill issue parah—hasilnya tetep ga nongol-nongol juga. Perutnya yang sekarang gendut level over bikin gerak-geriknya kayak slow motion. Mood swing dah, pengen nangis campur gemes! Plot twist: dia malem nge-stroke perutnya sambil berbisik, "Nak, sehat-sehat ya di dalam," cue baper moment. Tapi tetep aja stubborn mode on, nyoba flex buat bungkukin badan. Eh, fail again. "Bismillah..." dia bergumam, hopium masih nyala. Tiba-tiba background music romantis nongol. "Eh, eh. Mau ngapain?" Suara cowok deep voice nge-gas dari belakang. Si cewek look up—langsung speechless. Di depannya ada oppa ganteng kayak Prince turun dari feed i********:. Cringe dikit, tapi yaelah ini visual feast! Without wasting time, si cowok sokin jongkok di depan ceweknya. Tangannya gercep ngatur tali sepatu kayak pro player. "*Done!" dia stand up sambil casual ngacak-ngacak kepala cewek. "Lain kali, kalo butuh sesuatu bilang aja. Princess tidak boleh kecapean," *ucapnya with prince charming effect. Si cewek langsung blushing 500%, muka merah kayak tomat. "Hm, manis sekali!" reply-nya sambil gigit jari. ___ BRUKKKK!!! Tiba-tiba tubuhnya nge-drop kayak meteor glitch dari kasur. "Aduh! Astagfirullah!" Screaming sambil megang p****t. Badan rasanya kayak abis kena tinju superhero. Ternyata... itu cuma dream sequence! Reality check: dia loncat dari kasur ke lantai with zero grace. Cold floor vs body slam—ouch, that's gotta hurt! Cewek itu ngangkang bangun sambil pegangin pinggang yang fresh abis kena smash Sama lantai. Rambut panjangnya kayak sarang burung—literally kayak bad hairday level 100. Piyama Hello Kitty-nya udah kayak kertas bekas lipat origami. Dia ngesot ke meja rias sambil menguap ala sloth. "Hoaamm…" sambil nge-zoom mata yang masih pada nempel. "What kind of multiverse dream was that?" dia self-talk sambil muka bengong. "Aneh banget, masak aku hamil," lanjutnya sambil ketawa awkward kayak orang lagu t****k yang nggak lucu. "Dan cowok ganteng tadi… Eh, itu bukan si Badboy sekolah?" Plot twist! Mukanya langsung mode: shocked Pikachu. "Astagfirullahalazim!" Self-awareness mode nyala. BAM! Jump scare dari luar: "Rati…! Rativa Dilona!" Teriakan volume maksimal ala emak-emak. "Eh iya Bunda!!" responnya sambil kaget kayak ketabrak ghost. Yoi, MC kita ini namanya adalah Rativa Dilona alias Rati—nickname yang sound-nya kayak characters drama Korea. Flashback ke kasur yang berantakan kayak kapal pecah, Rati ngakak sendiri. "Aku nggak anggun banget tidurnya." Vibe-nya* kayak konten YouTube 'Prank Tidur Bikin Malu check'. Dia nyeret kaki ke meja yang ada jam weker—eh, pas liat jarum jam nunjukin 06:37, mata melek instan! "Setengah tujuh lewat?!" Inner monologue-nya panik level final boss. Action mode on: mukul kepala softly, gigit kuku alay, jalan zig-zag kayak lagi dance challenge tapi gagal. "Prioritas apa dulu nih?" Overthink 101. "Mandi? Nope, ribet!" Decision-making-nya cepat kayak swipe left. "Cuci muka aja, trus gaspol ke sekolah!" Final answer dengan muka pasrah. Vibe-nya kayak anak kos yang telat UTS ☺️. Rati sprint ke kamar mandi kaya dikejar zombie. Focus? Nope—matanya zonk ke mana-mana. Plot twist: kaki tiba-tiba nge-slip gegara menginjak kelereng yang nyebar random di lantai kayak treasure map. "Astagfirullah!" scream-nya sambil ancang-ancang kayang di lantai. Mata diempetin, nungguin impact, 1... 2... 3... THUD! Tapi landing-nya ga kena lantai—plot armor activated! 👻 "Aneh…" gumamnya - mata masih merem. "Udah 3 detik, kok keramiknya ga keras-dingin?" Sensor baper nyala. "Hmm, rasanya kayak landing di marshmallow. Wait—itu apaan?" Pelan-pelan buka mata ala slowmo. **BAM**—mata Rati melek lebar. "Bunda." Smirk ala anak manja keluar. Posisinya ternyata ada di pelukan Hera, emaknya. SOS—si Bunda heroic mode nyelamatin Rati dari drama jatuh. "Astagfirullah, Nak, kamu tuh Ceroboh banget sih!" dengus Hera sambil facepalm. Rati bangun kayak kecoak kebangunin pakai sapu. "Maaf, Bun! Rati buru-buru…" alibi-nya sambil gerak-gerak kaya kecoa kesetrum. 👻 "Buru-buru Ngapain?" tanya Hera sambil crossing arms. 🙎 "Isss, Bunda! Rati kan mau sekolah. Nanti telat! Huwaaa telattt!!" Lompat-lompat ala manja level 1000 sambil gerakan kayak t****k fail. Efek samping: kelereng-kelereng itu kayak musuh bebuyutan—nyaris bikin Rati jatuh lagi. Untung Hera fasthand reflex nyamber lagi. Hera nyetir dengan tone bossy: "Rati jangan ceroboh terus!" sambil melotot kayak mandor. "Beresin noh kelereng kamu!" Titahnya sambil nunjuk kelereng berserakan kayak popcorn jatuh. Rati nyahut sambil mode alibi : "Nanti aja Bunda, sekarang Rati mau cuci muka dulu trus pake seragam sekolah." Mau kabur ala cheetah, eh taunya lengannya kepret sama Hera secepat ninja 🥷. Genggaman emaknya solid kayak handcuffs. "Kamu harus mandi!!" Tegas Hera pakai suara megaphone, aura-nya bikin AC ruangan auto dingin. Rati pulling puppy eyes: "Yah Bunda, Rati udah telat, udah cuci muka aja ya…" Wajahnya dramaqueen level Oscar sambil merajuk. Dalam hatinya: "Mandi? No way! Keringetan 5 menit juga ilang kok. Mager level final ni boss, senggol dong!" Hera cross arms kayak CEO lagi meeting: "Tidak ada penolakan!" Mata laser beam nyorot ke Rati. "Bun…" Rati ngembangin mata ala Doraemon minta dorayaki. "No!" Hera gaspol sambil goyangin kepala kayak metronome. "Bunda…" Rengek Rati pakai suara chipmunk, bikin kuping Hera berdarah-darah. "Tidak, Rati, kamu harus mandi," jawab Hera flat* kayak AI tanpa emosi. 🤖 Ultimate defeat!!!☠️ Rati nunduk kayak PG kalah di game, jalan ke kamar mandi sambil gerutu: "Hidup ini kejam…" Bayangin air dingin bakal nyiksa tubuhnya. Meanwhile, Hera standby di depan kamar mandi kayak bodyguard—no escape route!. Hera cuma bisa senyum-senyum geleng-geleng kepala kayak lagi liat konten t****k absurd. Ngakak dalem hati. "Gila, kamar Rati kayak kapal pecah!" Vibe-nya chaos level expert—literally kayak tornado baru lewat. Tanpa pikir panjang, dia gaskeun beresin kelereng berantakan kayak biji-biji candu Rati. Sekilas kamar itu kayak toko mainan: boneka terkapar, bola air warna-warni ala unicorn throw up, squishy kempes kayak mimpi buruk, balon kempot, dan sejuta mainan random lain. Plot twist: di antara koleksi mainan ala toko 5 ribu-an itu, kelereng tetap jadi MVP-nya Rati. Fyi, demi beli kelereng, Rati rela skip jajan seminggu cuma buat nabung ala-ala investor kripto. Hera grin sambil ngebayangin Rati yang udah 17 tahun tapi mainannya masih kayak bocah SD. Untung dia dan suaminya ga pernah judge hobi unik anaknya—malah kadang ikut flex beliin mainan. Tapi Rati keras kepala: "Gue mau beli pake duit gue sendiri!" , Vibe independent queen! 🫅 Sambil ngumpulin kelereng, Hera teriak ke kamar mandi: "Rati!!! Bunda mau siapin sarapan buat kamu sama ayah dulu. Nanti kalau udah selesai mandi dan siap-siap, langsung nyusul ya!" Suaranya nge-echo kayak megaphone. Dari dalem kamar mandi, Rati nyahut: "Iya Bunda!" , sambil berisik kayak sedang perang sama shower. Skip beberapa menit, Rati nyamperin meja makan sambil teriak ala anak kos yang kehilangan WiFi: "Bundaa, Ayah. Rati beneran telat sekarang!" , Larinyakayak dikejar zombie—chaos level 💯. Di meja makan, udah ada Andi si bapak cool dan Hera sang emak-legend. Hera ngingetin sambil geleng-geleng: "Jangan lari-lari nanti jatuh." Rati nyaut manja: "Iya Bun," sambil nemplok di kursi sebelah kiri Andi. Meja makan jumbo itu layout-nya kayak kantor CEO: Andi duduk di throne, Hera di sebelah kanan, kayak duo raja-ratu. Andi lscan penampilan Rati dari ujung jilbab sampe sepatu. Auto tepuk jidat—putrinya cakep parah! Seragam putih abu-abu oversized + cadar putih yang nutupin separuh muka, Tinggal mata yang berbinar-binar. "Cantik sekali putri ayah ini," pujinya sambil usap-usap kepala Rati kayak lagi petting kucing🐱. Rati ngejawab sambil malu-malu kucing: "Alhamdulillah. Ayah sama Bunda juga tampan dan cantik." Hera interupsi sambil geser-geser piring: "Sekarang kita makan dulu, nanti telat lho!" Vibes sarapan berubah jadi race against time. 💨 The Ultimate Power Couple: Andi & Hera, Duo Sultan yang Super Protektif buat Sang "Anak semata wayangnya ". Andi Wicaksono, si daddy Rati ini vibe-nya literal cold but hot! Gantengnya level CEO muda, tapi aura wibawanya bikin orang auto ngeri kalo lagi marah. Sifatnya tegas kayak bos startup yang gaspol, dingin kayak AC 16°C, tapi savage abis kalo udah nyangkut Rati, anak semata wayangnya. Kalo ada yang ganggu Rati? Wah, langsung mode overprotective king—no debat, no kompromi. Pokoknya, "Jangan sentuh anak gue, periodt!". Nah, beda banget sama Hera Isnaini, si bunda Rati. Ceweknya itu soft-girl vibes, lembut kayak marshmallow, ceria kayak Disney Princess. Tapi jangan salah, dia punya *hidden mode* kalo Rati diusik. Dari biasa *smile-smile* flay, bisa berubah jadi Mama Bear yang *glaring* kayak naga mau keluarin api. "Gue chill, tapi jangan test my limits," itu kayak motto hidupnya. Meski sifatnya kebalikan sama Andi, mereka satu frekuensi kalo soal Rati: posesif level *my precious* ala Gollum. Duo ini emang opposites attract banget. Andi tuh kayak badai salju, Hera kayak matahari pagi. Tapi pas urusan Rati? Langsung kolaborasi ride or die. Kaya Batman dan Catwoman, tapi versi orang tua yang rela gangster mode demi anaknya. Buat mereka, Rati itu mah the ultimate treasure—no cap! 👑 Pagi itu, baru aja wrap up sesi sarapannya dengan speed kayak atlet lari estafet. Eh, pas check jam tangan kesayangannya yang aesthetic banget itu, matanya langsung zoom in kayak kamera slow-mo. “Waduh, kok udah telat 15 menit?” gasp! Jantungnya langsung dribbling kayak bola basket, literally! Otaknya langsung flashback ke gerbang sekolah yang biasanya auto-close tepat pukul 07.00. “Ini mah pasti gerbang udah locked, deh. Big L buat gue hari ini!” grumbled Rati sambil facepalm ala meme. Tanpa delay, cewek 17th ini langsung switch mode jadi Usain Bolt versi lokal. Sprint dari rumah ke jalanan kayak lagi main Temple Run, dodge pejalan kaki, jump atas genangan air, full adrenaline! FYI, jarak rumah-sekolah Rati tuh no joke—kayak marathon tanpa persiapan. Kaki-kakinya yang usually chill akhirnya protest, lututnya ngambek, dan napasnya ngos-ngosan kayak baru live di Treadmill Challenge. Di tengah drama lari-larian ini, otaknya malah auto-play rasa sesal: “Harusnya tadi gue accept tawaran Ayah buat diantar pakai mobil. No debat, no ribet. Sekarang? Halah, gerbang sekolah udah kayak benteng Keraton, gue malah jadi Cinderella yang ketinggalan kereta kaca!” , sigh dalem hati. Tapi ya udahlah, namanya juga hidup kadang plot twist sama unexpected quest. Pas nyampe halte, plot twist lagi: bus langganannya udah vroom-vroom pergi kayak ekspres tanpa ampun. Rati cuma bisa staring kosong kayak karakter anime yang kena betrayal. “Yaudah, jalan kaki aja! Mager sih, tapi better than bolos,” self-talk sambil adjust tas yang udah slipping dari bahu. Slowly but sure, dia mulai hike ke sekolah dengan determinasi level pro player. FYI, Rati tuh emang squadnya anak-anak hustle culture. Buat dia, bolos sekolah itu big no—kayak skip misi utama di game RPG. No matter how kondisi fisiknya down, mentalnya tetap on fire: “Gue harus masuk! Nilai absen gue jangan sampe red flag di rapor!” inner monologue-nya. Sepanjang jalan, bayangan guru BK yang sering nyindir soal kedisiplinan auto-loop di kepalanya. Tapi Rati keep going sambil ngumpulin sisa-sisa tenaga. Plot armor-nya? Pure grit dan stubbornness ala Scorpio! Vibe pagi itu literally kayak adegan film coming-of-age: gadis pemberani vs ruthless clock. Dan Rati? Dia the main character yang gak mau kalah sama bad timing. Even keringatnya dripping kayak air terjun mini, dia tetap head high! Salute buat fighting spirit-nya yang no cap! 🫰 Setelah sprint kayak karakter di action movie, Rati akhirnya pause sejenak di tengah chaos-nya jalanan ibu kota. Trotoar tempatnya berdiri itu vibe-nya kayak survival zone: asap knalpot toxic, suara klakson random, plus motor dan mobil nyetir ala Fast & Furious. Breath in, breath out… Tapi napas Rati masih ngos-ngosan kayak baru dikejar debt collector. Girl, this is Jakarta—no time for rest! Tiba-tiba, plot twist datang dengan suara vroom-vroom !!!! knalpot yang bass-nya kayak konser metal. Rati slowly turn her head, dan… boom! ! ! Sekumpulan laki-laki berjaket hitam bergambar elang garang nongol kayak final boss di game open-world. Mereka convoy pakai motor Harley Davidson, literally mesinnya roaring kayak singa kelaparan. No cap, suaranya bikin kuping auto-nyremet! Rati langsung facepalm: "Astagfirullah, ini mah polusi suara level 100!!!" Geng motor itu literally jadi main character di jalanan. Jaket mereka aesthetic sih—logo elang bold dengan tulisan "Harley Nation" di punggung—tapi aura-nya intimidating banget. Mereka gas pol ngebut kayak pemilik jalan, swerving kiri-kanan tanpa SOP. Padahal, trotoar penuh ibu-ibu bawa belanjaan dan anak sekolahan yang ngetem ojek online. Hello, ini jalan umum, bukan sirkuit MotoGP! Rati ngeliatin mereka dengan death stare. Dalam hati, dia grinding: "Dikiranya ini jalan warisan leluhur mereka? Bisa-bisanya ngebut gitu, no respect buat orang lain!" Tapi, ya elah, namanya juga geng Harley—squadnya legendsdi dunia hitam. Kabarnya, jaringan mereka massive, bahkan expand sampai luar Jawa. Viral di medsos soal clash mereka sama geng rival, sampai polisi aja angkat tangan. No wonder orang-orang auto-ngibrit kalo liat mereka lewat. Back to reality, Rati nyadar diri udah wasting time*. Jam tangan luxury-nya—pemberian Ayah—udah nunjukin angka crucial. Tapi, di depan mata, jalanan literally jadi warzone: motor Harley zig-zag kayak drifting, pengendara lain panic mode, dan pejalan kaki ngumpet di balik halte. Ini mah bukan cuma telat, tapi juga mental health hazard!! Cewek berhijab itu ambil napas dalem, recharge tenaga sambil ngumpulin inner peace. Di tengah chaos itu, dia flashback sama nasihat Bunda: "Jaga lisan, Rati. Marah itu boleh, tapi jangan sampai merusak hati." Closure banget g sih! Jadi, meski kepengen teriak "Yaudah, lo pada toxic banget sih!", Rati manage buat bite her tongue. Gantinya, dia ucapin istighfar dalam hati—strategy biar vibe nya tetap zen. Tapi, real talk… Geng Harley ini emang bikin gregetan! Motor mereka modif sampai glowing knalpotnya, suaranya bass boosted kayak speaker nightclub. Bukan cuma ganggu telinga, tapi juga pollution level ibu kota auto-naik 10%. Rati sampai kodein: "Huft, climate change makin parah aja gara-gara kalian!" Padahal, dia sendiri ngos-ngosan karena lari tadi. Irony level: Expert! FYI, Rati tuh gak anti-sama biker. Tapi, buat dia, etika di jalan itu wajib. Kalo ride motor kenceng kayak pembalap, tapi safety orang lain diiabaikan? That’s a red flag! Apalagi, geng ini sering banget bikin chaos—dari tawuran sampe illegal racing. Vibe-nya kayak anak emas yangkebal hukum, literally bikin netizen sebel. Plot twist lagi: tiba-tiba, salah satu anggota geng nyolek Rati pake sorakan ala preman. "Hey, nona cantik! Mau kebut-kebutan?" seru mereka sambil ketawa-ketiwi. Rati auto-freeze, tapi dalam 3 detik, dia wwitch mode jadi queen of composure. Slow motion, dia balik badan, kasih tatapan ice cold kayak Elsa di Frozen, lalu walk away dengan dignity tetap on point. Boom! Mic drop! ! ! Dalam hati, Rati ngumpat: "Niat gue cepet-cepet ke sekolah, malah dikatain gitu. Zero respect!" ☠️ Tapi, ya sudahlah. Daripada toxic di jalan, mending save energy buat hadepin guru BK yang sering nyinyir soal keterlambatan. Prioritas, sis! 🙅 Baru aja Rati attempt buat move on dari drama geng Harley, eh… ta-da! Tali sepatunya magically lepas sendiri kayak ada invisible hand yang iseng. “Hah, seriusan? Ini mah minor inconvenience tapi bikin mood anjlok!” grumbled Rati sambil jongkok ala pemeran K-drama yang lagi ambil spotlight. Tangan cepet banget muterin tali sepatu, skill level ultra instinct karena sadar diri udah super late. Tapi Jakarta tuh emang jagonya plot twist. Pas Rati stand up dari posisi jongkok… BYURR!!!! Splash attack dari genangan air kotor langsung landing di mukanya! Vibenya kayak dikasih free facial tapi pakai air comberan. Eww, disgusting level 1000! Rati ngelap muka pake lengan baju, sambil nyengir pahit: “Astagfirullah, hari ini bener-bener cursed!” Dia ngadepin pelakunya: seorang cowok ngendarain Ninja merah ngebut kayak dikejar setan. Bukan cuma motorannya flashy, jaketnya juga ada logo Bintang & Elang—signature-nya geng Harley! Wait a minute… Ini mah squad-nya tadi yang bikin chaos jalanan! Rati auto-sherlock mode: plat motor dia capture di otak, postur si cowok di-scan, bahkan detail jaket di-screenshot mental. No way dia bakal lupa! Tapi ya gimana, Jakarta tuh never sleep. Di tengah drama Rati, jalanan tetap rame kayak pasar senen. Mobil nyetir salip-salipan, motor ngebut kayak motoGP, plus polusi udara yang auto-bikin mata perih. Rati cuma bisa nghela napas: “ini kota apa hunger games versi transportasi?” Nggak lama, soundtrack deru knalpot geng Harley comeback lagi. Mereka convoy gagah, jaket elangnya glowing kayak superhero palsu. Rati ngeliatin mereka sambil muter-muterin otak: “Duh, geng ini literally bikin public enemy. Knalpot berisik, ngebut no safety, macem-macem deh!” But real talk, hari ini literally ujian kesabaran level final boss buat Rati. Dari lari kayak zombie, kehujanan air kotor, sampe hadepin geng nyeleneh—semua dalam 1 pagi! Tapi Rati gak mau ngalah. Sambil ngepasin cadar yang kebelet lepas, dia lanjutin jalan dengan muka kayak superhero yang ready hadapi apocalypse. 🏃♀️💦 Tetep semangat, Rati!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD