1. Malapetaka

3274 Words
“Kembali di Sapa Metro, saya Lania Tunjung. Saudara, kecelakaan beruntun yang melibatkan rombongan tunangan terjadi di tol Jagorawi dini hari tadi. Lima orang tewas, satu orang mengalami luka bakar serius, dan belasan orang luka-luka dalam kecelakaan ini.” Di hari Minggu itu, ketika langit belum terlalu terik disinari oleh matahari, satu berita kecelakaan besar tersiar ke seluruh penjuru. Satu insiden berdarah memaksa para tim medis, pihak kepolisian, serta kesatuan pemadam kebakaran bergotong-royong menyelamatkan para korban yang berjatuhan. “Tepatnya di kilometer sepuluh Ciracas, Jakarta Timur, kecelakaan besar ini melibatkan setidaknya delapan kendaraan. Terdiri dari kendaraan pengangkut dan kendaraan pribadi. Diduga, pengemudi truk kontainer yang mengantuk serta kendaraan yang tidak memenuhi syarat laik jalan menjadi pemicu dalam kejadian nahas ini.” Itu jelas bukan hanya sekadar kejadian nahas. Alih-alih tak ubahnya seperti kiamat bagi korban yang mengalaminya. Menyisakan pemandangan yang amat menyayat hati di lorong rumah sakit. Seorang wanita berbalut kebaya elegan bewarna kuning pastel, histeris. Tubuh dan pakaiannya bernoda darah. Dandanannya berantakan. Pun air mata mengalir membasahi kedua pipi. Seorang perawat yang bertugas menghampirinya. Merengkuh dan mengajaknya untuk duduk. Berusaha untuk menenangkannya, tapi tak berguna. Orang tuanya meninggal sementara sang tunangan berada dalam keadaan kritis. Dunianya hancur. Tak ada lagi yang tersisa. * “Kapan Herry bangun, Dok?” Pertanyaan itu tak ubahnya rutinitas yang akan selalu dr. Sriyanti dapatkan. Tatkala ia selesai menjelaskan perkembangan pasien pada walinya. Seorang wanita muda nan cantik jelita yang telah menginjak angka dua puluh sembilan tahun. Memang, tidak banyak hal pribadi yang dr. Sriyanti ketahui mengenai gadis berkulit putih bersih dan berambut hitam panjang berkilau itu. Namun, ia pun lantas tahu beberapa hal berkat informasi yang berembus dari mulut ke mulut,. Velia Angelica namanya. Secantik namanya, wanita itu persis seorang bidadari. Lantaran bukan hanya kulit putih bersih dan rambut berkilaunya yang menjadi daya pikat, alih-alih semua yang ada pada dirinya. Tubuh gadis itu ramping dan berlekuk pada tempat yang seharusnya. Hidung mancung, bibir merah, dan bulu mata yang lentik dinaungi alis lebat. Siapa pun yang melihatnya pasti akan sepakat pada satu kesimpulan. Ia benar-benar cantik. Memiliki pembawaan yang lemah lembut, Velia seharusnya menjadi seorang wanita yang berbahagia. Berkat perayaan ulang tahun dan tunangan yang digelar pada malam yang sama. Itu harusnya menjadi hari yang sempurna. Menjalani usia baru dengan status yang baru pula. Dikelilingi orang tua, kekasih, dan keluarga tercinta. Namun, semua tidak seperti yang dibayangkan. Kecelakaan maut itu merampas semua. Tak hanya kehilangan kedua orang tua, Velia juga kehilangan kedua calon mertua. Pun ditambah pula dengan keadaan sang tunangan yang terjebak dalam kondisi koma. Sendirian, wanita itu harus berjuang berbulan-bulan dalam harapan yang tak sepenuhnya bisa ia pegang. Dr. Sriyanti menarik napas dalam-dalam. Berusaha memasang ekspresi profesional dalam mimik tenang dan teduh. “Saya tidak bisa memastikan, tapi setidaknya keadaan Herry kembali stabil untuk saat ini.” Velia bergeming. Nyaris yakin seratus persen bahwa perkataan dr. Sriyanti sama persis dengan kata-kata yang ia ucapkan pada konsultasi sebelumnya. Tidak ada beda. Delapan bulan. Selama delapan bulan aku hanya mendengar hal yang sama. Sampai kapan aku harus mendengar ketidakpastian ini? Harapan memang masih tumbuh di hati Velia. Ia yakin Herry akan segera bangun, tapi entah kapan. Harapannya kian terdesak oleh kemungkinan buruk yang terpupuk hari demi hari. Bagaimana bila Herry tidak akan pernah bangun lagi? Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Melainkan keadaan Herry yang kerap menunjukkan syok menjadi pemicunya. Menimbulkan ketakutan untuk kemungkinan buruk yang bisa terjadi kapan saja. “Ini memang tidak bisa menjadi jaminan dan pasien sebaiknya harus dioperasi lagi dalam waktu dekat. Keadaan koma selama berbulan-bulan membuat ginjal pasien dalam situasi yang tidak menguntungkan. Secepatnya harus segera ditangani.” Perawatan yang menyelamatkan nyawa Herry bukan berarti tanpa efek samping. Ginjalnya menjadi rentan lantaran obat-obatan yang kerap ia gunakan. Harapan Velia kian kerdil. Ketakutan selalu berhasil menggoyahkan keyakinan. Ia membisu. Bergeming dan hanya bisa berdoa tatkala pandangannya melewati kaca bening itu. Velia berdiri di luar ruangan dan melihat keadaan sang tunangan. Herry masih berbaring di ranjang perawatannya. Bertahan hidup dengan bantuan alat-alat medis. Tak ada lagi senyum bahagia. Tak ada lagi tawa suka cita. Semua menghilang tergantikan duka lara. Hari-hari Velia sekarang penuh air mata. Ia menderita. Tertekan secara psikis dan finansial. Seorang diri berjuang menyelamatkan hidup sang kekasih. Tidak mudah dan murah. Herry menderita luka bakar nyaris mencapai empat puluh persen. Ia terpaksa menjalani operasi berulang kali dan tak memberi Velia banyak pilihan, kecuali kecuali menjual satu persatu harta bendanya yang berharga. Namun, bagi Velia itu tidak penting. Setidaknya operasi berhasil menyelamatkan Herry walau dengan satu kekecewaan yang menyertai. Ia jatuh koma, alih-alih siuman. Velia menunggu Herry bangun kembali. Namun, makin lama ia makin kehilangan pegangan. Terhimpit dalam kekalutan dan kesedihan, Velia kian tak berdaya tatkala menyadari bahwa ia tak lagi memiliki apa-apa. Tanpa orang tua, keluarga, dan harta benda. Lebih parah lagi ia pun terpaksa berutang dalam jumlah yang tak sedikit. Entah itu pada kantor, teman kerja hingga rentenir. Satu hal yang tak mampu ia hindari ketika perawatan Herry membutuhkan biaya tak sedikit sementara tak ada lagi hartanya yang tersisa. Malang tak lagi mampu mewakili keadaan Velia. Ia bukan hanya sendirian, alih-alih mati di dalam kehidupan. Ironis, terkadang ia bertanya. Mengapa malam itu aku tak turut mati pula? * Velia tahu bahwa ia tak bisa mati sekarang. Setidaknya hari ini. Mengeluarkan tanda pengenal di leher dengan terburu-buru, Velia melewati pemindai otomatis. Ia bergegas membelah lautan manusia dan masuk ke lift. Tiba di lantai tiga, lift berhenti bergerak. Pintu membuka dan Velia bergegas keluar dengan kepanikan yang semakin menjadi-jadi. Sial! Sekarang sudah hampir jam dua siang. Velia menggigit bibir bawah. Merutuki keteledoran yang terjadi berulang kali. Namun, Velia bisa apa? Kabar Herry kembali mengalami syok membuatnya pergi ke rumah sakit tanpa berpikir dua kali. Berlari, Velia segera menuju ruang departemennya. Ia masuk dan langsung bertemu Metta Utami—rekan kerja serta teman terbaik yang pernah Velia miliki. Kerap membantu secara moril ataupun ekonomi, Metta terus menyemangati Velia di saat terburuk. Pun hanya ia yang selalu mendengarkan keluh kesah Velia selama ini. “Ya ampun, Ve!” seru Metta histeris menyambut kedatangan Velia. “Ayo! Rapat akan segera dimulai lima belas menit lagi.” Velia menyambut setumpuk map yang Metta sodorkan. Ia berkata. “Semuanya sudah aku susun sesuai dengan urutan presentasi Pak Rino. Sekarang kau cepat pergi ke Ruang Rapat 2. Jangan sampai terlambat.” Tangan Velia yang gemetaran memeluk map-map dengan erat. Ia mengangguk seraya meneguk ludah. “Terima kasih banyak, Met.” Velia bergegas pergi. Tergopoh-gopoh berlari menyusuri lorong dan kembali menekan angka tiga puluh di tombol lift. Nyaris sepuluh menit waktu yang Velia butuhkan untuk sampai di Ruang Rapat 2. Se karyawati tampak akan menutup pintu ruangan itu. Velia panik dan berlari seraya mengucapkan permisi. “Sebentar.” Velia mendorong pintu sehingga kembali membuka. Tak peduli larangan yang ia dapatkan, ia segera masuk. Langkahnya terburu-buru dan membuatnya menabrak seseorang yang baru saja masuk beberapa detik sebelum dirinya. Telak dan tak terhindari, dahi Velia membentur punggung lebar pria itu. Langkah Velia terhenti dan map lepas dari tangannya. Bunyi benturan dan kesiap terdengar. Pun suara map yang mendarat berserakan di lantai. Kejadian itu sontak membuat semua peserta rapat tersentak di tempat duduk masing-masing. Velia buru-buru turun. Berniat untuk segera mengumpulkan kembali map tersebut, tapi ia tertegun tatkala mendengar pertanyaan-pertanyaan bernada khawatir. “Bapak tidak apa-apa?” “Bagaimana keadaan Bapak?” Velia bisa menerka lewat selintas dengar. Pria yang ia tabrak pasti bukan orang sembarangan. Lihat saja. Semua orang bangkit dari duduk dan beranjak menuju mereka. “Ya Tuhan. Bisa-bisanya kau.” “Ini karyawan bagian mana?” Tudingan itu membuat Velia gemetaran. Ia bergegas berdiri seraya memegang map kuat-kuat. Bersiap menerima kemarahan ketika suara lain terdengar. “Maaf, Pak. Ini karyawan dari Departemen Pengembangan dan Perencanaan.” Velia menunduk, sedikit melirik ke sebelah dan mendapati pimpinan departemennya yang bernama Rino Muharji tampak bicara. Pria berusia lima puluh tiga tahun itu mendelik ke arahnya. Bicara tanpa suara, Rino berkata. “Cepat minta maaf pada beliau.” Wajah Velia terangkat seketika. Melihat pada Rino dengan meneguk ludah dan jantungnya berdebar parah. Rasa takut hadir dan tak mampu Velia bendung. Sadar bahwa tak punya pilihan, ia pun beringsut. Kepalanya kembali tertunduk. Tak berani melihat pada wajah di hadapannya. “Saya minta maaf, Pak. Saya tidak sengaja menabrak Bapak.” Pria itu mendeham singkat. Lalu ia bertanya dengan suara berat. “Siapa kau?” Terus menunduk, Velia mengerjap sekali. Dahinya mengernyit lantaran kesan tak asing yang dirasa. Suara itu terdengar familier dan membuatnya meremang. “Velia, Pak.” “V-Velia?” Velia mengangguk. “Velia Angelica.” “Velia Angelica.” Lagi, ada hal aneh yang Velia rasakan tatkala pria itu menyebut nama lengkapnya. Namun, rasa takut membuatnya benar-benar bergeming. Rasa penasaran dan dorongan untuk sedikit melihat, kalah. Velia membeku. Kian membeku ketika suara itu kembali bicara. “Selesai rapat, kau segera ke ruangan saya.” Di sebelah Velia, Rino memucat. Kekhawatiran hadir. Mendorongnya untuk berusaha menahan sang pimpinan. Ia perlu menjernihkan masalah tersebut dengan kemungkinan buruk yang bisa terjadi padanya dan departemennya. “Pak, saya—” Namun, sang atasan keburu melangkah. Pun seorang wanita cantik yang sedari tadi berdiri di dekatnya mengulurkan tangan. Melarang Rino yang berniat untuk menyusul. Rino ketar-ketir mendapati isyarat penolakan. Ia beralih pada wanita itu dan memohon. “Bu Vlora, ini kesalahan Velia pribadi. Bukan departemen kami. Saya harap ini tidak berimbas pada departemen kami.” Denandia Vlora—sang sekretaris—tersenyum tipis. “Rapat akan segera dimulai, Pak. Silakan kembali ke tempat Bapak.” Rino tak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya panas dingin dan sebagai ganti, ia berbalik pada Velia ketika orang-orang beranjak kembali ke kursi masing-masing. “Kau, Velia. Kalau kau sampai mengakibatkan masalah untuk departemen kita, awas saja! Aku akan mengajukan namamu ke HRD untuk dipecat bulan ini! Aku tidak main-main dengan ucapanku!” Velia meneguk ludah. “Pak, saya tidak sengaja. Saya benar-benar minta maaf.” “Sengaja atau tidak,” desis Rino seraya menuding. “Itu tidak penting. Yang penting di sini adalah apakah tindakanmu membuat departemenku terkena masalah atau tidak.” Mengusap kasar wajahnya, Rino menggertakkan rahang. Matanya menyorotkan kesal dan marah tak terbendung. “Kau harus ingat! Jangan sampai kau datang terlambat ke ruang beliau! Minta maaf dengan baik! Bahkan kalau beliau memintamu untuk terjun dari lantai atas sekali pun, kau harus melakukannya!” “Pak—” Rino menggeleng. Memotong ucapan Velia tatkala ketakutannya semakin menjadi-jadi. Itu jelas bukan tanpa alasan. “Semua orang tahu bagaimana sifat Dirut kita yang sekarang. Tidak cocok dengan keinginan dan menyinggung perasaannya bisa berakibat fatal. Pak Lucas Ferdinand tidak akan segan-segan memecat siapa pun yang menurutnya tidak kompeten. Dan aku lebih baik kehilanganmu daripada departemenku yang kena imbas!” Velia tertegun. Satu nama yang diucapkan Rino membuat tubuhnya menegang dalam kesan yang tak enak. P-Pak Lucas Ferdinand? Mata Velia membulat. Refleks, ia bertanya. “S-siapa Dirut kita, Pak? Siapa nama beliau?” Rino menatap Velia kesal. “Lucas,” jawabnya. “Lucas Ferdinand.” Kembali mendengar nama yang sama untuk kedua kali membuat Velia menoleh ke seberang ruangan. Tatapannya tertuju pada meja besar yang terletak di tengah ruangan. Seorang pria duduk di sana dengan didampingi Vlora. Velia tercekat. Sepasang mata itu menatap dirinya tanpa kedip sedari tadi. Lucas? * Berdiri di depan pintu ruangan Lucas, Velia menahan napas. Dadanya bergemuruh dalam aneka perasaan yang tak mampu ia ungkapkan. Velia gemetaran. Tubuhnya panas dingin dan jantungnya benar-benar kacau. Tak akan lupa, tentulah alasan Velia berada di sana adalah memenuhi perintah pimpinan kantor. Namun, menemui sang Direktur Utama bukanlah hal mudah tatkala ia tahu siapa yang harus ia hadapi. Adalah Lucas Ferdinand. Seorang pria yang pernah menjadi bagian masa lalu paling menyakitkan untuk Velia. Seseorang yang membuatnya pergi sejauh mungkin demi memulai hidup baru. Bertahun-tahun telah berlalu, tapi mengapa mereka harus kembali bertemu? Ironis, tapi Velia tak akan lupa bagaimana suara berat itu terdengar tak asing di telinganya. Tak berubah. Persis seperti dulu. Pun tak hanya itu, melainkan semuanya. Velia bisa melihat dari keadaan Lucas sekarang dan membandingkannya dengan ingatan yang masih terekam di benak. Lucas masih bertubuh tinggi dan besar. Sepasang mata tajamnya pun masih menyorotkan aura intimidasi. Pun rambut hitamnya yang lebat masih sekelam ingatan terakhir Velia. Tak ada yang berubah dari pria itu sepintas Velia melihat, selain gurat-gurat kedewasaan yang mulai tampak di wajahnya. Menimbulkan kesan kuat dan gagah dalam waktu bersamaan. Lucas adalah satu titik yang tak Velia harapkan, tapi telah tercatat di dalam lembaran masa lalunya. Terlahir dari keluarga terpandang nan kaya raya. Dianugerahi kepintaran dan juga ketampanan. Dikaruniai ketenangan dan aura dominansi yang mampu membuat gentar siapa pun lawan bicaranya. Alhasil tak aneh banyak wanita jatuh hati padanya walau ia terkesan dingin dan menakutkan. Mendekati Lucas adalah pertaruhan nyata. Antara dua pilihan, tertolak atau justru tersakiti. Ia layaknya dewa yang tak akan mudah disentuh oleh sembarang orang. Pun berada di sekitarnya merupakan kesepakatan tanpa kata-kata. Siap untuk merasakan lara yang bisa datang kapan saja. Velia sudah membuktikannya dan sekarang ia hanya bisa merutuk di benak. Dari sekian banyak tempat bekerja, mengapa aku harus bekerja di sini? Velia menarik napas dalam-dalam. Menguatkan diri demi menghadapi situasi. Tangannya naik dan mengetuk. “Masuk.” Gemetar, Velia membuka pintu. Tatapannya langsung membentur Lucas. Ia diam, masuk, dan menutup pintu. Kedatangan Velia membuat Lucas bangkit berdiri. Sama seperti Velia, ia pun diam. Hening menyelimuti dan yang mereka lakukan untuk beberapa saat adalah saling menatap. Lucas tersadar. Ia beranjak. Perlahan menghampiri Velia yang berdiri mematung di depan pintu. “Ve.” Velia meneguk ludah. Suara serak Lucas tatkala menyebut namanya membuat ingatannya tertarik ke belakang. Persis. Lagi-lagi tak berubah. Begitulah cara Lucas memanggilnya. L-Lucas. Velia mengangkat wajah. Menatap Lucas dalam tanda tanya besar yang hadir di benaknya. Apakah itu benar-benar Lucas? Pria yang dulu pernah meninggalkan dirinya? Itu adalah kisah lama yang ingin Velia kubur dalam-dalam. Kenangan yang menyadarkannya bahwa tidak semua cerita cinta akan berakhir bahagia. Sebaliknya, bisa saja menghadirkan luka. Lucas menghadirkan satu goresan dalam di hati Velia. Luka yang tak mudah untuk ia lupakan. Ia butuh waktu bertahun-tahun untuk sembuh. Pun dengan perjuangan yang tak sedikit. Semua seolah percuma sekarang. Tahun-tahun yang Velia lalui seakan tak berarti apa-apa tatkala mereka bertemu lagi. Lucas tepat di hadapan Velia. Entah sadar atau tidak, ia mengulurkan tangan. Berniat untuk mengusap pipi Velia, tapi gadis itu menghindar samar. Tangan Lucas menyentuh udara kosong. Menahan ringisan, Lucas menarik turun tangan. Pada akhirnya ia menunjuk sofa. Ia mendeham sejenak sebelum berkata. “Duduk.” Velia mengangguk singkat sekali sebelum beranjak menuju sofa. Ia duduk dan mendapati Lucas memilih kursi di hadapannya. “Apa kabarmu, Ve?” Sejenak menahan napas di d**a, Velia tertampar kenyataan. Ia sempat berharap bahwa Lucas sang direktur utama bukanlah Lucas yang ia kenal. Namun, demikianlah adanya. Mereka adalah Lucas yang sama. Bertahun-tahun mereka berpisah. Sekarang Velia tak tahu harus bersikap seperti apa pada pria itu. Tangannya gemetaran dan ia hanya bisa menjawab singkat pertanyaan Lucas. “Baik.” Lucas menarik napas sekilas. Menerima jawaban Velia dan ia menyambut dengan perkataan lain. “Selama ini aku selalu—” “Saya minta maaf untuk kelalaian saya hari ini, Pak. Saya meminta maaf dengan tulus.” Velia memotong ucapan Lucas. Pria itu tertegun dalam upaya meresapi perkataan Velia barusan. Ada sesuatu yang mengganjal dari kata-katanya. “Apa yang kau katakan tadi?” tanya Lucas ingin meyakinkan telinganya tidak salah mendengar. “Bapak?” Suara Lucas terdengar rendah, tapi percayalah bahwa Velia kian gemetaran. Ia tak berdaya dan tanpa sadar menundukkan sedikit pandangan. “Iya, Bapak.” Lucas terdiam. Tak mengatakan apa-apa, ia hanya melihat Velia. Gadis itu menghindari tatapannya dan lanjut bicara dengan lirih. “Bukankah sudah sewajarnya saya memanggil Bapak karena anda adalah pimpinan di perusahaan ini?” Akhirnya Velia tahu ia harus bersikap seperti apa pada Lucas. Ia menimbang sejenak dan yakin inilah jalan teraman untuknya. Seolah tak pernah terjadi apa-apa di antara mereka. Baik di masa lalu, masa sekarang, ataupun masa depan. Lain lagi dengan Lucas. Pertanyaan Velia membuat jantungnya seakan berhenti berdetak. Ekspresinya menunjukkan ketidakpercayaan. Ia syok. Bagaimana mungkin Velia memanggilnya dengan sebutan ‘bapak’? Lucas menatap Velia lekat. Tanpa sadar, tangannya naik dan mendarat di d**a. “Ve, ini aku.” Velia mengangguk. Ia meremas kedua tangannya yang mulai berkeringat. “Saya tahu siapa Bapak. Bapak adalah pimpinan di sini.” “Bukan!” sergah Lucas dengan cepat. “Aku Lucas.” Sergahan Lucas menohok Velia. Pun tatapannya membuat Velia membeku. Velia nyaris tak bernapas andai kuku-kukunya tak menyakiti diri sendiri. “Kau tak mungkin melupakanku, Ve. Tidak mungkin. Bapak? Bagaimana bisa kau memanggilku seperti itu?” Lucas bangkit. Berpindah duduk dengan cepat di sebelah Velia. Ia menahan tangan wanita itu. Memupus kemungkinan Velia untuk menghindarinya. Velia kaget, tentu saja. Namun, bukan hanya genggaman Lucas yang membuatnya terkejut. Alih-alih pelukan yang memerangkapnya sedetik kemudian. Lucas menarik tubuh Velia. Merengkuhnya. Menenggelamkannya dalam pelukan yang mengukung. “Luc!” Refleks, Velia terkesiap menyebut nama pria itu. Kedua tangan Velia sontak naik. Mendarat di dadanya dan berusaha untuk mendorong. Ia memberontak, tapi Lucas bergeming. Ia tak bisa melepaskan diri. “Aku tahu kau masih mengingatku, Ve. Aku tahu itu.” Velia tertegun. Menyebut nama Lucas adalah kesalahan terfatal yang tak seharusnya ia lakukan. Mata Velia memejam. Tak berlama-lama merutuki kebodohannya, ia memohon. “Lepaskan aku.” Lucas mengabaikan permintaan Velia. Alih-alih pelukannya kian mengerat. “Aku benar-benar merindukanmu, Ve.” Kedua tangan Velia mengepal di d**a Lucas. Rindu yang diucapkan Lucas mengacaukan perasaannya. Membuat berantakan semua pertahanan yang sudah ia bangun sedari dulu. “Luc, lepaskan aku.” Kembali memohon, Velia menarik napas dalam-dalam. Berharap agar dirinya bisa lebih tenang, tapi nahas. Udara yang ia hirup turut serta membawa aroma tubuh Lucas. Wangi yang telah lama tak ia hidu sekarang menyentak-nyentak saraf penciumannya. Menghantarkan beragam kenangan yang ingin ia lupakan. Lucas menggeleng di atas pundak Velia. “Aku tak akan melepaskanmu, Ve. Tak akan pernah lagi melepaskanmu.” Mata Velia memejam. Upaya terakhir yang bisa ia lakukan demi menolak kenyataan. “Luc, jangan perlakukanku seperti ini. Aku sudah melupakanmu. Aku mohon. Lepaskan aku.” Lucas membeku. Ia bergeming dengan satu kemungkinan di benak. Mungkin saja ia salah mendengar atau Velia salah berucap. “Aku benar-benar telah melupakanmu.” Agaknya tidak. Untuk kesekian kali, Lucas mendengar hal serupa dari bibir Velia. “Aku sudah melupakanmu dari dulu, Luc. Di antara kita sudah tak ada hubungan apa pun.” Getir timbul di pangkal tenggorokan Lucas. Rasanya pahit dan ia nyaris tak bisa bernapas. “Ve.” “Kita hanya atasan dan bawahan, Luc. Aku mohon. Jangan lakukan ini padaku.” Velia putus asa. Tidak berharap banyak, tapi nyatanya pelukan Lucas mengendur. Velia tak menyia-nyiakan kesempatan dan bergegas melepaskan diri. “Semua yang terjadi di antara kita sudah berakhir, Luc. Aku sama sekali tidak ingin mengingatnya sedikit pun.” Lucas bergeming. Hanya bisa diam ketika Velia menatapnya kosong. Meringis samar, ia menggeleng. “Apa kau bilang?” Velia menguatkan hati. Berusaha untuk terus menatap Lucas tanpa kedip. “Antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Semua telah berakhir. Sekarang kita tak lebih dari atasan dan bawahan. Untuk yang dulu pernah terjadi di antara kita, aku hanya menganggapnya masa lalu,” ujar Velia seraya menarik napas. “Masa lalu yang tak ubahnya seperti malapetaka.” Lebih dari sekadar malapetaka. Velia tak akan pernah lupa betapa ia menderita karena cintanya pada Lucas. Bayangan masa lalu muncul. Hadir dan berputar-putar di benak Velia. Menimbulkan kembali kesedihan yang membuat ia tersenyum sendu. “Malapetaka yang ingin aku lupakan.” * bersambung ... . . Halo semuanya! Sudah lama sejak terakhir kali aku update cerita di sini. Aku minta maaf karena jujur saja aku ga mau nulis di sini lagi sejak aku didemo sebagai penulis p0rn0. Jadi kalau kalian mau baca cerita ini, silakan ke w***********d. Nama akun aku: V_Missv. Makasih.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD