Keserempet!

1162 Words
Aldo dan Riki sampai di tempat tongkrongannya, Riki langsung menjumpai teman-temannya yang ikut bolos sekolah. Tongkrongan Riki dan Aldo adalah tempat apartemen yang Riki beli, di dalam komplotan Riki rata-rata anak orang kaya dari mancanegara seperti Riki dan seluruh Indonesia seperti Aldo yang berjumlah 10 orang. "Hei, bro!" ujar temannya menyapa Aldo dan Riki "Oi!" ujar Aldo dan Riki bersamaan sambil bergantian salaman ala lelaki "Ada berita terbaru nih!" ujar kawan Riki "Berita apa, Jar?" tanya Riki "Pertandingan balap malam ini akan ada hadiah besar," ujar teman Riki bernama Fajar itu "Apa hadiahnya, Jar?" tanya Aldo yang mulai tertarik "Jika pertandingan sebelumnya berhadiah mobil, sekarang hadiahnya cewek bro!" ujar Fajar yang mulai membuat Riki dan Aldo terkekeh "Katakan, siapa ceweknya?" tanya Riki yang langsung duduk di depan kursi Fajar sambil membuka kaleng soda "Lo tahukan model papan atas yang lagi booming saat ini?" tanya Fajar dengan mimik wajah antusias "Renata Akira?" Tebak Riki "Ya! Kau benar sekali! Satu kaleng soda gratis untukmu!" teriak Fajar heboh "Renata Chika Akira? Chika? Mantan lo kan, Rik?" tanya Edo yang berhasil membuat Riki menatap tajam Edo "Jangan sebut dia mantan gue!" ujar Riki "Loh? Lo sudah pernah jadian dengan model secantik dia?" Tanya Fajar dengan antusias "Gak! Gue enggak kenal dia!" ujar Riki yang langsung melongos pergi keluar apartemen "Edo! Mulut lo bisa enggak jangan ember?" Tanya Aldo dengan tatapan tajam "Loh kenapa? Gue hanya tanya," ujar Edo "Bisa ngomong berdua?" tanya Aldo ke Edo "Bisa dong!" ujar Edo lalu mengikuti Aldo dari belakang menuju balkon apartemen "Kita berdua adalah sahabat Riki dari kecil, lo ingat enggak dia pernah bilang ke kita bahwa untuk masa lalunya bersama Chika enggak usah di bahas lagi setelah insiden itu?" tanya Aldo yang membuat Edo tampak berpikir "Lo benar, Do! Gue ingat sekarang! Gue akan meminta maaf kepada Riki sekarang! Thank's ya sudah ingati gue" ujar Edo lalu pergi mencari Riki Di sisi lain Fika lagi menyuapi bubur yang baru saja matang kepada Raya, Fika mengurus Raya dengan sangat telaten karena Raya hanya tinggal sendiri tanpa kedua orang tuanya. "Lo sudah enggak apa-apa?" tanya Fika "Gue sudah baikkan, Ka!" ujar Raya "Gue enggak nyangka dia berani berbuat seperti itu ke lo," ujar Fika yang masih mengingat kejadian Riki menggendong Raya "Gue juga enggak nyangka, gue takut banget sama dia, Ka!" ujar Raya hampir menangis "Sudah Ray, lo harus berdamai dengan masa lalu lo," ujar Fika "Gue ingin berdamai, tetapi kejadian itu masih membuat gue trauma, Ka!" ujar Raya dengan suara bergetar "Semoga, suatu saat elo bisa berdamai dengan masa lalu lo," ujar Fika memeluk Raya "Gara-gara mereka gue jadi tersiksa, gue harus apa untuk hilangin trauma?" ujar Raya menangis yang membuat Fika tidak bisa berbicara lagi "Lo yang sabar ya, Ray!" ujar Fika "Gue telepon dokter psikolog, ya?" ujar Fika setelah lama diam "Enggak usah Ka, gue udah enggak apa-apa!" ujar Raya "Ya udah , gue cuci ini dulu, ya!" ujar Fika yang membawa mangkuk bekas bubur ke dapur Raya yang melihat Fika pergi langsung menutup matanya, Raya berharap semua kejadian yang dialaminya hanya mimpi yang dia alami. Raya membuka matanya ketika merasa perutnya mulai minta diisi, Raya duduk di tempat tidur dan melihat semuanya telah gelap. "Sepertinya Fika sudah pergi," gumam Raya Raya meraba nakas di sampingnya dan menghidupkan lampu tidur, Raya melihat Hpnya yang terus bergetar menandakan adanya panggilan masuk. Raya melihat layar Hpnya yang menampilkan sederet nomor tidak di kenal oleh Fika, Raya mematikan Hpnya dan mulai berjalan ke arah dapur. Ray menghidupkan lampu di dalam rumahnya, Raya langsung menuju ke arah dapur dan membuka kulkasnya untuk melihat apakah ada bahan makanan yang bisa di masaknya. "Aku lupa belum belanja mingguan" gumam Raya ketika melihat kulkas kosong Raya menutup kulkas lalu berjalan menuju kamarnya, Raya mengambil sweter rajut dan memakai celana jeans berwarna hitam. Raya mengambil dompet dan Hpnya untuk pergi ke minimarket untuk belanja mingguan, Raya keluar dari rumahnya lalu berjalan pergi. Raya masuk ke minimarket dan mulai mengambil bahan belanjaannya, selesai membayar Raya langsung keluar minimarket. Saat Raya akan menyeberang jalan, Raya di kejutkan dengan motor yang melaju kencang ke arahnya dan hampir menabrak Raya namun karena tidak terlalu ke tengah membuat Raya hanya keserempet. Raya terjatuh di pinggir jalan membuat pengendara motor berhenti di tepi jalan tidak jauh dari Raya, pengendara motor langsung menghampiri Raya dan berjongkok di depan Raya. "Lo enggak apa-apa? Sorry," ujar suara di balik helm "Gue enggak apa-apa," jawab Raya sambil membereskan belanjaannya "Semua belanjaannya gue ganti nanti, gue selesaikan urusan gue dulu," ujar pengendara motor lalu pergi meninggalkan Raya yang membereskan belanjaannya "Jangan ke mana-mana, gue bakal balik lagi!" ujar pengendara motor sedikit berteriak ketika sudah sampai di motornya "Terserah," gumam Raya sambil mencari Hpnya Raya menghela napas ketika tahu touchscreen Hpnya pecah, Raya melihat lututnya luka dan mengeluarkan darah. Raya berusaha berdiri tetapi tidak bisa karena merasakan sakit di lututnya, Raya melihat ke sekelilingnya namun tidak ada orang selain Raya. Akhirnya Raya melihat seorang pengendara motor yang berhenti di depan minimarket, Raya berteriak meminta tolong sehingga orang itu melihat ke arah Raya. "Eh, lo kenapa?" tanya orang itu melihat kaki Raya yang berdarah "Gue di serempet orang," jawab Raya "Kok bisa?" tanya orang itu "Nanti gue jelasin, tolongin gue!" ujar Raya yang berusaha berdiri Orang itu langsung membantu Raya dan membantu Raya duduk di kursi tunggu samping minimarket, orang itu langsung berlari masuk ke dalam minimarket yang membuat Raya heran. "Tadi pas beres-beres belanjaan kok enggak sakit ya? Pas tahu ada luka baru sakit," gumam Raya yang melihat lututnya yang terluka "Nih air," ujar orang itu setelah keluar dari minimarket "Terima kasih, ya!" ujar Raya mengambil air dari orang itu "Sini lutut, lo!" ujar orang itu lalu Raya memperlihatkan lututnya "Padahal lo pakai celana jeans tapi masih bisa separah ini ya," ujar orang itu melihat kaki Raya "Ya, dia bawa motor laju banget! Sepertinya lagi balapan," ujar Raya "Oh begitu, Siapa nama lo?" tanya orang itu "Raya Dandelion, lo?" tanya raya balik "Bayu Saputro!" jawab orang itu "Ra, lo tahan sedikit ya," ujar bayu yang menuang alkohol ke kapas "Oke!" jawab Raya Bayu membersihkan luka Raya, Raya meringis ketika merasakan pedih namun Bayu dengan sigap meniup luka Raya. "Sorry, kalau pedih!" ujar Bayu yang membuat Raya tersenyum sambil menggelengkan kepala menandakan bahwa tidak apa-apa Bayu selesai merawat lutut Raya, Bayu langsung duduk di samping Raya dan terpaku ketika melihat Wajah Raya yang terkena sinar lampu. "Bay? Terima kasih ya," ujar Raya yang melihat Bayu hanya terdiam "Oh i-iya , sama-sama, Ra!" ujar Bayu gugup yang membuat Raya menaikkan alisnya satu "Eh, Bay! Bukannya lo ada yang mau di beli ya?" tanya Raya ketika mengingat bahwa Bayu mampir ke minimarket pasti akan ada yang ingin di belinya "Sudah kok, tadi sambil beli air dan p3k untuk lo," ujar Bayu sambil memperlihatkan kantong belanjaannya di motor "Oh, baiklah!" ujar Raya "Di sini lo rupanya," ujar seseorang yang menyita perhatian Bayu dan Raya Raya terkejut melihat siapa yang datang menemuinya, badan Raya sedikit bergetar ketika melihat orang yang sangat di kenalnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD