Bukan Orang Sembarangan

1605 Words

Waktu sudah menunjuk angka tujuh pagi, saat sinar mentari pagi menyusup lembut di sela-sela tirai jendela. Aroma embun yang basah oleh angin pagi menyentuh udara, membangunkan perasaan nostalgia yang samar di dalam hati. Sera duduk di tepi ranjang, matanya yang masih lelah memandang keluar jendela, merenungi semalam yang penuh kelelahan emosional. Ia baru saja selesai menemani Dante yang mabuk, namun tubuhnya yang kecil dan ringkih ternyata masih kuat untuk bangun pagi. Meskipun matanya sedikit berat, ia tetap beranjak dari ranjang, mengenakan jubah hangat, dan berjalan menuju dapur. “Selamat pagi, Nona,” sapa Melly, sang pelayan yang setia, yang sedang menyiapkan sarapan di dapur yang dipenuhi aroma roti panggang dan kopi hangat. Suara lembut Melly mengiringi dentingan piring dan gel

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD