minggu berlalu setelah kepergian Papa. Meskipun begitu, kata duka masih betah bergelayut membalut kami. Daffin saja, terkadang kutemukan diam-diam tengah melamun saat sedang sendiri. "Kopi, Daf?" Aku menawarkan kopi meskipun tahu pria ini tidak menyukai minuman berwarna hitam itu. Tapi disaat dia sedang banyak pekerjaan dan pikiran seperti ini. Kafein sepertinya sangat dibutuhkan. "Nggak." Sudah kuduga si hemat ini akan menolak. Aku ikut duduk di pinggir Daffin, sedikit mengintip isi laptopnya yang dari tadi terus di pantengin dia sambil alisnya nekak-nekuk. Tapi Daffin langsung menggeser laptopnya dan berdecak. "Ya ampun. Pelit banget." Aku menggerutu, sedikit mengusap punggungku dan merentangkan tangan ke atas. Entah kenapa akhir-akhir ini tubuhku terasa mudah lelah, terutama bagian

