Sandra menatapku tajam, kedua tangannya bahkan sudah dilipat di depan d**a, dari tadi tatapan matanya nggak lepas dari aku semenjak keluar dari ruang bimbingan. Apalagi setelah ku ceritakan peristiwa lamaran kemarin, dia makin dongkol mendengarnya. Padahal harusnya 'kan, seneng lihat sahabatnya di lamar. Apa kerena yang ngelamar temennya om Andrian ya? Jadinya dia kelihatan dongkol gitu.
"Lo tega banget sih, Ni, sama gue. Gue punya salah apa coba sama lo, sampai lo lebih memilih ngedahuluin gue, ha?!"
"Ya Allah, San, aku mana tahu coba, kemarin aja kejadiannya serba mendadak. Kamu nggak tahu aja 'kan, kalau kemarin aku sampai panas dingin ngadepin hal itu."
"Lebay lo!"
Aku berdecak, sudah tidak kaget lagi dengan sikap Sandra yang seperti ini, bahkan tidak jarang kalau ngomong sering ceplas-ceplos, tapi di balik semua itu sebenarnya dia sahabat yang baik
"Padahal gue yang kemarin curhat pingin nikah, kok malah lo sih yang di lamar, sebel tau aku dengernya, Ni." Sandra merajuk, tingkahnya benar-benar aneh, aku sendiri saja sampai geleng-geleng kepala.
"Terus kamu maunya gimana? Tukeran? Kamu mau gantiin posisi aku?"
"Dih, ogah, ngapain gue harus nikah sama cowok yang dipilihin sama lo, yang ada ntar rumah tangga gue datar-datar aja kayak muka dia."
Aku berdecak, tapi yang di omongin ada benernya juga sih. "Kamu 'kan, belum mencoba, siapa tahu sifat dia yang sebenarnya bukan begitu."
"Lo itu yang sok tahu, si Daffin itu udah terkenal cowok super hemat seantreo kampus, bahkan sangking hematnya dia, nggak ada bedanya sama yang namanya pelit. Cuma satu hal yang dia miliki dan nggak hemat bahkan lumayan boros."
"Apa?" Aku bertanya sedikit menantang, soalnya yang di omongin Sandra emang bener, tapi kalau ada satu hal dari diri Daffiin yang nggak hemat alias boros, aku jadi penasaran. Kayaknya nggak ada gitu.
"Lo perhatiin aja muka dia. Cakep nggak? Cakep 'kan. Cuma itu doang kelebihan dia yang uwuw sekali, pengecualian akhlak ya, gue nggak tahu. Soalnya gue nggak pernah deket sama dia."
Aku hanya diam memikirkan perkataan Sandra barusan. Lanjutin nggak ya perjodohan ini. Belum lama kami saling diam orang yang kami ghibahin ternyata muncul dari pintu. Aku sama Sandra auto langsung lihat dia, sedangkan dia? Ngelirik aja nggak, cuma diem bentar udah gitu jalan lagi.
"Tuh, apa gue bilang. Siap-siap aja hidup lo lempeng." Sandra tertawa cekikikan, kemudian melanjutkan perkataannya lagi. "By the way, selamat ya, Ni. Gue bahagia kok dapet kabar membahagiakan dari lo. Semoga aja dia emang yang tebaik." Sandra menepuk bahu ku, kemudian beranjak pergi, meninggalkan aku yang masih diam karena memikirkan masa depanku nanti bersama dia. Daffin Rahardian.
***
"Na, harus banget ya aku pakai baju ini?" Aku mengangkat gaun kebaya berwarna putih dengan ogah-ogahan.
"Ya-iyalah. Ini 'kan, hari spesial lo, makanya lo didandanin cantik kayak tuan putri gini. Biar si Daffin makin kesemsem sama lo, jadi malam pertamanya semakin syahdu."
Aku berdecak. "Apaan sih, Na. Nggak ada malam pertamanan, nggak tahu apa kalau aku juga belum siap buat jadi istrinya dia."
Aku kembali merengek membuat Nana langsung memukul kepalaku pakai kuas yang tadi di gunain buat make up wajah aku. Ternyata kemarin yang di jodohin sama aku tuh anaknya om Andi, temennya om Andrian, alias Daffin. Aku kira yang mau jadi suamiku itu om Andi, ternyata salah. Efek kebanyakan nonton film hidayah kayaknya, makanya sampai mikir kayak gitu.
Pernikahan ku dengan Daffin emang sederhana, kita sengaja untuk tidak membuat acara resepsi besar-besaran, karena Daffin menolaknya, katanya dia nggak suka di pajang di tempat umum, padahal aslinya 'kan, di pelaminan. Beda lho tempat umum sama pelaminan. Itu nggak sama. Udah gitu katanya buang-buang duit, belum lagi kalau ngadain prasmanan, tambah ogah dia. Filosofi hematnya Daffin tuh emang nggak beda jauh sama pengiritan, yang hampir mirip sama medit. Emangnya harus gitu apa-apa kudu di itung. Ini aja yang di undang cuma pihak keluarga, temen deket Daffin, sama aku, udah itu doang. Impian ku buat menikah dengan pesta mewah di sulap bak putri raja ternyata hanya wacana belaka, nyatanya malah harus bersanding sama cowok yang lempengnya naudzubillah. Heran juga sih, padahal Daffin 'kan, anaknya orang kaya, tapi nikah aja acaranya ngumpet-ngumpet kayak orang hamidun.
"Ayo ke depan, udah di tunggu lho sama Mas Daffin." Nana mencoba menggodaku dengan menambahi 'Mas' di depan nama Daffin.
Jijique. Apaan pakai Mas, dikira mau jual cireng.
Aku membalas Nana dengan berdecak saja. Setelah itu wanita yang masih berstatus saudaraku ini mencekal lenganku dan membawaku untuk ke tempat akad, dimana Daffin akan mengucapkan ijab untuk merubah statusku menjadi istrinya.
Jantung ku semakin tak karuan saat duduk tepat di samping Daffin, aku sempat menatapnya sebentar, tapi dia tidak membalasnya, mukanya tetep aja datar sambil melihat lurus ke penghulu. Sumpah, ini pengalaman paling mendebarkan selain nahan boker di kelas waktu sekolah TK dulu.
"Sudah siap?" kata penghulu bertanya kepadaku dan Daffin, lelaki yang ada di samping ku ini mengangguk, kemudian aku susul setelahnya. Meskipun demikian, jauh di dalam hati aku benar-benar ingin menolak.
Daffin mulai menjabat tangan penghulu yang ada di depanku, dan beberapa menit kemudian terdengar suara 'sah' dari para tamu undangan setelah lelaki di sampingku ini selesai mengucapkan ijab.
Aku beneran jadi istrinya Daffin ini? Aku mimpi nggak sih? Nana kenapa nggak bangunin aku coba.
"Ni, Daffinnya di cium kenapa?"
"Ha?" Aku cuma ngah-ngoh karena nggak paham maksudnya Sandra. Tadi yang ngomong Sandra, dia datang juga di acara pernikahan aku.
Aku meneguk ludah dengan susah payah, rasanya kayak menelan batu besar yang di gunain sponsbob sama patrik waktu nganterin pizza. Aku melihat ke arah Daffin yang hanya menatapku dengan pandangan datar, tanpa ekspresi. Ya tuhan, kenapa gini banget ya suami aku. Ini artinya aku udah jadi Mrs. Hemat wife? Omo... omo... jinja? Aku bener-bener masih nggak percaya.
Daffin menyodorkan tangannya kemudian aku raih dengan perlahan, setelah punggung tangannya itu aku cium, Daffin mencoba menundukan kepalanya, dan membisikan sesuatu yang tak pernah aku duga...
"Welcome Mrs. Irit. Siap-siap buat ikutin filosofi aku."
Spontan aku langsung mendongak, menatap Daffin yang menyeringai, ekpresi yang sama seperti yang ku lihat di kampus kemarin. Aku beneran resmi jadi Mrs,nya Daffin sekarang?
***
Setelah acara nikahan tadi, aku dan Daffin pindah ke apartemen yang telah di siapkan om Andi. Tidak ada acara drama nangis satu keluarga, yang ada tante Dewi sama Nenek keliatan seneng banget aku di bawa keluar dari rumah ini. Sebenarnya kami diminta buat tinggal bareng om Andi aja, tapi Daffin menolak, katanya lebih baik tinggal sendiri aja biar mandiri. Oh iya, satu lagi, Daffin itu punya adek cewek, namanya Dara, dia kayaknya nggak suka banget sama aku. Bukannya soudzon ya, tapi tiap kali ngelihat aku, pasti natapnya sinis banget, persis kayak kakaknya. Apa mungkin udah keturunan sinis ya? Tapi om Andi ramah banget tuh, udah gitu murah senyum lagi, beda sama Daffin. Kalau emang Dara benar-benar tidak suka sama aku berarti terang-terangan banget dia bencinya.
"Ehm! Ni, ntar malem kado dari gue di pakai ya." Nana menaik turunkan alisnya ke arahku. Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Nggak nyangka sebenarnya kalau dia bakal ngasih aku kado.
Beda Nana, beda juga dengan Sandra. Permintaan dia malah lebih ekstrim. "Ni, ntar malem, kado gue kasih ke Daffin ya, sekalian yang satunya buat lo, harus di pakai, pokoknya gue vc ntar malem."
"Kenapa nggak di kasih ke Daffin langsung, San?"
"Jangan. Gue maunya lo, jadi ntar bisa lebih syahdu dan sweet kalau mau yang iya-iya." Sandra cekikikan sambil menyenggol bahuku. Dasar bocah tengil.
"Nak, Daffinnya di samperin gih, ajak ke apartemen, biar kalian nanti bisa istirahat."
"Istirahat yang enak ya, Pa." Nana mengerling ke arahku yang langsung ditegur sama Om Andrian.
"Jangan di gubris perkataan saudaramu. Sudah sana samperin Daffinnya." Om Andrian memegang bahuku dan mengelusnya pelan, kepalanya ia gerakkan ke arah Daffin yang tengah berbincang dengan teman-temannya. Aku mengangguk, kemudian menuju ke arah Daffin.
"Nggak nyangka, Fin, kalau lo bakal married duluan, sama si Nini lagi."
Rio, salah satu temennya Daffin ngomong asal ceplos aja. Emang kenapa kalau nikahnya sama aku, masalah gitu buat dia.
"Daf, di suruh cepet balik ke apartemen sama om Andrian, biar bisa cepet istirahat."
Daffiin dan teman-temannya langsung menatapku setelah aku selesai bicara.
"Ehm!! Udah, Fin, pergi aja, istrinya udah nggak tahan tuh." Daniel ikut bicara. Aku juga nggak paham, maksudnya nggak tahan apa ya? Otak ku masih polos belum bisa memahami apa yang diomongin Daniel.
"Maksudnya apaan sih, Daf?" Karena nggak paham apa yang dimaksud Daniel, aku berinisiatif buat tanya langsung ke Daffin.
"Nggak apa-apa, masih kecil nggak boleh paham dulu."
Lakban mana lakban? Pingin banget mulutnya aku lakban. Padahal kita sepantaran lho, masih kecil gimana maksudnya. ckckck!
"Udah, Fin. Mending lo turutin aja istri lo, istirahat aja, ntar malem kan harus tempur. Harus kuat dong, biar nggak loyo, iya nggak Niel?"
Daniel mengangguk sambil tertawa menanggapi omongan Rio. Pantesan aja kelakuan Daffin kadang not akhlak, orang temennya aja modelnya kayak gini. Aku sebenarnya juga baru tahu kalau Daffin ternyata punya temen akrab di kampus, setahuku kalau di kampus dia tuh seneng mennyendiri, eh, tahunya pas married ada temen seblengnya juga dia. Banyak hal yang belum ku ketahui tentang dia ternyata.