"Aku kotor."
"Makanya. Biar aku bertanggung jawab dan membersihkannya."
"Aku bekas cowok lain."
"Aku juga bekas cewek lain. Tidak apa-apa. Mau perawan atau Janda toh rasanya sama enaknya."
"Aku masih perawan." Protes Zahra.
"Nanti kalau jadi istriku ya pasti enggak perawan lagi."
"Siapa yang mau jadi istrimu?" Zahra kan belum bilang setuju.
"Oh, kamu mau jadi perawan tua?"
"Ya enggaklah."
"Makanya, menikah denganku."
...
"Saya terima nikah dan kawinnya Anitya Zahra utomo binti Eko prasetyo utomo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Sah?"
"Sah," ucap saksi serentak.
"Alhamdulilahirobilalamin ...."
...
"Mas, kamu mau ngapain?" Zahra beringsut mundur. Pria itu tidak menjawab dan malah langsung melepas celana jeansnya.
"Astagfirullahhaladzim." Zahra langsung menutup wajahnya ngeri.
"Kenapa malu? Sebentar lagi kamu bakalan lihat semuanya."
Zahra semakin menelan ludah dengan susah payah. "Mas, bisa enggak kita ngelakuin itunya besok saja."
"Boleh, tapi jangan lupa laknat dari Malaikat ya."
...
"Mas, nanti kalau anak kita sudah lahir, mau dikasih nama apa?"
"Kan belum tahu cewek apa cowok, emang dek Zahra mau kasih nama apa?"
"Zahra enggak tahu, menurut mas bagusnya apa?"
...
"Zahra, please, dengerin Mas dulu sayang."
"Zahra, Mas minta maaf, ayolah dengarkan penjelasan Mas dulu."
"Enggak usah ngomong. Enggak usah kasih penjelasan, semuanya sudah jelas, Mas cuma cinta sama putri Ella dan akan segera menikahinya. Tenang saja, Zahra enggak bakalan nuntut harta gono-gini, Zahra juga enggak akan ngerocoki hubungan mas sama Ella. Bahkan kalau perlu Zahra akan menganggap kita tidak pernah menikah."
"Zahra ...."
"Diam! Zahra benci sama Mas. Enggak usah dekat-dekat Zahra lagi, enggak usah bilang cinta, bilang sayang kalau semuanya cuma bohong."
"Tapi Mas beneran cinta sama kamu sayang."
"Bohong! Dasar playboy tukang rayu, penipu, Zahra benci sama kamu!"
...
"Tetap saja Zahra sudah bikin mas sakit."
"Sttt ... enggak apa-apa sayang. Mas enggak masalah kok. Mau kamu bunuh mas juga. Mas rela."
"Enggak mau, Zahra gak mau Mas meninggal, maafin Zahra ya ...."
"Iya sayang, enggak apa-apa, Mas akan selalu maafin kamu, tapi Zhara juga mau maafin Mas 'kan?"
"Zahra sudah maafin Mas kok, Zahra enggak mau kehilangan Mas Jovan."
"Makasih ya sayang. Makasih banget karena sudah mau maafin aku, Mas Jovan janji enggak akan pernah buat kamu kecewa lagi."
"Mas Jovan cinta banget sama kmu Zahra."
"Mas Jovan?"
...
Potongan-potongan memori membuat Zahra yang tertidur berkeringat dingin karena gelisah. Setelah beberapa cuplikan kehidupannya dia ingat kembali dengan samar, akhirnya dia menemukan nama pria yang memenuhi seluruh isi cerita itu.
Jovan adalah suaminya.
Baru Zahra mengingat itu, tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit dan adegan yang dia lihat berikutnya membuat Zahra langsung terbangun dengan kaget.
Suara jeritan Jovan dan suara decitan mobil yang mengerem mendadak di aspal membuatnya ketakutan dan akhirnya terbangun dengan napas terengah-engah dan keringat membasahi seluruh tubuh.
"Mas Jovan, anakku, di mana bayiku? Mas Jovan, di mana mas Jovan???" Zahra merasa panik, dia ingat saat dia mengalami kecelakaan dia sedang hamil besar. Lalu bagaimana dengan bayi yang dia kandung dan di mana Jovan?
"Nyonya, tolong tenang." Perawat yang menjaga Zahra langsung mengetahui saat dia bangun dan menghampiri karena melihat Zahra terlihat panik dan ketakutan.
"Jovan di mana? Di mana suamiku?" Zahra ingin bangun, ingin menanyakan keberadaan anaknya. Namun tubuh yang habis koma hampir 10 tahun hanya terasa seperti jelly yang sulit digerakkan.
"Suami ibu akan datang besok, tolong tenang dan ambil napas dalam, jangan panik." Perawat sudah siap sedia dan begitu Zahra tidak bisa tenang dan terus panik, perawat akhirnya memanggil dokter dan memberikan Zahra suntikan agar tenang.
"Mas Jovan ... anakku ...." Suara Zahra semakin lirih dan tidak berapa lama kemudian dia tertidur kembali. Namun dia tidur dengan rasa tidak tenang karena merasa ada sesuatu yang sangat penting sudah direnggut darinya.
***
"Paman, bagaimana keadaan Zahra?" Javier langsung mendapatkan kabar dari Marco bahwa Zahra telah sadar.
Karena laboratorium dan rumah sakit Cavendis sekarang dipegang oleh Javier maka Marco tentu tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya. Apalagi, Javier sebagai saudara kembar Jovan memiliki pemikiran lebih tenang dan tidak mudah panik. Hal yang membuat Marco percaya bahwa keponakannya itu bisa membantunya mengatasi masalah ini.
"Aku sudah melihatnya saat dia tidur setelah bangun karena histeris mencari Jovan. Aku tidak tahu harus bagaimana membicarakannya dengan Zahra, aku ...." Marco berjalan mondar mandir di kamar lalu terhempas duduk di sofa dengan wajah tertekan.
Zahra baru bangun dari koma setelah sekian lama, emosinya belum stabil dan tidak mungkin Marco memberitahu bahwa suaminya sudah menikah lagi dan memiliki keluarga bahagia karena mengira dia sudah meninggal. Namun, jika dia tidak memberitahu Zahra, bagaimana dia harus menjawab pertanyaan tentang keberadaan suaminya?
"Kalau begitu biar aku yang bicara dengan Zahra." Javier menawarkan diri, sebagai saudara kembar Jovan, dia lebih dekat dengan Zahra dari pada Marco.
"Apakah kamu yakin?" tanya Marco.
"Aku akan berusaha." Javier menyiapkan diri sebelum akhirnya menuju ruang di mana Zahra di rawat.
"Baik Bu, hati-hati." Zahra yang sudah lima hari bangun dari koma sekarang sudah mulai bisa menggerakkan anggota tubuhnya meski masih agak lemas dan kaku, namun untuk benar-benar membuatnya berfungsi seperti sediakala Zahra harus siap menjalani beberapa terapi yang sepertinya akan memakan waktu lama, bisa berbulan-bulan bahkan tahun.
Hari ini adalah pertama kali dia harus menjalani terapi, jadi dia butuh pindah ke ruangan lain dengan menggunakan kursi roda.
Javier melihat pemandangan ini ketika masuk ke dalam ruangan Zahra dan seketika seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorokannya hingga semua kata-kata yang tadi sudah dia persiapan dengan matang, sepertinya tidak sanggup untuk dikeluarkan.
Wajah Zahra masih terlihat pucat, tubuhnya sangat kurus hingga dia bisa melihat tulang yang menonjol di pipinya, rambutnya yang dulu indah dan terawat sekarang terlihat tipis dan dipotong pendek.
"Javier?" Zahra melihat seorang pria menggunakan pakaian dokter yang hanya berdiri terpaku di pintu masuk ruang rawatnya.
Senyum seketika tersungging di bibir Zahra saat melihat Javier, karena dulu di mana ada Javier pasti ada Jovan suaminya dan karena Javier ada di sini, bukankah itu berarti suaminya juga sudah datang.
"Di mana mas Jovan?" tanya Zahra penuh dengan mata berbinar. Dia sangat rindu dan ingin bertemu suaminya itu, dia juga ingin melihat anak yang sudah dia lahirkan.
"Jovan, Jovan." Javier tercekat, dia memalingkan wajahnya merasa sesak dan tidak tega untuk mengatakannya.
Dia melihat wanita yang dulu cantik dan berhijab kini duduk di kursi roda dengan tubuh ringkih tapi memiliki senyum penuh harapan.
Javier tidak tahu bagaimana harus menyampaikan pada Zahra, bahwa suami yang dia cintai, suami yang dia rindukan, sekarang sudah menikah lagi ketika dia koma.