Bab 4. Masih Hidup

1171 Words
"Katakan sekali lagi! Jangan bikin aku marah ya Marco." Eko menatap Marco dengan wajah garang. "Kita memang teman, kita juga besan, tapi kematian anakku bukan sesuatu yang bisa kamu jadikan lelucon." Meski sudah hampir 10 tahun, Eko masih bisa merasakan sedihnya kehilangan putri satu-satunya itu. "Marco, tolong jangan bahas Zahra lagi. Itu membuatku merasa sedih." Anisa, ibu dari Zahra yang mendengar perkataan mereka juga sangat tidak nyaman. Dari semua orang, pastilah seorang ibu yang paling merasakan sakit ketika melihat anaknya meninggal. "Eko, Nisa dengarkan dulu. Aku sama sekali enggak ada niat buat bercanda." Marco tahu bahwa orangtua dari Zahra pasti tidak akan percaya dengan mudah. Apalagi, memang dialah yang sudah menipu dengan mengatakan bahwa putrinya sudah meninggal, padahal dia koma dan masih ada di bawah perawatan darinya. "Kamu bilang enggak bercanda, dengerin yo Cox, Zahra itu sudah bahagia di sana, jadi jangan mengatakan sesuatu yang membuat kita sedih sehingga di sana Zahra juga ikut tidak tenang gara-gara kelakuan kita yang tidak ikhlas menghadapi kepergiannya." "Marco, kami sudah berusaha ikhlas, tolong jangan diungkit-ungkit lagi." Nisa menambahkan. "Eko, Nisa tapi Zahra beneran masih hidup. Aku bersumpah!" Marco mengatakan dengan sungguh-sungguh. "Marco! Aku katakan sekali lagi, jangan bercanda! Ini bukan lelucon! Jika kamu tetap ingin bersikap seperti itu, sebaiknya kamu pergi dan jangan datang ke rumahku lagi!" Eko menunjuk ke arah pintu tanda mengusir. Anisa di sebelahnya bahkan sudah menahan tangis karena mengingat kematian anaknya lagi. Marco menghela napas, dia mengeluarkan ponsel di mana ada video Zahra yang masih dalam perawatan. "Ini Zahra, selama ini dia belum meninggal dan ada di Cavendish, orang yang kalian kubur adalah boneka pengganti yang mirip dengan Zahra. Aku sengaja melakukan itu karena saat itu Zahra koma dan tidak ada tanda-tanda akan selamat." Eko dan Nisa yang ingin mengabaikan Marco tanpa sengaja melihat ke arah ponselnya di mana ada seorang wanita yang terlihat sangat kurus lemah dan pucat sedang duduk di kursi roda. Meski wajahnya terlihat sangat tirus dan sakit namun fitur wajah itu akan selalu dikenali oleh mereka di manapun dia berada. Karena pemilik wajah itu adalah putri mereka sendiri. "Zahra!" Anisa yang pertama langsung mengenali putrinya dan merebut ponsel Marco, melihat lebih dekat wanita yang ada di dalam layar. "Apakah ini benar-benar Zahra?" Eko juga ikut melihat dengan jantung berdebar kencang karena merasa tidak percaya. "Aku bersumpah demi nama Allah, ini beneran Zahra, dia masih hidup." Marco mengangkat ke dua jari tanda bersumpah. Nisa menutup mulutnya dan air mata langsung berlinang dengan deras, Eko sendiri juga memeluk istrinya dengan mata merah menahan perasaan campur aduk yang tidak bisa dia ungkapkan dalam kenyataan. Anaknya masih hidup, putri mereka belum meninggal! Ini adalah kabar gembira, namun karena terlalu mencengangkan baik Nisa maupun Eko hanya bisa duduk di sofa dan memeluk satu sama lain dengan menangis kencang. Merasa sangat bersyukur dan terbaru. Marco membiarkan mereka meluapkan semua kesedihan dan rasa syukur karena kabar ini, dia dengan sabar menunggu mereka mengeluarkan semua tangisan dan keluhan selama 9 tahun karena keajaiban yang terjadi. Baru setelah beberapa saat, Eko melihat ke arah Marco dengan mata merah dan air mata yang masih tersisa di pipinya. "Marco, kalah anakku masih hidup, lalu kenapa? Kenapa kamu dari awal tidak memberitahu kami kalau anak kami sebenarnya masih hidup? Kenapa harus menyembunyikannya Marco?" Setelah beberapa saat dan agak tenang, Eko mengusap air matanya dan bertanya pada Marco. "Aku tidak mau kalian memiliki harapan lebih karena saat itu kondisi Zahra benar-benar tidak bisa diharapkan, ditambah lagi, menunggu orang koma itu sangat berat dan penuh tekanan. Aku tidak mau kalian mengalami itu, jadi aku sengaja tidak memberitahu kalian semua dan menanggungnya sendiri agar cukup aku saja yang merasakan." Marco menjelaskan. "Bagaimana mungkin bisa seperti itu? Kami adalah orang tuanya, bahkan jika harapan hidup Zahra hanya 0,0001% maka sebagai orangtua kami pasti akan tetep mau merawat dan menjaganya!" Eko tetap merasa apa yang dikatakan Marco sangat tidak masuk akal. "Eko, mengatakan hal seperti itu memang mudah, tapi kamu harus ingat bahwa aku adalah seorang dokter. Kalian pikir, sudah berapa kali hal seperti ini aku lihat? Banyak!" ucap Marco. "Aku sudah melihat banyak keluarga pasien yang mengatakan akan menjaga dan tetap merawat pasien koma sampai bangun, tapi apa? Setelah 2-3 tahun, kebanyakan dari mereka menyerah, mereka tidak tahan melihat orang yang mereka sayangi hanya terbaring tanpa bisa apa-apa, mereka kehilangan harapan setiap hari dan mereka sedih serta tertekan setiap saat karena keadaan yang monoton, lalu setelah bertahun-tahun tanpa kepastian pada akhirnya mereka memilih membiarkan pasien itu meninggal karena sudah tidak tahan menunggu lagi." "Kami tidak mungkin melakukan itu!" Eko langsung membantah. "Justru aku tahu kalian tidak akan pernah melakukan hal seperti itu, makanya Aku sengaja tidak memberitahu kalian. Karena saat ada seorang pasien koma, maka yang akan merasakan penderitaan bukanlah dirinya sendiri, tapi keluarganya. Jika aku mengatakan Zahra koma, maka dalam 9 tahun ini apakah kalian bisa tetap menjalani hidup seperti biasa? Apa kalian akan bahagia? Tidak! Karena ada Zahra yang akan menguras seluruh tenaga kalian, di mana kondisinya akan selalu membuat kalian sedih dan tertekan." "Tapi tetap saja, aku bapaknya harusnya kamu kasih tahu terlepas dari apapun resikonya." Eko tetap membantah pernyataan Marco. Marco ingin bicara lebih, namun akhirnya mengurungkan diri. Memang, alasan utama dirinya tidak memberitahu orang lain tentang keberadaan Zahra yang masih hidup sebenarnya bukan karena tidak mau membuat mereka sedih dan berharap. Hanya saja, baik Eko dan Nisa hanyalah keluarga biasa, mereka tidak tahu seberapa dalam perairan di kerajaan Cavendish, mereka juga tidak tahu seberapa kotor para bangsawan yang mengelilingi keluarga Jovan. Marco curiga kecelakaan Jovan dan Zahra waktu itu bukan hanya kecelakaan biasa, tapi perbuatan orang-orang yang ada di bawah naungan ibunya, itulah kenapa Marco memilih memalsukan kematian Zahra untuk melindungi keselamatannya. Bahkan Marco tidak berani memberitahu Jovan karena dia sangat percaya dengan neneknya dan Jovan merupakan cucu kesayangan dari ibunya itu. "Oke, aku akui untuk hal itu aku salah dan dengan sungguh-sungguh aku minta maaf yang sebesar-besarnya pada kalian. Semua memang keegoisanku yang suka mengambil keputusan sendiri." "Kalian boleh menghukum aku atau meminta kompensasi apa saja pasti aku tidak akan menolak, hanya saja untuk saat ini yang terpenting adalah fokus pada kesehatan Zahra." Marco meminta maaf dengan tulus. "Apakah kesehatan Zahra tidak baik?" "Apa anakku cacat? Kenapa dia pakai kursi roda?" Seketika ke dua orangtua Zahra memperhatikan lagi vidio itu. Sangat khawatir dengan keadaan putri mereka. "Kalian tenang saja, Zahra tidak cacat, tapi kesehatannya memang tidak bagus." Marco memberitahu. "Kalau begitu kamu sembuhkan dia, kamu kan dokter." Eko mendesak Marco. "Aku bisa menyembuhkan fisiknya, tapi aku tidak bisa menyembuhkan hatinya." "Maksudnya apa?" tanya Nisa. "Saat ini peningkatan kesehatan Zahra berjalan sangat lambat, bukan karena fisiknya yang tidak kuat, tapi ... dia sangat sedih dan tertekan karena tahu Jovan sudah menikah lagi." Zahra seperti kehilangan semangat untuk hidup setelah dia melakukan video call saat itu, itulah kenapa Marco bergegas mencari orangtua Zahra, berharap mereka akan bisa membujuk dan menghibur Zahra agar mau menjalankan terapi dan berusaha sehat kembali. "Astaghfirullah." Eko dan Nisa seketika beristighfar. Mereka tadi terlalu fokus dengan kabar anaknya masih hidup hingga melupakan hal yang sangat penting. Jovan yang merupakan menantu mereka, sudah menikah lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD