10

1067 Words
Kehebohan geng Aiden membuatku sedikit terhibur. Namun, siapa sangka tiba-tiba Aiden bersikap cemburu ketika salah satu temannya ingin duduk di sampingku. Setelah kenyang dengan makanan yang telah dihidangkan mereka. Aiden lekas mengajak aku keluar untuk membeli kucing yang sedari kemarin aku inginkan. "Mau kemana Bro?" celetuk Raefal yang dari tadi menilik pergerakan aku dan Aiden. "Anterin bini gua dulu," jawab Aiden seraya memasukkan ponsel ke dalam sakunya. "Inces mau pergi?" tanya Devano. Aku hanya menganggukkan kepala. "Yahh..." keluh Devano yang melihat responku. "Udah Ayo," ucap Aiden lalu menggeretku dengan memegang bahuku. Aku yang merasa risih dengan tangan Aiden langsung berkelit agar segera terlepas dari cengkramannya. Selama perjalanan menuju parkiran tempat mobil aiden terparkir, setiap orang yang tanpa sengaja bertemu dengan kami menyapa Aiden dan memberikan tatapan penasaran kepadaku. Aku hanya bisa menghela nafas. Kesadaran diriku yang berpenampilan kayak gembel ini memang sangat pantas mendapatkan tatapan penasaran bahkan sedikit tidak mengenakkan. Dengan manis Aiden membukakan pintu mobil untukku dan segera mendorongku dengan kasar agar segera masuk. Lagi-lagi moodku dibuat anjlok karena sikap Aiden yang tiba-tiba berubah menjengkelkan. Mobil meninggalkan kantor Aiden dengan cepat. Lalu tibalah di pet shop dimana aku akan membeli kucing agar tidak kesepian di rumah. Aku dan Aiden masuk ke dalam pet shop. Dengan gesit aku langsung menuju kandang kucing, dan terlihat dua kucing berwarna putih dan hitam. "Aku mau ini, dua-duanya," ucapku pada Aiden yang ada di belakangku. "Satu aja," jawab Aiden. "Dua." "Nanti bikin kotor rumah De." Aku langsung memberikan lirikan tajam pada Aiden. "Oke dua, Mas tolong bungkus ini dua ya," ucap Aiden pada penjaga toko yang berada di dekat kami. Dengan segera penjaga toko tersebut mengeluarkan kedua kucing yang ada di dalam kanda. "Mau gendong bentar Mas," pintaku. Penjaga toko tersebut memberikan salah satu kucing kepadaku. "Aaa... lutunaaa," ucapku gemas mengelus-elus kucing yang ada di gendonganku. "Udah?" tanya Aiden. "Sama perlengkapan kucing boleh?" tanyaku balik. "Yaudah si, pilih aja sesukamu. Aku tunggu di kasir." Aiden langsung pergi meninggalkanku. Aku dengan segera memberikan kucing ini kepada penjaga toko. "Mas bisa tolong sekalian di cek kesehatan kucing ini. Kalau bisa sekalian kasih vitamin atau apa gitu. Terserah deh..." ucapku. "Oke Mbak, bentar ya. Ada lagi?" tanya penjaga toko tersebut. "Emm... sekalian pilihan keperluan kucing ya, dari tempat tiduk, kandang, mainan, makanan, dan lainnya. Pokoknya semua keperluan kucing." "Ini terserah saya?" tanya penjaga toko. "Iya, aku males milih soalnya. Gapapa kan?" "Oke Mbak gapapa." Aku menganggukkan kepala. "Mbak bisa nunggu di sofa sebelah sana," ucap penjaga toko yang menunjukkan ruang tunggu. Aku segera menuju kesana, dan duduk di kursi besi yang panjang. Aiden yang dari luar kini duduk di sampingku. "Udah?" tanyanya. "Belum, masih nunggu. Tadi aku minta Mas-masnya buat check-up kucing, biar dikasih vitamin." "Ohh iya," jawab Aiden. Hening. "De." "Hm?" "Nanti pas pulang langsung Istirahat ya," ucap Aiden. Aku sedikit heran dengan perkataannya. "Emm oke," jawabku. "Nanti malam kamu live streaming nggak?" tanya Aiden lagi. "Emm kayaknya enggak." Firasatku semakin aneh mendengar pertanyaan Aiden. "Emm oke, nanti kamu di kamar aja ya. Jangan kemana-mana." Perasaanku semakin tidak karuan, ada apa dengan Aiden. Setelah memberikan pertanyaan sekaligus perintah yang tidak jelas, Aiden kini sudah berada di kamarku. Bertepatan pada pukul 21:00 WIB. Aku kebingungan ketika melihat wajah Aiden yang sama-sama bingung. Pada akhirnya aku membuka mulutku dan menyuarakan pertanyaan kepadanya. "Ada apa?" "Ahh Nggak papa," jawab Aiden dengan kikuk. "Aku mau tidur, kalau nggak ngapa-ngapain cepet keluar," usirku. "Emm... De, akuu..." ucap Aiden dengan sedikit bergumam. "Kenapa?" tanyaku penasaran melihat tingkah Aiden yang tidak jelas. "Emm... Nggak," jawab Aiden dan langsung keluar dari kamarku. Aku hanya bisa mengerutkan kedua alisku ketika melihat tingkat Aiden yang semakin tidak jelas. Aku tidak tau dengan maskud Aiden bertingkah seperti itu. Akhirnya kuputuskan untuk tidur, karena seharian ini aku sudah capek bermain dengan kedua kucingku. *** Keesokan harinya saat sarapan dengan Aiden di ruang makan. Terlihat dia yang sibuk dengan iPad di tangan kirinya dan kopi hitam yang disesapnya secara perlahan. Matanya yang sedari tadi melirikku kian membuat hati resah. Aku hanya menundukkan kepala dan fokus dengan makanan yang sudah disiapkan Bik Asih. Aku hanya memutar otakku untuk memikirkan rencana hari ini. Setelah sarapan aku berniat untuk olahraga sebentar di tempat gim-nya Aiden, lalu bermain dengan kucing, nonton film, tidur, dan... Tidak tahu. Kemungkinan aku akan membuat konten untuk akun YouTubeku yang sudah lama tak kuisi. Sayangnya aku tidak membawa peralatan videografi yang kumiliki. Aku segera mengambil ponsel milikku yang sedari tadi menganggur di sebelah kanan piring. Kuketik beberapa kalimat lalu ku kirim pada Mama. Aku memintanya untuk memaketkan peralatan videografi punyaku yang masih tertinggal di rumah orangtuaku. Aku menghela nafas, bingung mau ngapain lagi. "Ekhemm," deham Aiden memecah keheningan. "Aku mau berangkat dulu," ucapnya. Aku hanya diam dan melihatnya sekilas. Aiden tiba-tiba berdiri dan menghampiriku. "De..." Aku mendongakkan kepala mendengar namaku disebut. Aiden menjulurkan tangannya kepadaku. Aku menatapnya bingung, sedangkan dia hanya mengangkat kedua alisnya dan mengisyaratkan untuk melakukan sesuatu pada tangannya yang disodorkan kepadaku. Segera ku cium tangannya seperti ketika aku berpamitan pada orangtuaku ketika akan keluar dari rumah. Setelah itu tiba-tiba Aiden menarik kepalaku dan mencium keningku. Mataku sontak melebar, karena sikapnya yang sangat aneh ini. Aku merasa ada yang sangat janggal pada dirinya. Setelah itu, Aiden langsung keluar dari rumah. Sementara aku masih shock dengan perlakuan Aiden. *** Sore hari ketika selesai melakukan semua rencanaku. Tanpa sengaja aku bertemu Aiden ketika hendak mengambil air minum. "De," panggil Aiden. Aku berhenti sejenak dan menatap Aiden. Dia perlahan mendekatiku lalu memeluk tubuhku dan mencium keningku. "Aku pulang," ucapnya seraya melepas pelukannya. "Ahh iya." Aku hanya mampu menjawab seperti itu. "Aku ke kamar dulu ya," ucapnya dan berlalu pergi. Aku pun hanya mematung selepas kepergian Aiden. Kuputuskan untuk melanjutkan perjalananku ke dapur dan mengambil air putih. Tidak hany sekedar mengambil air, aku juga memasak beberapa cemilan. Setelah selesai, aku ke ruang TV dan memilih film yang ingin ku tonton. Ketika di tengah-tengah film diputar. Kulihat Bik Asih yang tergopoh-gopoh berjalan menuju kamar Aiden. Beberapa menit kemudian, Aiden keluar dengan tergesa-gesa menuju ruang tamu. Aku sangat penasaran ada apa dengan mereka berdua. Namun, aku mengingat perjanjian yang telah kutandatangi dengan Aiden. Tetapi hatiku sangat gundah, kuputuskan untuk berjalan melewati pintu ruang tamu seraya mengintip keadaan disana. Ketika aku berjalan dengan melirik ruang tamu, kulihat Aiden sedang dipeluk seseorang perempuan. Sepertinya itu perempuan yang sama saat aku mencari kotak gelang malam itu. Aku terpaku melihat mereka dan tanpa sengaja Aiden melihatku. Aku harus apa? Sebenarnya siapa perempuan itu?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD