MARCO
Tak terasa sudah hampir 10 tahun aku menikah dengan Clarissa. Aku bahkan tidak bisa memahami lagi bagaimana waktu bisa berjalan secepat itu. Umurku sudah kepala 4 dan aku bahagia. Aku bahagia karena keluarga kecil kami terasa sempurna, sangat sempurna.
Aku punya seorang istri yang cantik, punya dua jagoan yang tampan-tampan. Yaa, keinginan kami untuk nambah anak belum terlaksana, entah lah. Dua kali kami program bayi tabung namun keduanya gagal. Padahal waktu Clarissa hamil pertama gak pake program-program, langsung gabres aja. Yeah, mungkin Tuhan masih ingin kita berempat menikmati waktu bersama. Meski begitu, itu semua tidak mengurangi kebahagiaan kami. Sungguh.
“Yah? Gak apa-apakan?” Tanya Bhagas.
“Kamu udah bilang Mama belum Kak?” Tanyaku.
“Mama bilang boleh, tapi ada syaratnya.” Sahut Bhagas.
“Apaan tuh?”
“Tiap libur Kakak harus pulang, tiap minggu dijenguk ke sana.”
“Yaudah kalo Mama bilang gitu, Ayah sih setuju aja, Ga.” Kataku.
“Ah Ayaaaah!” Serunya merajuk.
“Kenapa?”
“Ayah bilang dong ke Mama, jenguknya jangan seminggu sekali. Kan Kakak malu.” Aku tertawa mendengar permintaan Bhagas itu.
“Kalo gak mau dijenguk keseringan, kamu cari tempat kuliahnya yang jauuuuuh.” Usulku.
“Di mana?” Tanyanya.
“Di London, UCL Kak, kamu browsing deh. Itu Faculty of arts-nya favorit banget, kaloga New York kek! Kalo kaya gitu pasti Mama jengukin kamu paling setahun sekali.” Kataku.
“Ayah mah gitu! Sekalian aja suruh aku kuliah di Pluto!” Serunya sedikit ngambek.
“Mama ke mana emang sekarang Kak?” Tanyaku, karena sedari tadi aku pulang dari rumah sakit aku tak melihat Clarissa di penjuru rumah.
“Sama Adam ke supermarket, tapi dari siang belum balik.” Jawabnya. Aku hanya mengangguk, menatap layar TV yang menayangkan berita dunia.
“Ayaaah!” Seru Bhagas lagi. Aku menoleh dan melihat anakku ini memasang raut wajah kesal.
“Kenapa sihhh?” Tanyaku dengan nada meledek.
“Ayolaah, Ayah bujuk Mama, bilang jangan tengokin tiap minggu.”
“Santai Kak, cepet tua kamu nanti. Kuliahnya aja masih beberapa bulan lagi. Mending keterima di IKJ!” Seruku menakut-nakutinya. Aku tahu kemampuan anakku ini, kualifikasinya sangat tinggi untuk sekedar masuk IKJ. Bahkan permainan piano-nya saja mungkin setara dengan standart pelajar-pelajar di Juilliard.
“Tapikan Mama kalo ngomong gak main-main Yah! Udah segede gini aja aku masih suka di jemput sama Mama.” Katanya menggerutu.
“Mama sayang sama kamu.” Kataku.
“I knew it. I love her too, but I'm not a baby boy again Dad! I'm a men now!” Serunya. Aku tertawa mendengarnya.
“Emang udah punya SIM kamu? Belum juga?” Ledekku.
“Ayah gitu ishhh, lagian aku udah punya KTP sihhh!” Sahutnya.
“Oke son, listen. I'll try okay? But you know your Mum, right?”
“Kakak minta Ayah bujuk Mama kan karena Kakak tahu Mama kaya apa, Ayah gimana sih!” Serunya.
“Iya iya! Udah gampang.” Kataku akhirnya mengalah. Bujuk Clarissa? Susah. Apalagi kalo dia udah yakin sama satu hal. Beuh! Susah banget. Ini sih Bhagas numbalin aku judulnya.
“Kamu gak mau coba kuliah di luar negeri emang, Kak?” Tanyaku.
“Aku gak mau jauh-jauh dari keluarga Yah, ribet kalo home sick.” Jawabnya. Aku mengangguk. Bhagas tuh gitu, family man tapi gak mau dibilang manja, maunya deket-deket Clarissa tapi kalo sekolah dijemput sama Clarissa dia malu. Aneh emang anak satu ini.
“Tapi kamu tuh mau tekunin piano apa lukis sih Kak? Ayah Bingung.” Tanyaku.
“Bisa kali Yah langsung ambil 2 program Studi. Jadi di Fakultas Seni Rupa aku ambil Seni Murni, terus di Fakultas Seni Pertunjukan aku ambil Musik.” Jawabnya santai. Aku tahu, dia lebih dari mampu menyelesaikan 2 program sekaligus. Dia tekun, pintar, rajin dan disiplin. Didikan Clarissa emang gak maen-maen.
Kemudian terdengar suara berisik dari arah garasi.
“Mama pulang tuh kayaknya!” Seruku.
Semenit kemudian Adam sudah berlari memasuki rumah dengan tampang lelah. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa, di sampingku, langsung saja aku meraihnya, membawanya kepalanya ke pangkuanku.
“Adam gak mau lagi nemenin Mama belanja. Kapok!” Keluhnya saat aku mengusap-usap rambutnya. Aku dan Bhagas langsung tertawa mendengarnya.
“Kakak bilang apa tadi? Kamu uji nyali nemenin Mama belanja!” Seru Bhagas.
“Emang belanja apa? Kata kamu ke supermarket Kak?” Tanyaku.
“Iya mama bilangnya ke supermarket. Eh ke Jakarta dulu taunya, 5 Mall Yah diputerin sama Mama. Belanja buat toko onlinenya itu. Pusing Adam ya Allah!” Jawab Adam. Lagi-lagi aku tertawa. Nah salah satu keunikan Adam, dia gak pernah manggil dirinya dengan kata ganti aku atau adek, tapi selalu menyebut namanya sendiri.
Dan, yaaap, Clarissa buka toko online, jualan skincare, makeup, parfum branded dengan harga jauh di bawah counter karena member dia banyak banget untuk semua product. Jadi dia sering dapet reedem point gitu, bisa hemat berjuta-juta ternyata. Gila ya? Makeup aja juta-an. Gak ngerti lah sama cewek dan atributnya itu.
Aku menoleh saat Clarissa memasuki ruang tengah, muka dia juga sama capeknya kaya Adam. Di belakangnya, Pak Tono, supir kami membawa barang belanjaannya ke bawah tangga. Penuh. Aku yakin itu belum semuanya.
“Malem ini pada mau makan apa?” Tanyanya. Duduk di lengan sofa yang kududuki. Aku memeluknya, mencium lengannya sekilas.
“Mama masak sop iga aja, kan tadi udah beli iga-nya.” Jawab Adam.
“Okay!” Seru Clarissa. Ia bangkit dan naik ke atas, aku memperhatikan gerakannya yang lincah saat naik tangga. God! Hampir 10 tahun menikah dan dia masih bisa bikin kupu-kupu di perutku rusuh.
Aku menenoleh ke bawah tangga, Pak Tono masih bolak-balik naro belanjaannya Clarissa.
“Mau main badminton gak kalian?” Tanyaku. Bhagas mengangguk antusias.
“Ayok, masih jam 4 ini. Sekalian nunggu mama masak.” Jawab Bhagas.
“I'll pass. I'm too tired.” Jawab Adam. Aku tersenyum mengangguk, mengecup puncak kepalanya.
“Ayok Kak! Siap-siap. Di sport center depan aja. Gak usah ke gor.” Kataku dan Bhagas mengangguk. Aku dan Bhagas ngacir ke kamar masing-masing. Di kamar aku melihat Clarissa yang sedang berganti, aku memeluknya dari belakang.
“Kenapa kamu?” Tanyanya mencoba membetulkan kaus yang ia kenakan.
“Aku gak pernah terbiasa liat kamu gini, you're so amazing, babe!” Seruku.
“Kamu ngomong itu tiap hari, selama 9 tahun lebih.” Bisiknya, membalikan badannya ke arahku, mengecup bibirku sekilas.
“Aslinya emang gitu kok, makanya aku omongin tiap hari.” Kataku. Ia mengangguk, menciumku lagi.
“Aku sama Aga mau batmintonan di depan, Adam gak ikut. Capek katanya.” Kataku sambil menarik baju dan celana pendek khusus olahraga dari lemari.
“Biarin nonton aja dia, kasian tadi abis temenin aku.”
“Iya dia yang bilang kok tadi, kapok katanya temenin kamu belanja.” Kataku, Clarissa tertawa.
“Kamu doang berarti yang gak kapok, babe.”
“Yaps! Kamu minta temenin muterin 100 mall juga aku sanggup kok!” Kataku.
“Udah ah, kamu tuh tiap hari gombaaaal mulu!”
“Engga, seriusan aku!” Kataku saat ia keluar kamar meninggalkanku. Aku tersenyum, God! Aku bahagia punya keluarga ini.
****
TBC