CLARISSA
Sudah hampir 3 minggu Marco berubah, akupun sudah mulai kesal dengan sikapnya. Dia juga tidak mau memberitahuku apa masalahnya kenapa ia bisa berubah seperti itu. Entahlah, aku mulai jengah dengan sikapnya yang acuh tak acuh terhadap hubungan ini, padahalkan yang paling penting dalam semua hubungan itu komunikasi. Apalagi kami sudah menikah. Gila. Dan soal operasi yang ia bicarakan itu?? Sudah selesai dari seminggu yang lalu, aku melihat dia dan tim dokternya melakukan press release soal keberhasilan operasi tersulit itu di website rumah sakitnya.
Aku sih mulai gak masalah ia mengabaikanku, yang jadi masalah adalah anak-anak. Mereka sering bertanya ada apa dengan Ayahnya. Aku hanya bisa bilang kalau Marco sibuk.
“Ma, kakak pengen coba main gitar deh.” Kata Bhagas tiba-tiba.
“Yaudah nanti kita beli aja Kak di Gramed.” Kataku.
“Besok yaa Ma?” Pintanya sedikit antusias.
“Yaudah oke Kak, beres Adam ambil rapot aja kali ya?” Kataku. Bhagas mengangguk setuju.
“Ma? Adam pengen Ayah dong yang ambil rapotnya.” Pinta Adam.
“Yaudah bilang dong nanti, pas Ayah pulang.” Kataku.
“Oke Ma, siap!” Seru Adam.
Sepanjang sore itu aku menghabiskan waktu membuat kue dengan Adam dan Bhagas. Mereka membantu sedikit-sedikit, seperti mengoles kuning telur pada permukaan kue sebelum masuk oven, atau menabur keju di atas kue.
“Ma? Kenapa sih doyan banget bikin kue? Jualan aja Ma.” Tanya Adam.
“Engga ah, mama cuma suka bikin terus dibagi-bagi ke yang lain aja.” Jawabku. Bikin kue sudah selesai, tinggal menunggu oven berbunyi. Kami sedang santai di ruang keluarga, saat terdengar suara mobil.
“Ayah pulang tuh, tumben yaa pulang cepet!” Seru Adam. Aku menoleh dan melihat Marco berjalan ke arah kami, tersenyum lembut. Aku berusaha membalas senyumannya.
“Lagi pada ngapain nih?” Tanya Marco. Ia meletakkan tasnya di meja sebelum duduk di karpet bersama Bhagas dan Adam.
“Nungguin kue-nya Mama mateng, Yah.” Jawab Adam. Marco sedikit menoleh kepadaku, aku tersenyum melihatnya. Ia membalas senyumku sekilas.
“Badminton yuk? Udah lama tahu.” Ajak Marco. Kemudian kedua anakku itu langsung semangat, mereka berlarian ke atas untuk siap-siap.
“Kamu mau ikut gak Clar?” Tanya saat akan naik ke kamar.
“Gak usah, di rumah aja. Mau makan apa kamu nanti malem?”
“Apa aja, yang penting masakan kamu.” Katanya. Aku mengangguk. Detik berikutnya ia sudah naik tangga menuju kamar, berbarengan dengan suara oven berdenting dari dapur. Segera saja aku menuju dapur mengurus kue kering bikinanku.
“Maa! Pergi yaa!” Seru Bhagas dari ruang tengah.
“Oke kids! Hati-hati!” Seruku dari dapur. Lalu terdengar langkah kaki berlarian ke arah luar, seperti itulah Bhagas dan Adam, semangat kalo diajak olahraga sama bapaknya.
Setelah selesai menyusun kue dalam toples aku naik ke kamar, gak ada aktifitas lain. Begitu masuk kamar, pakaian kerja Marco bertebaran di lantai. Gitu deh dia kalo buru-buru, main asal lempar aja.
Aku memungut pakaiannya satu-satu, meletakkannya ke laundry bag yang ada di sudut. Saat melempar pakaian itu ke keranjang, aku mencium aroma aneh. Aku mencium kemeja milik Marco, s**t! Ini bukan aroma parfum-nya. Aku hafal aromanya Marco, parfumnya itu Hugo Boss The Scent, yang iklannya Theo James ituloh. Bukan wangi yang sekarang melekat di kemejanya ini. Ini wangi siapa? Yang jelas ini bukan wangi parfum cowok.
Damn! Marco, apa sih yang dia tutupin?
**
Otakku kacau hanya gara-gara aroma parfume yang menempel di kemejanya Marco. Yaaa, siapa juga yang gak kepikiran kalo di kemeja suaminya nempel wangi parfum lain?
Aku mengalihkan perhatianku ke masak, mencoba melepaskan kemelut yang bersarang di kepala. Saat sedang asik masak, ponselku berbunyi nyaring.
Caca calling...
“Hallo, Dek?” Sapaku.
“Hallo Kak? Di mana?” Tanyanya.
“Di rumah, kenapa?”
“Aku mau beli Sulwhasoo snowise series Kak, di Kakak ada gak?” Katanya menanyakan salah satu skincare yang kujual.
“Ada dek, kemaren baru beli. Mau kamu?” Tanyaku.
“Mau ka, paketan kan?”
“Iya paketan kok.” Jawabku.
“Berapa kak?”
“9,9 juta de, 10 item komplit.”
“Gila! Kok murah? Aku barusan abis nanya ke konter semua sepaket 11,3jt ka!” Serunya.
“Harga konter sama harga di kakak kan beda dek!” Kataku.
“Beda jauh! Yaudah nanti maleman aku ke rumah kakak ya, ambil barangnya.”
“Okay sayang!” Seruku.
Lalu sambungan telepon pun terputus. Aku melanjutkan masak kembali. Sebelum maghrib suara ramai-ramai sudah menggema di ruang tengah, Marco dan anak-anak sudah pulang ternyata. Aku menghampiri mereka semua.
“Pada mandi gih, abis itu bisa solat terus makan malem.” Kataku sambil mengatur meja untuk makan. Mereka semua mengangguk dan naik ke kamarnya masing-masing. Marco pun ikut naik ke lantai dua. Aku melihat punggungnya yang berjalan menjauh, s**t! Kenapa mendadak dadaku sakit sih? Aku kembali kepikiran sama aroma tadi. s**t! Marco!
“Ayah, besok ambilin rapot Adam yaa?” Pinta Adam saat kami sedang makan malam.
“Eh? Mama gak bisa emang?” Marco langsung melirik ke arahku.
“Adam maunya sama Ayah ahh!” Seru Adam.
“Iya dia maunya sama kamu, Mar. Besok aku mau temenin Aga beli gitar.” Jelasku.
“Jam berapa?” Tanya Marco.
“Di undangannya sih jam 8 sampai jam 11 siang.” Jawabku.
“Oke, aku bisa deh!” Serunya dan Adam terlihat semangat.
Setelah makan malam, kubiarkan mereka semua di menonton TV, anak-anak lagi libur, jadi mereka boleh nonton sesukanya.
“Asslammualikum! Hallo!” Terdengar suara Caca dari luar. Aku bangkit dari sofa dan menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.
“Walaikumsalam, dek! Ayo masuk!” Ajakku. Caca datang bersama suami dan anak keduanya Zulfa yang masih berumur 2 tahun. Nurfa, anak pertamanya entah ke mana, mungkin gak ikut.
“Digendong tante Sasa, mau gak?” Tawarku.
Zulfa langsung mengulurkan tangannya padaku, aku mengambil alih gendongannya dari Caca. Caca dan Rizal, suaminya sudah berjalan duluan masuk ke dalam rumah.
“Tante Cacaaa!” Aku mendengar suara Adam bersorak dari dalam.
“Tante bawa martabak nutella mix kitkat greentea nih, pada mau gak?” Seru Caca. Dan menit berikutnya kedua anakku itu sudah asik dengan martabaknya.
“Ca, sakit gigi nanti!” Seruku.
“Biarin sih Kak, kali-kali yaa!” Seru Caca pada keduanya dan mereka mengangguk antusias. Rizal hanya tertawa melihat kami semua.
“Kak Marco mana, Kak?” Tanya Rizal.
“Di atas kayaknya. Nanti aku panggil.” Kataku, ya sejak beres makan tadi aku sudah tak melihat keberadaan Marco.
“Kak, ada SKII ageless set gak?” Tanya Caca.
“Buat mama ya? Kemaren Mama udah nanya dek, kakak belum belanja lagi yang itu udah abis.” Jawabku.
“Mama gak mau beli di konter hahaha tekor katanya, mending beli di kakak hemat 1,5jt.”
“Yaudah nanti aku belanja deh, sekalian dianter ke Mama.”
“Pesenan aku mana Kak?” Tanya Caca.
“Bentar, diambil dulu.” Kataku.
Aku naik ke lantai dua, ke ruang penyimpanan semua barang-barang daganganku. Setelah mengambil pesenan Caca aku kembali turun, ekor mataku melihat Marco yang sedang berbicara ditelefon, di balkon.
“Marco!” Panggilku. Ia langsung menoleh. Ia juga sepertinya mematikan sambungan telefonnya.
“Kenapa?” Tanyanya.
“Ada Caca.” Jawabku, kemudian matanya terfokus ke Zulfa yang sedang ku gendong. Ia berjalan menghampiriku.
“Sini, Zulfa aku gendong. Ada Rizal juga?” Tanyanya. Aku hanya mengangguk sambil memberikan Zulfa padanya.
Boleh gak sih aku curiga kalo Marco lagi selingkuh? Tapi aku gak mau punya pikiran jelek kaya gitu. Sumpah, aku gak mau berburuk sangka sama suamiku sendiri. Tapi..... ah sudahlah.
Aku dan Marco turun berbarengan.
“Wih, angin apa nih Ca, dateng ke sini?” Tanya Marco, basa-basi paling.
“Belanja bedak! Biasa cewek-cewek.” Jawab Rizal.
“Bukan bedak ihhh!” Seru Caca.
“Apalah terserah, kamu makenya kan di muka, aku cuma taunya bedak doang.” Sahut Rizal. Aku dan Marco serempak tertawa.
“Nih dek, 9,9 juta yaa!” Kataku mengingatkan.
“Aku bonusin kak! 10jt tadi udah aku transfer, kakak cek aja.” Jawabnya.
“Thank you!” Seruku sambil tersenyum.
“Tante Caca bedak doang harganya 10 juta? Wihhhh kalo duitnya buat Adam, Adam bisa makan martabak sampai mencret tuh!” Seru Adam dan kami semua langsung tertawa.
“Adam! Apaan sih becandanya begitu, lagi makan juga.” Seruku menegurnya.
“Ya abis Ma, masa bedak doang sepuluh juta? Adam sih mending beli martabak sama sate padang.” Sahut Adam.
“Emang ya, lakik. Semua usia, kaga ngerti soal perawatan-perawatan gini. Taunya dirawat doang sama ceweknya.” Kata Caca. Aku hanya tersenyum memandang mereka semua.
Pukul 10 malam Caca pamit pulang setelah sebelumnya kami ngobrol-ngobrol ringan. Bhagas dan Adam sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Aku pun masuk ke kamarku, dan menemukan Marco sedang asik dengan ponselnya.
Aku menuju kamar mandi, mengusap mukaku sebelum akhirnya naik ke kasur.
“Marco?” Panggilku.
“Ya, kenapa Clar?” Sahutnya, tapi wajahnya masih terfokus ke layar HP.
“Kamu kenapa sih?” Tanyaku.
“Kenapa apanya?”
“Kamu berubah, Marco.” Kataku, Ia masih fokus dengan HP nya.
“Berubah apa?” Tanyanya dengan memasang watados (wajah tanpa dosa).
“Banyak, tapi ini contohnya. Kamu biasanya gak suka ada aktifitas di kamar, apalagi di kasur. Aku biasa pegang HP aja ditegur karena dibilang ngacuhin kamu. Ini? Aku ngajak ngobrol aja kamu malah fokus sama HP.” Jelasku. Aku berusaha menjaga suaraku agar tidak pecah.
“Fine kalo kamu gak suka aku main HP di kasur.” Lalu ia bangkit, keluar dari kamar. Gosh! Bukan itu maksudku. Aku gak nyuruh dia keluar, aku cuma nanya sama dia. Kenapa jadi gini sih?
***
TBC