CLARISSA Selama ini, itulah yang kutakutkan. Takut Marco menyetujui keputusanku untuk berpisah. Air mataku tak mau berhenti mengalir sejak kepergiannya beberapa menit lalu. Entah kenapa, hatiku sangat sesak mendengar perkataannya tadi. Karena sejujurnya, aku tidak siap berpisah dengannya. Aku mencintainya, sebenci apapun aku dengannya aku tahu kalau rasa cinta itu tetap ada. Selang beberapa menit dari kepergian Marco, pintu ruang inapku terbuka. Aku sangat berharap itu Marco, Marco yang menarik kembali ucapannya yang tadi, Marco yang masih mau berusaha mempertahankan semuanya. Karena jika dia benar melakukannya, sepertinya aku sekarang akan menyetujuinya. Aku setuju Marco menikahi Melisa sampai kelahiran bayinya dan kami tetap bersama. Ya aku tahu, aku egois. Saking egoisnya, aku bahkan

