2 Chapter 11

1350 Words
MARCO   Aku menoleh saat Clarissa turun, aku tersenyum menatapnya namun ia tidak memandang ke arahku. Ia terlihat cantik dengan kemeja denim dan jeans warna senada. Dia selalu terlihat cantik sih sebenernya, simple tapi... ahh sudahlah. “Mama udah siap tuh, yuk!” Ajakku pada Bhagas dan Adam. Keduanya mengangguk dan berjalan keluar, Clarissa mengekor di belakang kami. “Dek, kamu mau duduk di depan gak?” Tanya Clarissa. “Mau ma!” Seru Adam. “Yaudah, kamu di depan yaa. Mama di belakang sama Kakak.” Ujarnya. God! Bahkan duduk di sebelah aku aja dia sudah tak mau. Aku masuk ke kursi kemudi, Adam duduk di sampingku, Clarissa dan Bhagas duduk diam di belakang. Rasanya, Bhagas sudah mengerti situasi aku dan Clarissa seperti apa. Ia tidak bersuara sama sekali sedari pagi tadi, beda dengan Adam yang tetap ceria dan semangat seperti biasa.   Bilang apa aku nanti ke mereka kalau aku sama Clarissa jadi pisah?   Hampir satu jam perjalananan yang bisa dibilang sangat diam, kami sampai di rumah Ibuku. Ibu sekarang sudah makin tua, namun tetap aktif. “Hallo Bu, apa kabar?” Sapaku memeluknya. “Baik, kalian masuk ayok!” Aku masuk ke rumah, membiarkan Ibu bersama yang lain. Di dalam rumah sudah ada Zetira dan suaminya, lengkap dengan kedua anak mereka: Amanda dan Nino. “Hallo om!” Seru Amanda. Aku menghampiri kedua anak itu dan memeluknya sekilas, kemudian mendekati Zetira yang memandangku dengan tatapan menuduh. “Dari tadi Zet di sini?” “Semalem Ibu telefon katanya kamu ribut. Kita disuruh kumpul di sini.” Well, aku gak menyangka Ibu malah mengumpulkan kami semua. Semalam itu aku saking kalutnya, jadi aku curhat ke Ibu kalau aku bertengkar dengan Clarissa, minta nasehat enaknya gimana. Eh tapi malah dikumpulin gini. Semua sudah berkumpul di ruang keluarga, aku duduk bersama Adam dan Clarissa dengan Bhagas di samping Adam. Aku bisa melihat kalau Clarissa berusaha membuat keadaan seolah baik-baik saja. Aku tahu itu. Dulu-dulu pun kalau kami ribut kecil ia selalu seperti itu di depan keluargaku atau keluarganya. Meskipun marah, ia tetap berperan menjadi istri yang baik. Ia memegang prinsip kalau masalah keluarga itu selesaiin berdua aja, gak usah ada yang tahu, orang tahunya kita bahagia aja, meskipun sebenernya sedih kalo diceritain mah. Ya, ia memang istri yang baik. Dan aku? Suami durhaka. “Kids! Beli eskrim yuk!” Ajak Faisal, suami Zetira. Anak-anak mengangguk antusias, lalu ngikut Isal keluar rumah. Menyisakan aku, ibu, Clarissa dan Zetira. Kami berempat semua diam.   Jeda cukup lama, kami semua diam tak bersuara. “Kalian kenapa sih?” Tanya Ibu memecah keheningan. Aku melirik Clarissa, ia menunduk. Memandangi jari-jari tangannya. Mungkin saat ini jari-jari tangannya lebih menarik ketimbang aku. “Clarissa? Marco? Kalian ga ada yang mau buka suara?” Tanya Ibu lagi saat kami berdua diam. Kali ini Clarissa memandangku, tatapannya menuntut aku untuk menjelaskan sesuatu. Aku gak sanggup. Aku gak sanggup jujur sekarang. “Marco? Kamu bilang semalem kalau kamu berantem sama Clarissa. Kenapa, kalian kenapa?” Tanya Ibu. Clarissa langsung menatapku garang. “Seriously Marco? You told your mom?” Bisik Clarissa. “Yeah, I'm sorry!” Bisikku. “Kenapa sih? Coba ayo ngomong.” Pinta Ibu. Mendengar itu, aku jadi merasa seperti anak SD yang ketahuan berantem sama temen dan di wawancara sama guru BK. God! Ini lebih serius dari masalah anak SD. Fokus Marco! “Kita mau cerai, Bu!” Seru Clarissa. Aku langsung menatapnya tak percaya. Iya, aku tak percaya ia mengatakan keputusan itu di depan keluargaku. “Kenapa? Kok cerai? Kalian kan selama ini akur-akur aja? Kenapa berantem sekali tiba-tiba mau cerai? Gosh! Kalian udah hampir 10 tahun sama-sama.” Ujar Ibu. “Biar Marco aja Bu yang jelasin kenapa-kenapanya.” Sahut Clarissa. Dia sudah menunduk sekarang. “Marco! Bilang sama Ibu sekarang, kenapa sampai Clarissa bilang cerai gitu??” Tanya Ibu. Aku masih diam. Nyaliku belum ke kumpul semua untuk jujur ke mereka. God! Ini baru Ibu dan Zetira, bagaimana kalau aku bertemu dengan Mama dan Papanya Clarissa? Bisa mati di tempat aku kayaknya. “Kak! Jelasin!” Zetira yang dari tadi diam membuka suaranya. Aku menarik nafas panjang sebelum akhirnya aku membuka suara untuk menceritakan semuanya. Plak! Wajahku panas karena tamparan Zetira mendarat di pipi kiriku saat aku menyelesaikan ceritaku. “Gila kamu Kak! Kamu selingkuhin Clarissa sampai segitunya! Kurang apa dia?” Bentak Zetira. Aku diam, aku gak punya pembelaan. Aku tahu aku salah. 100% ini salahku. “Jawab! Kurang apa Clarissa sampai kamu selingkuhin dia Kak? Sama mantan istri kamu lagi, yang udah jelas-jelas dulu dia tinggalin kamu sama Aga!” Zetira membentakku lagi. Aku melirik Clarissa, matanya kembali berkaca-kaca seperti semalam. Ya Tuhan, aku gak mau malaikatku ini menangis. “Jawab kak!” Seru Zetira. Aku menggeleng, tak punya jawaban. Clarissa sempurna, dia gak punya kekurangan sama sekali. “Terus sekarang si medusa itu gimana?” Tanya Zetira. Aku menoleh ke arahnya, Medusa? She’s think Melisa is Medusa now? “Aku gak tahu, tiap ketemu dia aku ribut terus sama dia.” Kataku, jujur. “Melisa hamil, Marco harus tanggung jawab. Nikahin Melisa, tapi aku udah gak bisa sama Marco, aku bakal ajuin gugatan cerai.” Clarissa angkat bicara. Please, don't. Aku gak mau cerai sama Clarissa. “Clar, Melisa pernah hamil sebelumnya sama cowok lain. Apa buktinya coba kalo ini dia hamil anak aku?” Kataku pada Clarissa. “Kamu jangan jadi pengecut yang gak mau akuin anak sendiri Marco! Kamu yang jujur kalo kamu begituan sama dia. Jangan salahin dia juga lah, aku gak peduli Melisa udah tidur ama siapa aja. Aku juga gak peduli sama dia. Tapi aku peduli sama anak yang dia kandung, anak kamu!” Seru Clarissa. “Damn, Clarissa! Kenapa disituasi kaya gini kamu masih harus mikirin orang lain sih?” Makiku. Clarissa diam, Zetira diam. Ibuku juga tetap diam. Mungkin cuma Ibu yang belum buka suara sejak aku menjelaskan masalahku. “Aku mau kita cerai, Macro!” Ujar Clarissa dengan nada final. No!! Please!! “Engga Clar, aku gak mau kita pisah. Aku sayang sama kamu!” Seruku dengan nada sedikit memohon. “Kamu gak sayang sama aku. Kalo kamu sayang, gak bakal kaya gini.” Katanya kalem. “Kalo kamu gak mau cerai sama Clarissa, terus kamu maunya gimana Marco?” Aku menoleh saat Ibu bertanya padaku. Aku diam sejenak, memikirkan jawaban yang pas untuk didengar Ibu dan semogaaaa dimengerti oleh Clarissa. “Kalo aku poligami gimana?” s**t! Kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutku. “Kamu bisa adil?” Tanya Ibu. Aku mengangguk. “Engga, aku gak mau dipoligami. Kamu silahkan nikah sama Melisa, tapi kita cerai dulu. Dan aku tahu, kamu gak bakal bisa adil Marco. Kamu juga tahu itu.” Kata Clarissa tegas. Aku baru akan mendebatnya saat terdengar suara anak-anak dari luar. Aku langsung diam. Mereka semua sudah kembali dengan eskrim di tangan masing-masing. “Nih ambil satu-satu.” Faisal ngider memberi kami masing-masing satu ice cream. Aku mengambil satu rasa cokelat lalu memakannya. Aku menoleh ke arah Clarissa, ia memberikan ice cream miliknya ke Bhagas. God. Adakah waktu untuk kami berdua untuk obrolin semuanya? Aku gak mau kami pisah. Bener-bener gak mau.   ** **   “Clar, malem ini kamu di kamar ya, please?” Pintaku saat kami sudah kembali ke rumah. Anak-anak sudah duluan masuk rumah. “Please!” Pintaku lagi, ia menatapku tajam. Lalu mengangguk. “Thank you!” Bisikku, lalu ia mendahuluiku masuk ke dalam. Aku masuk ke kamar, Clarissa sepertinya ada di kamar mandi. Aku duduk di kasur menunggunya, gak enak aja kalau langsung masuk ke kamar mandi seperti biasa. Ia keluar, sudah mengenakan piyama tidur. Langsung saja aku masuk ke kamar mandi, saat keluar kamar mandi baju untukku sudah tersedia di kasur. Namun Clarissa tidak terlihat di penjuru kamar. Akhirnya aku keluar, mencarinya. “Besok aja nontonnya, gak capek emang?” Aku mendengar suara Clarissa di bawah. Aku menengok dari atas, sepertinya Clarissa sedang membujuk Bhagas dan Adam untuk tidur. Aku memutuskan untuk menunggu Clarisaa di kamar, dia sudah bilang kan kalau malem ini mau balik ke kamar lagi? Sekian menit menunggu, aku lega saat pintu terbuka dan Clarissa masuk ke dalam kamar. Tapi ia tidak memandangku sama sekali. Ia langsung naik ke kasur dan tidur memunggungiku. “Clar? Jangan tidur dulu.” “Kenapa?” “Maaf, maaf buat semuanya.” “Kamu udah minta maaf berkali-kali. Udah ah.” “Aku gak sangka kalau kita bisa kaya gini.” “Ya kamu kira aku nyangka?” Sahutnya. Aku diam. “Aku gak mau kita pisah, Clar. Aku sayang sama kamu.” Kataku. “Marco, kamu pernah bilang kalau kita itu sebuah Anomali. Kamu tahukan artinya Anomali?” Katanya, ia berbalik menghadapku sekarang. Aku mengangguk, menatap sepasang matanya yang teduh. “Penyimpangan Marco. Kamu ngartiin kita sebagai sebuah penyimpangan. Kamu nganggep aku Anomali yang terjadi di hidup kamu. Mungkin sekarang kamu berbalik arah, nyari jalan bener. Ninggalin penyimpangan itu.” Lanjut Clarissa. Aku tetap diam tak bersuara apapun. “But you're my METANOIA, Marco! You are the part of my journey. Perjalanan tentang perubahan hidup aku, perubahan hati aku, pikiran aku dan perubahan tentang cinta. Mungkin ini saatnya kita untuk berubah.” Tandasnya. Membuatku menelan ludah, ingin sekali rasanya aku menangis. ** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD