Dua

1255 Words
Merlian kembali ke tempat Ucok dengan senyum sumringah, mengetik nomor rekening di ponselnya dan tentu saja mengirim nomor itu ke pria bernama Gustave. Seumur hidup baru kali ini dia akan mendapatkan uang dengan mudah. Tak lama sebuah notifikasi pesan berisi transferan masuk, betapa senangnnya dia, sambil melonjak riang dia melempar topi belel Ucok ke arahnya yang langsung ditangkap dengan sigap bak kiper ternama. “Gantilah topi kau, Bang! Sudah banyak kecoaknya pula kutengok!” cibir Merlian sambil tertawa. “Dibawa ke mana kau dengan mobil bagus itu? Wajah kau sumringah sekali kulihat!” ujar Ucok. “Ada deh, rahasia, pokoknya biaya semester aman, langsung aku kirim ke rekening kampus,” ucap Merlian dengan tangan menari lincah di atas layar sentuh ponselnya yang sebenarnya sudah sangat ketinggalan jaman itu, namun apa lah daya? Ponsel merupakan kebutuhan primer saat ini. Sehingga mau tak mau dia menyisihkan sedikit uangnya demi bisa membeli ponsel bekas di counter pasar itu. Selang beberapa menit, beberapa pengamen menghampiri mereka, memetik gitar dan yang satu memainkan botol yang diisi kacang-kacangan untuk mengiringi lantunan suaranya yang sebenarnya sangat biasa saja. “Melon, Merlian belo’on!” senandung penyanyi amatiran tersebut membuat Merlian mendengus, memang julukannya Melon sering diplesetkan oleh siapapun yang mengenalnya, hingga membuatnya tak peduli lagi. “Terus aja caci, orangnya pulang kampung,” sungut Merlian, meletakkan ponsel bututnya di saku celana. “Melon, Merlian lont-,” putus penyanyi itu membuat bogem mentah dari Merlian tepat di lengannya, mereka pun tertawa setelahnya. “Lon, lupa mau kasih tahu, tadi pas lewat depan warung tante, dia titip salam katanya kamu disuruh pulang, sudah mau ngamuk dia, cepat pulang sebelum diusir!” ujar temannya yang memegang gitar. “Astaga lupa, sudah janji mau gantian jagain warung, cabut dulu ya!” ujar Merlian yang diangguki oleh Ucok sementara dua temannya yang mengamen itu kembali bernyanyi menghibur Ucok yang telinganya sebenarnya sudah gatal mendengar suara sember itu! Dengan langkah cepat nan ringan, Merlian menuju rumah kecil yang ditempatinya selama ini, ada satu kamar di depan, dekat warung, yang merupakan kamarnya, meski hanya kamar berukuran dua kali tiga meter dengan satu kasur lantai kecil dan lemari yang juga tak kalah kecil, namun kamar itu cukup membuat Merlian nyaman, setidaknya kamar di rumah bibinya itu tidak bocor. Keadaan rumah sang bibi pun sama kecil sepertinya, di dalam rumah hanya ada dua kamar yang satu kamar dirinya dan suami, sementara satu kamar milik sepupu Merlian. Daffa namanya, dia saat ini berusia tujuh belas tahun dan duduk di kelas dua SMA. Ya bayi mungil yang tangannya pernah digigit Merlian sampai biru dan terpaksa selalu dijauhkan dari jangkauan kakak sepupunya itu telah tumbuh besar dan tengil pastinya. Meskipun begitu, Daffa tumbuh menjadi anak yang penurut terutama kepada ibunya yang terkenal galak seantero kampung. Kini sang bibi tengah mengandung anak keduanya, yang konon katanya kebobolan karena dia memang tak pernah berencana menambah anak apalagi anak pertamanya sudah besar. “Terus main terus!!” Kan suara menggelegar sang bibi sudah terdengar ketika batang hidup Merlian baru saja muncul. Bibinya itu tengah menyeret galon berisi penuh air padahal perutnya sangat besar. “Ya maap, Melon kan lagi cari duit buat bayar semester,” rungut Merlian, mengambil galon dari tangan sang bibi dan membopongnya, dengan cekatan dia mengatur galon-galon yang baru datang itu. “Beneran enggak dibayar sama baba? Medit banget tuh orang!” ujar sang bibi membuat Merlian semakin memajukan bibirnya. “Siapa yang medit!” ujar suara berat khas kakek-kakek tepat di belakang Merlian dan bibi bernama Alda itu, membuat keduanya terlonjak. Bagaimana bisa orang yang dibicarakan muncul begitu saja? Pantas saja orang mengatakan bahwa umur baba akan panjang karena selalu muncul ketika namanya disebut. “Eh baba Ahong, mau belanja Ba?” sapa Alda dengan senyum terpaksa membuat Merlian ikut menahan senyumnya. “Kaga, lu orang ya enak aja main kata-katain owe,” ujarnya dengan bahasa yang khas. “Terus ada apa Ba? Rumah baba kan bukan ke gang sini?” tukas Alda dengan wajah kecutnya yang kembali diperlihatkan. Untuk apa beramah tamah dengan seorang yang memecat keponakannya? “Ini owe mau kasih uang Melian, tadi yang beli kain datang lagi, dia bilang dia curiga kenapa lu olang kasih halga mulah? Jadi dia bayar kekulangannnya,” ucap baba Ahong cadel. “Serus Ba?” tanya Merlian dengan mata berbinar. “Iya nih, tadi supir sama anaknya datang bayar, anaknya ganteng, coba lu olang masih di toko lumayan cuci mata. Nih gaji lu olang, besok lu boleh balik kelja lagi,” tutur baba Ahong sambil menyodorkan amplop putih ke hadapan Merlian yang diterima Merlian dengan senang. Tak ambil pusing orang yang membeli kain, yang penting gajinya aman. “Perasaan yang beli kain kemarin masih muda Ba, udah punya anak gede?” tanya Merlian. “Bukan, yang beli itu asistennya, orangnya sih sudah tua makanya anaknya sudah gede, udah ya owe balik ke toko lagi, ngomong-ngomong kapan lu lahilan Alda?” tanya baba Ahong. “Minggu ini prediksi bidan sih Ba, doain lancar ya,” ucap Alda dengan kembali ramah setelah melihat Merlian mendapat haknya. “Iya biar lancal lahirannya,” ucap baba Ahong yang kemudian berpamitan pergi. Sepeninggal baba Ahong, Merlian membuka amplop itu dan menghitung jumlahnya, ada satu juta rupiah, dia pun menyerahkan amplop itu ke tangan Alda. “Tante pegang aja uangnya, kalau Melon yang pegang nanti habis,” ucap Merlian. Alda pun menerimanya dan meletakkan di saku daster, lalu dia mengusap perutnya yang terasa mengeras. “Tan, itu air apa? Tante ngompol?” tanya Merlian. Alda menoleh ke kakinya sudah mengucur air bening dia pun menatap Merlian. “Bawa tante masuk Mel, tante mau melahirkan ini,” ujar Alda. Dengan panik Merlian memegang lengan sang bibi dan mengajaknya masuk, membereskan kasur dan membiarkan Alda berbaring. Dia pun berlari ke luar menelepon pamannya untuk segera pulang dan membawa bibi ke rumah sakit. Daffa yang baru pulang sekolah pun ikut panik, memijat kaki sang ibu dan mendengar setiap instruksi ibunya untuk membereskan baju Alda, memasukkan ke tas besar untuk persiapan melahirkan. Tak berapa lama paman Merlian datang dan membawa sang istri serta Merlian ke rumah sakit, sementara Daffa akan berjaga di rumah. Rupanya air ketuban yang rembes dari jalan lahir Alda membuatnya terpaksa menerima tindakan, dia harus di rujuk ke rumah sakit besar untuk operasi saecar. Alda jelas menolaknya, asuransi pemerintah yang dia miliki sudah lama tidak dibayarkan sejak suaminya tidak bekerja lagi karena uangnya untuk kebutuhan sehari-hari. “Tante, jangan menolak, nyawa tante taruhannya,” ujar Merlian putus asa karena sang paman tidak bisa membujuk sang istri. “Mel, tante ada simpenan uang tapi buat semesteran kamu, sayang-sayang kamu kan sudah mau lulus,” ujar Alda menahan sakit, kontraksinya datang namun bayinya terlalu lemah untuk bisa dilahirkan secara spontan. Merlian tidak menyangka sang bibi menyimpan uang untuk kuliahnya, dia pikir bibinya tak peduli terhadap pendidikannya, meskipun selama sekolah bibinya juga ikut membayar biaya sekolahnya. “Tan, Melon habis dapat uang, tenang saja masalah semesteran sudah Mel bayar, tante operasi saja ya,” ucap Merlian memelas, sang suami memegang tangan Alda dan mengangguk. “Keselamatan kamu lebih utama Ma,” ucap sang suami. “Bagaimana ibu, ambulance sudah menunggu di depan, kita berangkat sekarang ya,” ucap sang bidan yang akan merujuk. Alda menoleh ke arah suami dan Merlian bergantian lalu dia mengangguk. Merlian ikut menumpang ambulance bersama sang bidan, sementara pamannya mengiringi dengan mobil yang dipakainya untuk taksi online. Sesampainya di rumah sakit, tubuh Alda langsung dibawa ke ruang tunggu untuk operasi sementara suaminya membayar administrasi. Tersemat doa untuk sang bibi agar baik-baik saja, sungguh perasaannya sangat tidak enak saat ini. . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD