* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Ketemu lagi sama Band Lima Hari. Kali ini ketemu sama Satria dulu yang pertama. Cowok ini punya peran bagian gitar dalam band-nya. Selain Satria, begini pembagian pemegang alat musiknya. Brian sebagai bassist artinya dia pegang bass guitar, Jefran sebagai pemain gitaris elektronik, Wildan sebagai pemain keyboard, dan Dafi sebagai drummer. Jangan tanya siapa vokalisnya. Karena group band yang terbentuk sejak semester 1 hingga detik ini mereka menginjak semester 4 adalah group band dimana semua anggota menjadi vokalis. Oh, kecuali Dafi yang menolak mentah-mentah dengan alasan gak percaya diri sama suaranya.
Padahal demi apapun, pernah Brian sengaja bikin lagu dimana dia memaksa Dafi mau mengeluarkan suaranya pada satu bait lirik, yang mana hasilnya semua penonton jejeritan tiap Dafi nyanyi bagian itu. Entahlah, kenapa juga si Dafi gak percaya diri padahal suaranya mampu bikin orang pingsan? Khususnya cewek-cewek.
Bukan hal yang baru bagi lima pemuda tersebut ketika mendengar banyak gosip miring tentang mereka. Mulai dari anak Band selalu dikenal jadi playboy—walaupun Jefran emang playboy tapi yang lain, kan, enggak—kemudian dikenal sebagai anak nakal dan suka mabuk—hei, Wildan dan Dafi bahkan gak pernah mencicipi sekalipun cuman satu tetes, dan hal-hal buruk lainnya. Tapi yang tidak diketahui oleh orang lain adalah, senakal-nakalnya anak Band, ada kalanya mereka menemukan tambatan hatinya masing-masing lalu berhenti nakal.
Sepertinya kalimat itu terlalu muluk-muluk dan halusinasi mengingat pepatah seperti itu cuman bisa dibuktikan di novel saja, tidak di realita kehidupan. Tapi kelima-limanya bisa mematahkan asumsi itu.
Yang pertama, mari bahas soal Si Emosian, Si Paling Kaku, Si Paling Gak Bisa di Ajak Bercanda...
Satria Ardana.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Pagi ini, Satria udah dibikin emosi sama hapenya yang gak berdering padahal dia udah set alarm buat bangunin dia di jam enam pagi. Sebenarnya, dia tinggal berdua sama ibunya—dia anak tunggal dan bokapnya udah meninggal tiga tahun yang lalu—dan dia bisa aja minta tolong ibunya buat ketuk pintu dan bangunin. Tapi masalahnya, sejak dia mulai menjajaki dunia perkuliahan dua tahun yang lalu—dan sekarang dia ada di semester empat—dia gak pernah lagi minta ibunya untuk bangunin karena jadwal kuliah dia, kan, berubah-ubah. Bisa aja hari ini jam tujuh masuk, besok masuknya jam sembilan. Kata ibunya, mending dia set alarm aja biar sesuai sama jadwal masuk dan ibunya bisa lepas tanggung jawab juga kalau pagi. Gak ada tugas teriak-teriak biar Satria bangun—tapi enggak, kok, sebenarya ibu Satria ini bukan tipe ibu-ibu yang suka teriak dan memarahi anaknya. Sebaliknya, Hera, begitu orang-orang memanggilnya karena emang namanya itu, adalah sosok ibu yang sangat sabar dan tidak pernah ngomong pakai nada tinggi. Sekalipun dulu pas SD Satria nakalnya keterlaluan—contohnya dia pernah mencuri mangga di pohon tetangga dan berakhir dimarahin sama yang punya—Hera akan memberi tahu Satria dengan suara lembutnya bahwa itu perbuatan yang salah dan Satria gak boleh mengulangi.
Terus kalau ditanya kenapa Satria malah emosian padahal ibunya macem ibu peri adalah... gak tahu. Really, Satria gak benar-benar tahu kenapa dia terlahir seperti ini. Padahal almarhum ayahnya juga sabar—eh, atau enggak. Ayahnya gak sabar-sabar amat dan suka marah-marah. Gak banyak bercanda dan kaku juga. Ah, kayaknya sifat buruk Satria ini memang karena keturunan dari sang ayah.
Balik lagi ke masalah awal.
Karena dia bangun kesiangan, alamat dia harus mandi bebek alias mandi seadanya dan ini bukan dia banget karena Satria orangnya gak bisa disuruh buru-buru. Segala sesuatu yang dia lakukan harus sesuai keinginannya, sesuai jadwal, dan rencana. Tapi mendadak semuanya hancur karena alarm sialan.
Dia mengendarai motornya sedikit lebih ngebut dari biasanya demi gak terlambat masuk kelaas. Itu pun dia tidak sempat menunggu ibunya kembali dari pasar untuk berpamitan.
Butuh waktu lima belas menit lebih sedikit sampai dia akhirnya turun dari motor dan lari ke arah gedung yang sudah terjangkau oleh matanya. Memasuki lift, keluar lift, mencari ruang kelasnya di lantai tiga, lalu... mengetuk pintu.
Iya, dia gak sempat mendahului dosennya yang baru masuk ke kelas. Dia masuk ke kelas tepat ketika dosennya juga masih berjaln dari arah ambang pintu ke kursi dosen. Satria gak tahu harus bersyukur atau mengumpat sejadi-jadinya. Ia gak tahu apakah dia masuk ke dalam kategori terlambat atau tepat waktu dan termaafkan. Jadi usai dosennya duduk di bangku dan baru menyadari bahwa ada satu mahasiswa laki-laki dengan kaos putih yang luarnya diberi kemeja kotak-kotak biru tua, dengan tas yang berada di punggung, juga deru nafas yang belu benar tertata, Pak Made menaik turunkan kacamatanya. Mengamati Satria dengan mata memicing membuat jantung cowok itu hampir jatuh ke perut.
Tapi demi menjaga wibawa dan image-nya, dia menegakkan badan, menarik nafas, lalu menampilkan senyum pada dosennya. Berusaha mencuri hati.
“Selamat pagi, Pak. Saya Satria Ardana, mahasiswa Teknik Sipil. Mohon maaf saya terlambat.”
Pak Made mengamatinya dari atas ke bawah, ke atas lagi, ke bawah lagi. Gitu terus ada kali sampai empat kali. Membuat semua mahasiswa yang sudah duduk di tempat masing-masing merasakan bulu kuduknya merinding. Ya jangankan mereka, Satria Ardana juga begitu. Lebih parah malah. Gak ada yang gak takut kalau udah berhadapan langsung dengan dosen asal Bali dengan tinggi badan gak kira-kira ini. Di usianya yang sudah hendak pensiun, Pak Made masih punyabadan yang segar dan sehat lahir batin. Masih bisa mengomel empat jam cuman buat ceramah dengan berdiri tanpa mengeluh. Gila? Iya emang. Gila.
“Kamu mahasiswa saya?”
Satria mengangguk. Masih gak ragu untuk memberi senyuman di bibir. Citranya yang udah jadi salah satu penyumbang harumnya nama kampus di kancah Internasional jelas gak boleh luntur hanya karena satu hal ini.
“Baru datang? Tadi jalan di belakang saya?”
“Iya, Pak.”
“Kenapa kamu gak nyapa saya dari tadi?”
Satria hampir mau membuka bibirnya buat melongo. Bingung. Ini pertanyaan kayak agak keluar jalur gak, sih? Wajib banget emang harus nyapa dia? Toh tadi Satria lari dari lift ke ruang kelas, juga ketemu sama Pak Made pas udah di ambang pintu.
Satria menunduk sekilas. “Maaf, Pak.”
“Kamu gak lulus matkul saya, ya, tahun kemarin?”
Hah? “Saya baru tahun ini dapat matkul Bapak.”
“Ooh...”
Satria kira sesi tanya jawab di antara mereka sudah berhenti sampai sana saja tapi ternyata ia salah.
“Kenapa kamu pakai kaos? Bukannya saya pernah bilang kalau say agak mau ada mahasiswa yang masuk kelas saya dengan kaos? Saya maunya kemeja.”
Kalau ini temen sendiri, mungkin Satria bakal jawab, “Pak, masalahnya ini saya pakai dua-duanya. Pakai kaos juga pakai kemeja. Boleh gak, Pak?”
Tapi mana berani dia bilang begitu.
“Saya sudah pernah bilang begitu, kan, di Kontrak Kuliah dulu awal-awal?” Pak Made melempar pertanyaan pada seisi kelas.
Kalau boleh jujur, Satria gak ingat Pak Made menuliskan peraturan ini di Kontrak Kuliah. Dia cuman menuliskan bahwa harus berpakaian rapi dan tidak boleh memakai sandal jepit serta perhiasan berlebihan. Udah. Toh selama ini beberapa mahasiswa yang pernah berpakaian seperti ini di kelas orang ini pun gak pernah ditegur. Lalu kenapa sekarang beda?
Satria menatap teman-temannya—yang sebenarnya dia gak kenal-kenal amat—buat minta menjawab pertanyaan Pak Made. Ia yakin gak cuman dia yang inget kalau Pak Made gak pernah bikin Kontrak Kuliah kayak gitu. Terbukti juga dari salah satu mahasiswa cowok yang duduk paling belakang kini kelihatan lagi ketar-ketir soalnya dia pakai kaos juga. Malah gak dibalut jaket atau kemeja sebagai luaran.
tapi sial seribu sial, kayaknya gak ada satu pun yang berani membuka mulut menyalahkan dosen. Satria mengumpat dalam hati. Mengutuk mahasiswa di depannya yang ditanya malah menunduk bukannya menjawab.
“Hei, saya ngomong sama kalian, loh.” Pak Made mengetuk-ketuk mejanya dengan pulpen beberapa kali sebagai gertakan. Satria tersenyum. Terima kasih sudah mewakilkan, Pak.
“Sudah, Pak...” jawab semua mahasiswa dengan kompak.
Anjir. Satria Ardana jadi melotot mendengar itu. Sumpah, dia tahu seratus persen kalau jawaban itu adalah bohong. Semuanya menjawab begitu cuman karena takut—ataua bahkan malas—menjawab saja. Sialan. Sial sial sial. Satria merutuk dalam hati.
Pak Made kembali menatap ke arahnya dengan wajah yang seolah mengejek. Merasa menang, Tapi entah kesambet apa bapak-bapak satu itu, selanjutnya yang keluar dari bibir Pak Made bukan kalimat hukuman yang diberikan kepada Satria apa lagi pengusiran.
“Kali ini saya maafkan. Sekarang kamu duduk. Waktu saya sudah terbuang sepuluh menit.”
“Terimakasih, Pak.”
Satria mengambil duduk di salah satu kursi kosong di barisan paling depan karena—yah, jelas, kursi-kursi di bagian belakang sudah pasti penuh duluan. Baru Satria menyamankan posisi duduknya, Pak Made kembali bersuara.
“Pertemuan kali ini saya mau kalian mengerjakan kuis lima puluh soal mengenai materi minggu lalu. Maaf karena memberikan informasi dadakan. Saya sengaja.”
Oh, Satria sangat mencintai hari ini.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
“Ini apaan, sih, anjir?!”
Baru Satria membuka pintu apartemen Jefran—tempat paling aman dan nyaman buat anak Lima Hari berkumpul—ia menemukan botol alkohol di dekat pintu yang membuatnya hampir memendang anggur merah itu. Untung saja ujung sepatunya tak sampai benar-benar menendang dan membuat pecahan di karpet mahal Jefran.
Mendengar suara Satria yang tampak gak enak didengar, Jefran dengan handuk di pinggang tapa atasan langsung memunculkan kepala sesaat sebelum kembali masuk ke dalam kamar.
“Ngomel mulu, si Bapak, baru juga dateng.” gumam Jefran yang mampu didengar oleh lawan bicaranya.
“Lagian. Lo minum pagi-pagi?”
“Bukan. Itu bekas kemarin malem.”
“Terus?”
“Lupa buang, Pak.”
Satria memutar bola matanya jengah. Ia menaruh tas di atas meja sedangkan badannya ia lempar di atas sofa lebar nan empuk warna merah pekat itu. Ia langsung memejamkan mata, memutar kilas balik atas apa yang seharian ini ia alami. Dulu, dia gak pernah percaya sama kalimat yang mengatakan bahwa Hari Senin adalah hari yang membuat banyak orang sebal. Ia tak pernah percaya sampai akhirnya hari ini tiba.
Dari pagi hingga kini jam menujukkan pukul dua siang, tak ada hal menyenangkan yang lewat di depannya. Dia hanya dibuat kesal dengan beberapa orang atau momen yang ia temui. Satria kembali menarik nafas.
Dengan mata masih tak mau terbuka, cowok itu membuka suara. “Wildan sama Dafi kesini jam berapa?”
“Lo gak baca grup emang?”
“Belum buka hape seharian. Kenapa?”
“Mereka baru selesai setengah jam lagi. Kelasnya, kan, sama.”
“Kalau Brian?” Satria bertanya lagi. “Dia, kan, bilangnya mau kesini duluan. Katanya mau ngasih tahu lagu baru?”
“Nah, yang ini yang gue gak tahu. Dia bilang mau kesini duluan tapi sampai detik ini gak ada munculin hidung.”
Satria benci orang yang gak tepat waktu.
Dari jaman dia masih TK, ibunya mengajarkan Satria untuk tidak membiarkan orang menunggu. Jadi dia selalu berusaha datang dan sampai di tempat sebelum orang yang ingin ia temui berada di sana. Bukan berarti seumur hidupnya, dia tak pernah telat sekalipun. Ia pernah. Tapi dua puluh satu tahun ia hidup di dunia, ia hanya pernah terlambat beberapa kali. Hanya butuh satu tangan dari lima jari untuk menghitungnya.
Tapi bukan berarti kali ini dia bilang bahwa dia benci Brian. Benci adalah kalimat yang lugas dan terlalu jahat. Dia hanya... astaga, apakah Brian tidak tahu bahwa waktu adakah emas? Menyia-nyiakan waktu sangat bukan Satria sekali.
“Sabar, Sat, sabar.” ujar Jefran dengan kaos hijau army lengan panjangnya. Cowok jangkung itu duduk di salah satu sofa lainnya dengan tawa mencemooh. “Kali aja dia ada urusan lebih penting. Gak sabaran banget lo jadi orang.”
“Bukan gitu. Lo.. gak tahu, dah. Males cerita gua,” jawabnya kemudian. “Gue numpang tidur, yak. Bangunin kalau anak-anak udah full team.”
“Lo gak ada kelas lagi?”
“Ada, jam empat. Tapi gak ada dosennya.”
“Siapa? Pak Ardan?”
“Ho-oh.”
“Oalah. Ya udin. Gue ke bawah beli rokok dulu, ye.”
Satria mengacungkan jempolnya lalu memilih mengubah posisi tidurnya jadi tengkurap. Dia menumpuk dua bantal sofa untuk dijadikan bantal, menyamankan posisi, seiring dengan suara pintu apartemen yang tertutup, tanda bahwa Jefran sudah keluar. Satria memejamkan mata.
Hari Senin yang menjengkelkan. Maka dari itu ia butuh istirahat agar otaknya tenang, juga emosinya gak gampang meledak.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Tapi bahkan hingga Satria terbangun lagi tanpa dibangunkan oleh Jefran sesuai permintaannya tadi dan mendapati jam tangan di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tiga pas alias dia sudah tertidur satu jam, yang ia temui ketika membuka mata hanya ada tiga orang saja. Dafi, Wildan, dan Jefran yang lagi asik menghadap layar dengan memunggunginya. Mereka bermain PS dengan u*****n-u*****n yang keluar dari bibir jefran karena dikalahkan oleh Wildan.
“Anjing, babi, anjing. Bisa-bisanya gue kalah, Anjir.”
Wildan tertawa terbahak tapi ada nada sombong dalam suaranya. “Gue, nih, udah pro kalau soal beginian.”
“Pro t*i lo?” ujar Jefran tak mau diledek. “Baru sekali menang aja belagu lo.”
“Lah, Bang?” suara Dafi menyapa gendang teliga Satria yang baru beranjak dari tidurnya dan memilik duduk bersandar di punggung sofa. “Udah bangun lo?’”
“Menurut lo aja, dah. Brian mana, nih?”
Jefran meringis. Wildan juga. Dafi juga. Satria langsung mendengus. Sudah bisa menyimpulkan jawaban atas pertanyaan yang ia lemparkan.
“Gak jadi dateng?” tanya gue mengulang. Karena Brian bisa aja bukan gak dateng, tapi belum dateng.
“Lo cek aja, deh, buru hape lo.” ujar Jefran kemudian. “Daf, singkirin dulu itu gelas depannya Satria. Ngeri kalau abis ini dibanting.”
Wildan dan Dafi malah tertawa. Jefran menyengir. Satria cuman menggeleng-gelengkan kepala sambil menunggu ponselnya hidup karena ia tadi memang mematikan benda itu sebelum tidur. Padahal sebenernya Satria juga gak seemosian itu, sih. Dia gak seganas itu kalau marah. Satria sampai heran sendiri kenapa teman-temannya sebegitu sukanya meledek dia dan tempramen yang dia punya.
Group : Lima Hari
Jefran Lee Samuel :
bri cepet bri
ini dafi ama wildan udah di apart
lo kemana etdah
Dafi Renaldi :
tau nih
diamukin bang satria mampus lu
Natama Brian :
anjriiit sori
sumpah reschedule aja gimana
sori sori
lagi ada urusan urgent
talk to u later
Satria kembali mematikan layar ponselnya. Lalu menatap Jefran yang asik makan kacang polong, sedangkan Dafi dan Wildan udah ketar-ketir duluan ngelihat responnya.
“Sabar, Sat, sabar.”
Dia cuman menghela nafas lalu berdiri. “Gue cabut, deh, ya.”
“Ya anjir, lo marah ke kira-kita, Sat? Yang bener aje lo.”
“Kagak, anjir. Lagian Brian bilang emang lagi ada yang urgent jadi ya udahlah.”
“Terus lo mau kemana, Bang?” Dafi menyahuti. “Ke kampus lagi? Kata Bang Jef lo gak ada kelas.”
“Mau balik ke rumah.”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Tapi Satria bohong.
Laki-laki yang kini sedang sibuk memasukkan laptop ke dalam tasnya itu tidak sedang berjalan ke arah rumahnya. Usai tadi berpamitan dan meyakinkan teman-temannya : Jefran, Wildan, dan Dafi bahwa ia tidak arah pada Brian akibat batalnya rencana latihan dan perkenalan lagu baru hari ini, dia langsung keluar dari apartemen Jefran.
Sembari turun dari lift, otaknya berputar kemana Satria harus pergi karena dia sedang malas pulang ke rumah. Bukan apa-apa, bukan juga karena ia tak menyayangi ibunya, tapi ini pure karena dirinya butuh sesuatu untuk menenangkan. Bohong kalau dia bilang dia tidak kesal. Perjalanan dari kampus ke apartemen Jeff memakan waktu setengah jam, belum lagi tadi siang macet, dan Satria harus dijemur di bawah panas matahari agar bisa sampai kesana—demi Lima Hari. Tapi yang ia dapatkan adalah gagalnya rencana mereka karena satu alasan Brian yang tak ia ketahui. Atau setidaknya belum.
Ingatkan Satria untuk menagih itu nanti.
Sebetulnya, Satria bukan tipe teman munafik yang bakal baik di depan tapi ngomongin jelek di belakang. Sama sekali bukan. Maka dari itu ia memutuskan setelah nanti ia sampai di rumah, ia akan menghubungi Brian untuk menanyakan apa urusan urgent yang dimaksud dan kalau itu ternyata gak penting-penting amat, Satria bakal ngomel di depan.
Lalu Satria tiba-tiba mendapat ide kemana ia harus pergi saat ini. Mengingat pikirannya yang sedaang suntuk dan ia yang butuh ketenangan, ia hanya tahu satu tempat yang terlintas di kepalanya.
Perpustakaan.
Bukan untuk membaca buku, tapi karena dia tahu disana itu sepi, gak ada yang mengganggu. Toh, selama ini, setiap kali dia jenuh, yang dia lakukan adalah pergi ke perpustakaan—entah perpustakaan kampus atau perpustakaan kota—lalu mengambil duduk di kursi paling pojok dan paling belakang, menutupi wajahnya dengan buku yang ia ambil asal-asalan dari salah satu rak, kemudian tidur terlelap disana. Atau biasanya dia hanya akan mendengarkan headset yang menyajikan lagu-lagu Lima Hari, mencari inspirasi untuk lagu baru band mereka, sembari arah pandangnya keluar jendela.
Hahaha, kalau begini, Satria jadi terlihat seperti cowok mellow dan kutu buku yang kerjaannya ke perpustakaan buat ngelamun. Padahal gak sama sekali. Walaupun gak punya pacar ataupun gebetan. Satria bukan cowok yang senantiasa bersedih-sedih ria karena statusnya. Selama ini tak ada masalah dengan kesendirian yang ia rasakan.
“Isi buku daftar pengunjung dulu, Mas.” ujar seorang perempuan yang sedang duduk di balik meja. Satria familiar dengan wajahnya karena dia memang sering kesini walaupun sampai saat ini dia gak tahu namanya.
Dia mengambil bulpen di dekat buku merah kotak-kotak tersebut, lalu segera menuliskan nama disana pada kolom nama pengunjung. Dia menutup bukunya sembari menatap jam dinding yang letaknya tepat berhadapan dengan dirinya. Sudah jam setengah empat.
“Mbak, ini perpustakaannya tutup jam berapa, ya?”
“Jam setengah lima, Mas.”
Satria membuang nafas. Ya elah, dia cuman punya waktu satu jam, dong.
“Bukan jam tujuh?” tanya Satria yang sebenarnya sedang membandingkan jam tutup perpustakaan kampusnya. Iya, dia sedang berada di perpustakaan kota, bukan sedang berada di perpustakaan kampus. Kenapa? Karena kalau ke kampus ia harus putra balik dari apartemen Jeff dan itu membutuhkan waktu lama. Dia malas lama-lama berada di jalanan.
Mbak-Mbak penjaga perpustakaan itu menagngkat kepala, sembari menukik alis tajam. Mungkin merasa terganggu karena kegiatannya membaca buku diinterupsi oleh pertanyaan Satria.
“Saya, kan, udah bilang jam setengah lima, Mas.”
Satria sedikit berjingit karena tiba-tiba terdengar nada sewot di dalam kalimat penjaga perpustakaan. Gak mau berlama-lama berurusan dengan wanita yang Satria tebak usianya tiga puluhan tersebut, dia akhirnya segera mengucap terimakasih dan berlalu dari sana.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Satria gak sesering itu mengunjungi perpustakaan kota. Apa lagi, konon katanya, banyak orang yang sering mendapati penampakan hantu mulai dari kuntilanak sampai tuyul. Tapi alhamdulillahnya, setiap kali dia kesini, gak pernah satu kali pun dia mendapati hal-hal seperti itu dan semoga tidak akan pernah.
Sore ini, perpustakaan cukup sepi. Jika sebelum-sebelumnya setiap ia kesini ia masih bisa mendapati minimal sepuluh orang yang sedang kesini, kali ini tidak. Di deretan bangku panjang yang ia pilih, hanya ada tiga orang : dua perempuan dan satu laki-laki yang masing-masing mengambil meja sendiri-sendiri.
Laki-laki itu menyempatkan diri untuk mampir sebentar di rak buku paling depan. Lalu tangannya menarik satu koran dan satu majalah asal-asalan untuk ia bawa ke mejanya. Seperti biasanya, dia mengambil tempat di paling ujung dan paling belakang. Usai meletakkan tasnya yang terasa berat karena laptop yang seharian ia bawa kemana-mana dan menaruhnya di atas meja, Satria menaruh kepalanya di atas kedua tangan yang sudah ia tumpuk, lalu menutup wajahnya dengan koran.
Matanya mulai terpejam. Sedetik, dua detik, lima detik pertama ia gunakan untuk melamun. Pikirannya melayang tiba-tiba ke hari dimana Lima Hari mulai terbentuk, bagaimana awalnya dia dan empat temannya berkenalan, sampai detik ini mereka berlima jadi seperti saudara—tahu luar dan dalam, baik dan buruk, berbagi suka dan duka. Sekitar lima menit kemudian, Satria sudah mulai terbawa ke alam bawah sadarnya. Tapi ada sesuatu yang membuatnya tidak jadi terlelap.
Entah ini hanya firasat Satria saja atau bagaimana, dia merasakan seseorang mendekat ke arahnya. Walaupun dia terpejam ditutupi koran, dia masih bisa merasakan bayangan yang kini berada di depannya. Detak jantung Satria jadi tidak karuan. Ia merasakan bulu kuduknya merinding.seiring dengan hawa dan aura di perpustakaan ini jadi kebih dingin dan mencekam. Tiba-tiba suara teman-temannya yang pernah berbagi cerita kepada Satria tentang pengalaman-pengalaman mistis kala mengunjungi perpustakaan kota terngiang lagi di kepalanya. Seumur hidup, Satria tidak pernah mengalami hal-hal seperti ini. Gak pernah sama sekali dihantui dan bertemu makhluk halus. Diganggu saja tidak pernah. Lalu apakah ini akan jadi yang pertama?
Kemudian pada jari tengahnya dimana tangan kirinya memang terletak di depan koran, ia merasakan sentuhan ringan yang membuatnya tersentak kaget. Satria langsung bangun dan hampir teriak—kalau saja yang dia temui hantu dan bukan malah...
“Mas, sorry-sorry, gak maksud gangguin masnya tidur. Saya cuman mau ambil majalah yang mas pakai ini. Maaf, Mas.” ujar gadis itu dengan intonasi kalimat yang sangat cepat, jadinya hampir kayak ngerap.
Satria mengerjapkan mata. Mulutnya yang tadi terbuka karena kaget dan hampri teriak jadi segera ia tutup kembali. Begitu pula dengan detak jantungnya yang berusaha ia tenangkan. Cowok itu langsung melihat ke bawah, ke arah lantai, tepatnya ke arah kaki perempuan yang berdiri di samping mejanya. Ia memastikan bahwa kaki perempuan itu benar-benar menapak ke lantai. Dan mendapati bahwa jawabannya adalah iya, Satria langsung menghembuskan nafas lega.
“Astaghfirullahaladzim...” Satria beristirhfar sambil mengusap wajahnya kasar. Antara dia pengin misuh ke si Mbak karena kaget-kagetin, kepingin nangis saking takut dan gak kebayang kalau yang dia temui usai membuka mata tadi adalah hantu sundel bolong, atau lega karena ternyata bukan. Semuanya campur aduk jadi satu.
Perempuan dengan rambut terurai dan jepit kecil bergambar kupu-kupu di rambutnya, dress cantik yang sama sekali tidak ketat malah terkesan sopan dengan warna putih tulang seukuran lengan panjang dan bawahan selutut, flat shoes hitam sederhana, dan ringisan pelan dari bibirnya karena merasa tidak enak kepada Satria adalah beberapa hal yang ia dapatkan usai mengamati sekilas penampilan gadis itu.
“Mas, sekali lagi saya minta maaf. Saya gak bermaksud nakut-nakutin.”
Ada yang salah sama Satria.
Kalau ini terjadi pada Satria yang biasanya, seharusnya dia mengomel. Atau minimal berujar sinis karena dikagetin sebegitu parahnya. Tapi kali ini tidak. Seolah ia dihipnotis dengan wajah cantik berpoles natural gadis di hadapannya, Satria malah meyunggingkan senyum lembut dan tawa kecil.
“Gak papa, gak papa. Santai aja. Gue cuman kaget soalnya tiba-tiba kerasa ada yang megang.” jawabnya. “Tadi lo bilang ada urusan apa? Sori tapi tadi masih gak bisa fokus jadi agak gak kedengeran.”
“Saya mau pinjem majalah yang dipegang Masnya.”
Satria mengangkat barang yang dimaksud. “Ini?”
Seingatnya, buku itu memang hanya ada satu di antara deretan majalah yang lain karena cetaknya terbatas. Satria memilih menyempatkan untuk mengamati sebentar. Majalah yang baru keluar dua minggu yang lalu ini memiliki cover didominasi gambar tanaman dan warna hijau. Sekilas dari yang ia baca, ternyata ia mengambil majalah khusus tumbuhan. Maklum, dia kan tadi asal comot aja emang.
“Iya, Mas. Sebenernya saya tadi udah nyari di rak lain, tapi kayaknya cuman ada satu cetakan aja disini.”
Satria menyerahkan majalah itu kemudian. “Ya udah, ini.”
“Gak dipakai, kan, Mas?” tanyanya sedikit tidak enak.
“Dipakai, sih, sebenernya...”
“Oh? Kalau gitu Masnya—“
“Buat alas tidur,” jawab Satria diakhiri kekehan geli. Tapi mendapati gadis di depannya malah melongo atas candaan yang ia lemparkan, cowok itu jadi berdeham sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Gak lucu, ya? Sori, sori. Ambil aja. Gak gue pakai, kok.”
“...Makasih, Mas. Saya duluan kalau gitu.”
Satria mengangguk-angguk canggung. Matanya mengamati setiap pergerakan gadis dress putih tersebut. Lalu mendapati perempuan itu berbalik dan hendak melangkah menjauh—seperti seharusnya—Satria tiba-tiba merasa harus melakukan sesuatu. Jadi...
“Eh, wait. Mbak.” panggilnya.
Si dress putih menoleh lagi. “Iya?”
Satria merasakan degup jantungnya kembali kencang. Oke, ini bakalan aneh kalau dia tiba-tiba ngomong begini tapi Satria bertekat membuang rasa malunya. Jadi...
“Duduk di sini aja gimana?” tanyanya sok dengan nada santai. “Saya... sendirian, kok.”
Udah Satria tebak, sih, kalau ajakannya ini bakal jadi canggung dan aneh banget mengingat masih banyak meja dan kursi kosong yang bisa dipilih. Tapi, Satria ingin. Dia butuh temen ngobrol dan dia pengin mbak-mbak ini stay a little while sama dia disini.
Gak jelas? Iya, Satria tahu. Dia aja juga lagi bingung kenapa tiba-tiba bisa sok kenal sok deket sama cewek padahal biasanya dia kagok banget kalau masalah beginian. Tapi untuk kali ini, cantik dan lembut suara perempuan ber-dress putih membuat Satria merasa hangat. Dia tertarik berbincang lebih jauh. Dan mengetahui bahwa si dress putih tidak bersama siapa-siapa di perpustakaan ini, tidak ada salahnya jika Satria mengajaknya untuk duduk disini saja bersamanya, kan?
“Kalau gak keberatan, sih. Tapi misal Mbaknya gak mau atau gak bisa juga gak apa-apa,” lanjut Satria cepat. Takut jika permintaannya terlalu berlebihan sebagai orang asing yang baru kenal hari ini. Namanya aja dia belum tahu.
Tapi kemudian senyum manis kembali muncul melengkung di bibir gadis itu, membuat Satria melengkungkan senyumnya juga. Padahal belum juga jawab apa-apa.
“Saya duduk disini aja kalau gitu,” ujar si dress putih lalu menaruh tas selempangnya di atas meja dan mulai duduk di hadapan Satria.
Apa Satria bilang? Gadis ini sungguh cantik. Cantik yang berbeda dari perempuan lain. Karena setiap kali dia tersenyum—padahal senyumnya kecil dan hampir tak terlihat kalau tidak diamati baik-baik, kemudian suaranya yang lembut dan mengalun indah di telinga, membuat Satria merasa.. hangat?
Entahlah.
Jangan suruh dia menjelaskan apa yang kini ia rasakan karena ia juga tak tahu.
Tiba-tiba saja lagu A Girl in a White Dress terngiang di kepala Satria seiring dengan gadis cantik di hadapannya yang membuka buku dan mengambil pensilnya. Bulu mata lentik itu, kulit putih bersihnya, rambut halus hitam legam sepanjang bawah bahu, setiap gerakannya yang anggun, jemarinya yang lentik, senyum yang tak kunjung pudar, rasanya semua itu menyihir Satria.
A girl in a white dress
The light moonshine, on her virgin body
Only one hundred steps
And I can see her eyes
My heart beats faster and faster
But all of a sudden she turns back
“Masnya bisa lanjut tidur. Saya janji gak bakal ganggu.” ujar perempuan itu lagi.
Satria terkekeh. “Santai aja. Saya kayaknya gak bisa tidur lagi, sih.”
“Loh, ka—“
“Enggak, engga. Bukan karena kamu yang duduk disini. Cuman emang udah gak ngantuk aja.”
“Ooh... kirain...”
“Hehe, bukan kok,” Satria memutar otaknya untuk melanjutkan pembicaraan. Apa lagi dia memamng bukan tipe manusia yang mudah bergaul dengan orang baru walaupun dia mau. Dan sekarang dia benar-benar merutuki kelemahannya yang satu ini.
Satria mengamati perempuan yang duduk dihadapannya itu. Gak sadar, tiba-tiba dia menopangkan dagu di tangan yang ia taruh di atas meja, merasa tertarik untuk mengamati gadis ini lebih lama. Satria terus berdoa dalam hati semoga si cewek gak sadar kalau lagi diamatin sebegitunya.
Satria berdeham, berusaha mencuri atensi gadis itu. Benar saja dugaannya, si cewek akhirnya mengangkat kepala dan dari buku yang dia baca. Mengangkat alisnya karena Satria seperti hendak bicara sesuatu.
“Ngerjain apa?” akhirnya Satria benar-benar buka suara.
“Ah, bukan ngerjain, sih, baru baca-baca aja buku referensi.”
“Buat?”
“Tugas.”
“Ooh...”
Satria menggaruk belakang kepalanya grogi. Ia ingin sekali menanyakan sesuatu. Tapi melihat gadis ini fokus membaca begitu, ia takut mengganggu.
"Mau nanya sesuatu, ya?" tanya gadis itu dengan kekehan kecil di akhir kalimatnya.
Satria langsung tergagap. "Eh? Hehehe, keliatan banget, ya?"
Cewek itu hanya tersenyum, kemudian mengangguk-angguk.
"Boleh... kenalan?"
"Oh, astaga..." cewek itu tertawa, lalu tak sungkan langsung menjulurkan tangan. "Aku Kaila Ayunda."
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *