Wildan : Barter

3322 Words
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Setelah malam dimana gue dan Kanya menghadiri DTS berdua, gue nganter dia pulang. Gue bahkan lupa kalau gue harusnya masih nemuin anak Lima Hari buat sekedar ngumpul atau foto bareng selepas acara kayak biasanya. Gue terlalu excited karena membawa gadis ini. Setelah menempuh perjalanan yang gue akui agak jauh, pas gue mau turun dari motor, dia tiba-tiba menghentikan pergerakan gue. Kanya gak mengizinkan gue masuk dan bertemu ibunya. Padahal, gimanapun gue kan gak enak karena abis bawa anak orang sampai malem dan gak mampir masuk dulu. Tapi Kanya tetap menolak halus. “Gak usah, Kak. Repot nanti ditanya-tanya sama Mamaku.” “Loh, gak papa, dong? Kalau ditanya, ya, dijawab.” Tapi dia meringis, tetap menggeleng. “Kapan-kapan aja, deh, Kak—“ “Eh?” Gue langsung tersenyum geli. “Maksudnya bakal ada kapan-kapan gue kesini lagi?” “Eh,” dia ikut terkejut kemudian kaget sama kalimatnya sendiri. “Kak, maaf, maaf. Bukan gitu maksudku, aduh—“ “Kanya, hei. Gak papa,” gue ngomong gitu tapi sambil terkekeh. “Serius, gak papa. Santai aja sama gue.” “Beneran, Kak, please jangan salah paham. Aduh, aku kesannya jadi berharap banget, ya, tadi, tuh—“ “It’s okay, Kanya. Lagian gue juga emang ada rencana ngajak lo keluar lagi... mungkin.” Gila. Gila lo, Wildan. Gue mengumpati diri sendiri. Sejak kapan gue bisa seberani ini sama cewek? Sejak kapan gue belajar ilmu modus ke cewek? Gue jadi kayak gak mengenali diri sendiri aja kalau gini. Tapi, ya, gimana lagi. Udah terlanjur juga keluar dari mulut gue itu kalimat. Jadi, karena udah terlanjur basah juga, sekalian aja gue nyemplung. “Boleh, gak?” lanjut gue meminta jawaban. Dia mengerjap, terlihat kaget sama kalimat gue tadi, juga ada sorot bingung dalam matanya. “Errr, emang... gak papa?” “Apanya yang gak papa?” “Keluar sama aku?” Gue ketawa. “Siapa yang gak ngebolehin juga, sih?” Dia meringis. Waktu itu udah malam. Jalanan sepi dan yang ada hanya penerangan dari lampu-lampu tiang pinggir jalan dan lampu terang dari rumah-rumah di komplek tersebut. Tapi gue masih bisa menangkap pipi gadis ini yang memerah. Astaga, Kanya blushing? “Gimana? Boleh, gak, gue kapan-kapan ngajakin lo keluar lagi?” “...oke.” Senyum langsung melengkung di bibir gue setelah mengantongi jawaban dari Kanya. Kepala gue mengangguk-angguk. “Oke, gue pulang dulu kalau gitu.” “I-iya, Kak. Hati-hati.” “See you.” Dia tersenyum salah tingkah. “See you.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Anak ibu, nih, kenapa belakangan suka-suka senyum sendiri, ya?” Gue menoleh cepat ke arah ibu yang mengambil duduk di sampingnya, membawa setoples kukis, dengan kepala mendekat ke arah gue—salah, tepatnya ke arah hape yang gue pegang. “Bu...” Gue berdecak sambil mematikan ponsel, ibu malah ketawa. Udah gue tebak, sih, pasti abis ini ibu bakalan ngeledekin gue abis-abisan, plus nanya-nanya dari A-Z. “Cie, kamu udah punya pacar, ya?” “Astaga, kesimpulan dari mana, tuh? Ngarang banget ibu, nih.” “Terus kamu main hape senyum-senyum chat-an sama siapa? Pasti cewek, nih.” “Iya, emang cewek.” “Tuh, kan!” ibu berseru heboh, kemudian turun dari sofa untuk berlutut menangkap Felicia, adik gue, dalam gendongannya seelum kembali duduk di samping gue seperti semula. “Ah, abangmu udah mau punya pacar, loh, Dek.” Ibu ngomong sama Felicia udah kayak Felicia nih ngerti diajak ngomong kayak gitu. Adik cantik gue itu aja ngomong masih belepotan mengingat usianya baru tiga tahun—atau lebih, entahlah, jangan lupa kalau gue, nih, lupaan banget jadi orang. Gue mendekat ke arah ibu untuk mencium pipi Felicia. “Nggak, Bu. Ini cewek, tapi ini Tiara,” jawab gue sambil menunjukkan layar ponsel gue yang berisi ruang obrolan antara gue dengan keponakan tersayang itu. Gue gak bohong, dari tadi gue senyum-senyum, tuh, emang chat an sama Tiara. Bukan sama cewek lain yang kata Ibu adalah pacar gue itu. Tapi kalau alasan kenapa gue senyum-senyum pas chat an sama Tiara adalah.... ...karena yang gue bahas sama Tiara adalah soal Kanya. Ketebak, gak? “Hah, ya Allah, Nak... Kirain chat sama cewek. Ah, kamu nih ngecewain ekspetasi ibu aja kalau gini, mah!” Gue ketawa. “Ya ibu, sih. Ngapain juga ekspetasi kalau aku chat an sama cewek.” “Ibu, kan, pengen liat kamu punya pacar. Masa udah dua puluh satu tahun—dua puluh satu loh, Wil—“ “Baru mau dua satu, Bu, bukan udah dua satu.” “Halah, sama aja. Orang kamu bulan depan udah ulang tahun, kok. Kamu udah umur segini, masa kamu gak pernah naksir cewek, sih, Nak?” “Pernah, Bu. Aku kan juga manusia biasa.” “Nah, itu. Kenapa gak ada yang dibawa ke rumah?” “Ya gak pernah sampai pacaran, kok, emang. Naksir kan bukan berarti aku harus gerak biar pacaran, kan?” Ibu mencebik mendengar jawaban gue sambil tangannya sibuk menata rambut Feli. “Kamu, nih, nanti jomblo terus gimana, hayo? Temen-temen kamu—siapa, tuh, si Jefan—“ “Jefran, dia aja udah bolak-balik punya pacar. Masa kamu malah kayak begini. Orang anak Ibu juga gak kalah tampan, kok.” Ya elah. Gue jadi ketawa denger ibu ngomong gini.  Dia ngasih tahu gue buat cepet punya pacar seolah gue nih udah umur 30 tahun dan harus segera menikah. Padahal, kan, ibu-ibu di luar sana malah lebih seneng kalau anaknya gak pacar-pacaran. Emang ibu gue, nih, beda dari yang lain. “Ya jangan dibandingin sama Jefran, dong, Bu. Emang ibu mau apa aku jadi playboy yang suka ganti cewek mulu?’ “Jangan, lah!” “Nah, makanya,” gue berdiri dari kursi dan menyimpan ponsel di saku celana. “Pokoknya ibu doain aja, deh, semoga aku ketemu sama cewek yang tepat. Jadi bisa sekalian langgeng dan bisa nikah.” “Aamiin! Amin paling serius!” Gue ngakak lagi. Aduh, Bu... * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sebenernya, tebakan ibu juga gak salah amat-amat, sih. Yang bikin gue senyum-senyum sendiri belakangan itu emang cewek, tapi bener memang Tiara, gue gak bohong. Tapi, kan, topik yang dibawa ponakan gue itu adalah topik tentang Kanya. Saat ibu menegur gue, percakapan sama Tiara lagi serunya-serunya. Ponakan gue itu bilang kalau dia bisa membeberkan semua rahasia tentang Kanya yang cuman dia doang yang tahu pada gue, demi lancarnya PDKT yang hendak gue lakukan. Kalau gue inget-inget, ini udah tiga hari setelah gue da Kanya menghabiskan malam bersama dengan nonton DTS 21. Setelah hari itu, gue belum pernah lagi berkomunikasi sama dia karena, well, katakanlah gue ini emang ga bakal deketin cewek. Jadi gue agak gagu walaupun sebenarnya tahu apa yang harus gue lakuin setelah ini. Tapi alasan keduanya adalah, karena gue lupa minta nomor dia. Jadi, ya, jangankan ketemu, ngobrol lewat chat apa lagi langsung aja gak pernah. Maka dari itu, sore ini gue berniat ngajak Tiara jalan karena suatu niat terselubung. Gak terselubung juga, sih, karena ini malah Tiara yang sebenarnya punya ide. Sebelum gue melangkah lebih jauh, sejujurnya gue udah pernah mikir : apa gue beneran suka atau gimana? Karena balik lagi, kalau ada yang kenal deket sama gue, mereka pasti tahu kalau gue paling gak bisa sembarangan milih cewek. Sangat selektif dan hati-hati. Maka dari itu, tiga hari gak melakukan apa-apa demi mendukung proses pendekatan diri itu bukan berarti gue diem aja. Tapi gue juga mikirin ini mateng-mateng. Beneran work out gak, nih, kalau misal gue bener deketin Kanya? Setelahnya, barulah gue ngechat Tiara buat tanya-tanya soal Kanya biar kenal lebih dalam aja. Gue tahu kalau mau tahu sifat seseorang, harusnya emang langsung tanya ke pihak yang bersangkutan dan ambil kesimpulan sendiri, bukan malah kata orang. Tapi Tiara ini anaknya jujur, gak pernah menutup-nutupi dan melebih-lebihkan sesuatu, makanya gue percaya. Terus kemarin malem, mungkin karena Tiara capek lihat notif Whats App nya dari gue melulu, akhirnya dia telepon gue. “Kak, gini, deh. Besok, kan, tanggal merah, nah aku libur. Gimana kalau kaka ajakin aku jalan-jalan, terus traktir di Burger King—“ “Hah, kamu apa-apaan, sih, telpon tiba-tiba minta traktir?” gue mengernyit bingung. “Loh, ini, tuh barter, tahu namanya! Kakak nraktir aku makan, nanti aku kasih informasi soal kak Kanya lengkap buat kak Wil!” Nah, karena penawaran itu menarik, jadilah gue mengiyakan kesepakan tersebut dengan senang hati. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Bu, aku mau keluar, ya.” “Heh?” Ibu yang lagi main sama Feli di ruang tengah itu langsung noleh cepat dan mendongak dari tempatnya duduk mengamati gue yang udah rapi dengan setelan kasual. “Mau kemana? Kok dadakan, sih?” “Mau jalan sama Tiara.” “Dia minta anter kamu kemana?” Gue meringis dalam hati. Mengingat selama ini gue emang sering jadi supir buat ponakan gue itu, ibu jadinya apal kalau misal gue keluar sama Tiara, pasti gue cuman disuruh nganter atau nemenin bocah itu. Tapi karena gue anaknya gak suka bohong apa lagi sama ibu gue sendiri, gue memilih jawab jujur. “Bukan nganterin dia, sih. Aku emang mau ke Burger King sama dia.” “Kok tumben?” “Ya sekalian mau minta bantuan.” Dan dari pada ibu tanya lebih lanjut yang mana bisa-bisa gue baru berangkat satu jam dari sekarang, gue memilih cepat-cepat menyalimi tangannya dan mencium gemas pipi gembul adik gue. “Ibu titip satu juga, ya!” “Iya, siap.” “Jangan lupa pamit sama ayahmu dulu. Dia lagi nyuci mobil di depan.” “Gue mengangguk menurut lalu mengucap salam, tanda bahwa gue udah siap berangkat. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Tir,” gue mengamati keponakan gue sambil meneguk ludah. “Kamu, tuh, emang doyan atau laper, sih?” Gue beneran gak ngerti kenapa bisa Tiara memesan makanan sebanyak ini dan sudah menyisakan sedikit saja. Burger King yang dipesan bahkan habis seorang diri padahal sejak awal datang ke meja mereka, dia pikir itu untuk berdua. Benar-benar luar biasa adiknya yang satu ini. “Kamu belum makan siang emang?” “Udah.” “Perut kamu bisa nampung segitu banyaknya, kok bisa?” Tiara menyeruput sodanya lalu mengusap bibir dengan tisu. “Kak, makanku, tuh, emang banyak tahu! Makanya gemuk, kan, aku?!” Gue mengernyitkan dahi gak setuju. Tiara ini bukan gemuk, hanya saja karena ibunya juga berbadan tidak kurus—gimana, ya, nyebutnya, gak gemuk tapi gak kurus, ditambah tinggi badan yang cenderung pendek buat cewek seumuran dia. Tapi itu juga bukan karena faktor makanan banyak, tahu kan mitos bahwa ada cewek yang diberkahi dengan kemampuan makan banyak tapi gak menambah berat badan? Nah, itu sangat Tiara sekali. “Terserah lagi,” gue berucap lalu menatapnya serius. Saking seriusnya sampai-sampai kedua tangan gue udah terlipat di atas meja macem anak SD yang harus lomba diam biar bisa segera dipulangin. “Jadi gimana, nih?’ “Gimana apanya?” “Tir,” gue mendesis mengancam. “Kamu udah kakak traktir segini banyaknya, jangan bilang kakak bakal pulang pakai tangan kosong, loh, ya.” Bocah di depan gue malah tertawa tanpa rasa bersalah, kini mendekatkan mangkuk es krimnya ke depan dia. Astaga, belum kenyang juga? Belum mau berhenti makan beneran, nih, dia? “Santai, Kak, santai. Jangan marah mulu nanti cepet tua. Kalau keriput, kak Kanya gak bakal mau sama Kak Wil.” Gue melotot mendengar itu, kemudian langsung mentralkan ekspresi wajah, takut beneran keriput karena kebanyakan ngamuk sama bocah bernama Tiara ini. “Bentar, ya. Pertanyaan pertama dari aku, nih.” Gue mendengarkan dengan seksama. “Kakak beneran udah fiks, udah pasti, udah yakin, mau ngedeketin kak Kanya?” “Iya.” “Cie....” Gue menatapnya datar, dia makin ngakak. “Oke, deh. Kalau gitu inget ini baik-baik, ya, Kak. Aku gak mau kakak bercanda doang—ya, aku tahu sih kakak bukan playboy—tapi pokoknya kak Kanya gak boleh disakitin dan diPHP-in. Kalau sampai kak Wil jahat, aku bakal musuhin kak Wil seumur hidup!” Haduh, bocah ini. “Iya, iya.” “Janji, gak?” “Astaghfirullah, Tir. Kamu gak percaya sama kak Wil?” “Ya mana aku tahu. Aku kan belum pernah tahu kak Wil pernah nyakitin cewek apa gak.” Gue mendengus. Kemudian mau gak mau mengaitkan jari kelingking gue ke jari kelingking adik gue yang menyebalkan ini. Masih dengan wajah datar, gue berujar. “Iya, janji.” “Alhamdulillah, sah, ya?” Gue melotot lagi. Dia ngakak lagi. Aduh, humor anak SMA, nih, kenapa gak jelas banget, dah? “Eh, tapi beneran deh kak aku tuh seneng banget kalau kak Wil beneran bisa jadian sa—“ “Udah cepetan, jangan kebanyakan pembukaan kayak pidato gini, deh, kamu.” Dia meringis. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  “Kak Kanya itu soft banget, kak, anaknya. Kalau dikenal sekilas, kalian beneran banyak miripnya. Sifatnya maksudku, bukan mukanya. Dia gak gampang deket sama orang, susah adaptasi, ngomongnya lembut tapi bukan berarti dia gak bisa teriak, ya.Dia cantik banget. Gak cuman mukanya, tapi hatinya, kelakuannya. Duh, aku aja sering insecure loh sama dia!” Gue tersenyum kecil. Kebayang banget, sih, kalau Kanya emang orangnya kayak yang disebutin Tiara. “Terus apa, ya, Kak? Bingung aku.” Gue berdecak. “Kok malah tanya balik, sih, kamu? Kakak malah gak tahu, dong.” Dia meringis. “Dia suka apa, deh?” “Eum, dia suka banget nulis novel.” “Pernah nerbitin buku?” Tiara menggeleng. “Dia cuman suka ngirim cerpennya ke mading sekolah doang.” “Sayang banget.” “Iya, Kak! Padahal tuh ceritanya bagus-bagus, tahu! Ingetin nanti malem aku kirimin salah satu cerpennya.” Gue mengangguk. “Oke. Terus suka apa lagi?” “Suka Lima Hari!” “Suka Dafi, kali, maksud kamu.” Tiara meringis. “Kok tahu, sih, kalau kak Kanya suka sama Kak Dafi?” “Iya, orang dia bilang sendiri.” Gue mendengus kala menemukan keponakan gue malah menertawakan kenyataan pahit itu. “Tenang, Kak. Itu bukan suka, kok. Cuman ngefans kak Kanaya, mah.” “Iya, iya, terserah, dah.” Mulut gue boleh aja bilang terserah, padahal mah agak ketar-ketir karena drummer kesayangan Lima Hari itu juga lagi jomblo. Gue jadi takut mau ngenalin Kanya ke Dafi suatu hari nanti. Kalau beneran malah suka kan bisa gawat? “Tapi kalau dibandingin, ya, emang cakepan kak Dafi daripada kak Wil! Hahahaha.” Gue cuman bisa mencibirnya. “Ha-ha-ha. Lucu kamu.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sampai rumah, dari sekian banyak hal baru yang gue dapet dari informasi Tiara, cuman satu yang paling membekas dan selalu bikin gue kepikiran. “Kalau gebetan, dia ada gebetan, gak, Tir?” “Gak, dong, Kak Wil. Kalau ada geebtan, mana mungkin dia mau diajak nonton sama kakak? Kak Wil kira dia murahan apa?” “Ya bukan gitu. Ya Allah, kamu mah ngomongnya,” ujar gue sedikit menggerutu. “Kalau mantan? Dia ada mantan?” Mendegngar itu, gerakan sendok Tiara yang hendak menyuap ke mulutnya sendiri berheti, cuman tiga detik sebelum dia kemudian beneran makan dan gue harus nunggu dia mengunyah sampai habis sebelum kemudian dia membuka suara. “Kak Kanya gak punya mantan.” Ge menghembuskan nafas lega. Sebenarnya, kalaupun dia punya mantan itu bukan masalah, selama Kanya gak punya gebetan apa lagi pacar. Tapi gue cuman takut aja siapa tahu dia sama mantannya baru kemarin atau gimana, kan ke depannya jadi ada yang seret. Tapi kelegaan yang gue rasain gak bertahan lama kala Tiara kembali melanjutkan kalimatnya. “Tapi dia pernah punya komitmen lamaaaa banget sama cowok,” katanya. “Ada kali sampai tiga tahun. Dari jaman dia masih SMP, Kak.” “....” “Tiga tahun sama cowok yang sama, tapi gak ada status. Kebayang gak, sih.” Gue menyeruput lemon tea gue karena tenggorokan tiba-tiba terasa kering. “Yang ngegantungin Kanya-nya?” Sayangnya, Tiara menggeleng. “Cowoknya, Kak. Makanya, pas gak kuat lagi digantungin tanpa kepastian, Kak Kanya minta udahan, dengan alasan udah gak sayang.” “Padahal?” “Masih. Masih sayang banget.” “...” “Kak,” Tiara tiba-tiba ngakak. “Gak usah begitulah muka kak Wil, aduh. Itu dulu maksudnya, pas minta putus itu posisinya masih sayang. Sekarang, mah, udah enggak. Yang ada kak Kanya tuh udah ilfeel sama mantannya.” “Beneran kamu?” “Suwer! Cross my heart hope to die!” “Lebay.” “Udah, deh, dari pada kakak banyak tanya, mending sekarang aku beliin sepatu. Kakak duitnya banyak, kan?” “Hah, apaan ngelunjak banget kamu!” “Nanti barter—“ “Barter mulu.” Dia nyengir. “Barter sama nomornya Kak Kanya. Mau gak?” Dengan itu, walaupun gue kehilangan tiga lembar uang merah dan satu lembar uang biru, gue gak menyesal karena gue mendapatkan nomor Kanya—yah, walaupun sebenarnya minta lewat Kanya langsung lewat DM juga bisa. Intinya, bismillahirrahmanirrahim. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD