Satria : Kahitna - Andai Dia Tahu

3345 Words
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *  Terus tahu, gak, selanjutnya kayak gimana? Ceritanya, Satria baru banget, nih, memasuki pintu utama gedung FMIPA. Beberapa orang—kebanyakan berjenis kelamin cewek—langsung pada ngelihatin dia. Gini, gini. Sebenernya, Satria tuh bukan tipe orang yang bisa dengan percaya diri bilang kalau dia jadi pusat perhatian. Dia malah gak suka meninggi. Sombong kayak Jefran itu bukan dia banget, deh, pokoknya. Tapi untuk kali ini, dia bersumpah dia bukan lagi kepedean apa lagi kegeeran. Dia betulan dilihatin banyak cewek, yang mana ini bikin dia risih dan pengen balik badan aja gak jadi nemuin Kaila. Ya, tapi, kan, hal itu bakal dia lakuin kalau keinginnya ketemu Kaila udah luntur. Lah, masalahnya, kan, saat ini belum luntur. Yang ada bukannya berkurang, malah makin-makin. Jadi dia nebelin muka tutup telinga aja biar gak terdistraksi sama cewek-cewek yang lagi bisik-bisik. Lagi pula, yang kayak gini, tuh, udah jelas bukan pertama kalinya. Siapa, sih, yang gak kenal Lima Hari? Siapa, sih, yang gak kenal anggota-anggotanya? Walaupun tenarnya mereka belum seimbang sama popularitas One Direction atau 5SOS—mari kita doain aja biar bisa nyamain mereka—tetep aja Lima Hari adalah salah satu alasan harumnya nama kampus mereka berkat band lokal tersebut. Satria patut bangga atas itu. Jadi kalau disuruh nebak, mungkin ada tiga kemungkinan kenapa dia dilihatin. Yang pertama, mungkin karena orang-orang pada kenal dia sebagai salah satu anggota Lima Hari yang namanya lagi naik daun. Yang kedua, mungkin karena mereka semua pada bingung kenapa ada anak yang jelas bukan FMIPA—karena bodohnya Satria lagi pake jas almamter Teknik Sipil juga, atau yang ketiga, karena mereka pada gak pernah lihat cowok ganteng—damn, kalau lagi kayak gini, Satria jadi mengumpati Jefran dan Brian yang paling suka kepedean bikin dia jadi ikut-ikutan, kan, jadinya. Cowok itu mengedarkan pandangan dengan melangkah sedikit ia percepat. Sedikit menyesal dalam hatinya kenapa dia menjem buku yang tebelnya kayak dosa Jefran ini dari pada yang tipis-tipis aja biar gak berat bawanya. Mana dia harus mondar-mandir kesana-kemari pula. Tapi ternyata, dia gak sampai semondar-mandir itu dan secapek itu buat keliling. Karena tepat ketika kakinya melangkah naik satu tangga, dari arah belokan tangga di atasnya,  gadis yang jadi alasan kenapa siang ini dia berada di gedung fakultas lain muncul. Bayangin, deh, gimana jadi Satria. Dia sampai ngerasa auto kaku saking kaget—dan jujur belum siap-siap banget. Kakinya berhenti, beda lagi sama respon Kaila yang santai aja tetep jalan, bahkan cewek itu kayaknya inget sama dia karena Kaila mengulas senyum menyapa sebelum melewati dirinya. Hei, kenapa Satria jadi diem aja pas dilewatin?! Satria mengumpat dalam hati karena senyuman Kaila bikin dia lupa apa tujuannnya kesini. Jadi dia langsung balik badan dan segera menyerukan nama gadis itu. “Kaila?” “Ya?” cewek yang lagi sendirian itu noleh. “Kenapa?” Gila, ini Satria doang, deh, pasti yang deg-degan. Cewek ini kelewat santai. Bener-bener gak ada terkejut atau minimal ngerasa apa, kek, gitu pas ketemu Satria. Ini, mah, udah jelas kesimpulan yang diambil adalah bahwa Satria doang yang mengalami sindrom falling love at the first sight. Kailanya enggak! * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *   Bilakah dia tahu Apa yang tlah terjadi Semenjak hari itu Hati ini miliknya Mungkinkah dia jatuh hati Seperti apa yang kurasa Mungkinkah dia jatuh cinta Seperti apa yang ku damba Bilakah dia mengerti Apa yang tlah terjadi Hasratku tak tertahan Tuk dapatkan dirinya Mungkinkah dia jatuh hati Seperti apa yang kurasa Mungkinkah dia jatuh cinta Seperti apa yang ku damba Entah kenapa, sejak pertemuannya dengan Kaila saat itu, satu lagu yang muncul di kepalanya terus-menerus membuat kepalanya bosan, terasa ingin melantunkan lagu lain sayangnya dia gak bisa. Dia tahu dia lagi earworming. Kalau ada yang gak tahu apa itu earworming, Satria yakin kalian cuman gak tahu maknanya tapi pasti setiap orang pernah mengalami ini. Earworm bener-bener banyak terjadi, bahkan sering banget. Earworm, atau yang di dalam bahasa Indonesianya dikenal dengan nama cacing otak adalah sindrom yang membuat musik lekat, atau sindrom lagu tersangkut. Yang mana apabila seseorang mengalami earworm sebuah karya musik menarik yang terus terulang-ulang dalam pikiran seseorang meski lagu tersebut sudah tidak diputar.  Seperti apa yang dialami Satria saat ini. Tepat ketika dia keluar melewati pintu utama gedung FMIPA setelah mengobrol dengan Kaila, di telinga dia hanya ada lagu Kahitna yang bejudul Andai Dia Tahu. Gak tahu, deh, sejak kapan Satria jadi menye begini. Tapi yang pasti, kalau sekarang dia diledekin orang dengan sebutan baru kepada dirinya yakni “sad boy” maka dia menerima dengan lapang d**a. Emang kenyataannya begitu, kan? Gitar yang ada di pangkuan Satria kembali menghasilka suara saat Satria memetiknya, bibirnya kembali terbuka, menyanyikan lagu yang dari tadi terlintas di kepala. “Tuhan yakinkah dia Tuk jatuh cinta Hanya untukku Andai dia tahu Mungkinkah dia jatuh hati Seperti apa yang kurasa Mungkinkah di jatuh cinta Seperti apa yang ku damba Bilakah dia mengerti Apa yang tlah terjadi Hasratku tak tertahan Tuk dapatkan dirinya.” Siapa yang tahu kalau Jefran yang dari tadi tiduran tengkuran di sofa yang gak panjang-panjang amat, bikin kakinya yang panjang banget itu jadi menggantung di sisi sofa, ternyata gak beneran tidur? Cowok seperempat bule dan seperempat Korea itu tiba-tiba terkikik, bikin lagu Satria yang sedang dimainkan tiba-tiba terhenti. Satria menoleh ceoat, melotot dan mencoba menghubus Jefran dengan tatapan mautnya. “Apa  lo ketawa-ketawa?” “Lucu aje lihat lo begini. Melas.” “Ck.” “Jangan sad boy, dong, Pak. Lo nembak aja juga belum, PDKT juga belum. Ya jelas aja dia belum suka sama lo.” Ya sebenernya apa yang dibicarakan Jefran seratus persen akurat. Kenapa pula Satria harus galau padahal dia aja belum memulai apapun? Tuker kontak aja belum, loh! “Lagian sumpek banget dari kemarin lo nyanyinya lagu itu mulu.” “Bodo amat, ya, Jep.” “Abis ini kalau anak-anak yang lain dateng, pasti lo diketawain, deh,” Jefran tiba-tiba ngakak lagi. “Tapi sumpah komuk lo. Cocok, deh, lo bikin Music Video yang cowoknya galau terus duduk di deket jendela sambil gitaran, terus kepalanya penuh sama wajah cewek yang bikin dia uring-uringan—“ “Diem lo.” “Hahahaha!” Jefran bukannya takut karena digertak, kini malah memilih ngakak makin kenceng dan bangkut dari tidurnya. Sembari mengusak rambutnya sendiri, cowok itu kembali berujar. “Gini, kalau lo masih mau nampung saran dari gue.” “Apa?” “Bayarin makan di Bu Josu, ya, tapi?” Soal yang ini, beneran Satria bingung banget kenapa bisa punya temen macem Jefran. Cowok itu kaya, kaya beneran. Orang tuanya kaya, duitnya banyak, sebulan sekali masih banyak digit yang ditransfer ke rekening Jefran, belum lagi Jefran udah punya penghasilan sendiri. Tapi kenapa lagaknya kayak orang gak pernah punya duit, dah? “Gue lagi berhemat, Sat,” ujarnya seolah dapat mendengar protes Satria di kepalanya barusan. Males berdebat, Satria memilih mengiyakan aja biar cepet. “Lo DM dia lagi,” jawab Jefran lugas setelah mendapat anggukan persetujuan demi semangkuk soto di Bu Josu. “DM, langsung tanyain line atau What App, yang mana aplikasinya pasti bakal kepake setiap hari sama dia. Jadi lo ga digantungin balesan chat dari dia mulu. Pasang muka badak. Kasih perhatian terus tapi gak usah ngegas. Inget, jangan ngegas. Yang ada dia kabur.” “Terus?” “Terus kalau udah mulai deket, show up aja. Mulai muncul di gedung dia lagi, nanya-nanya, ngajak ngobrol, terus ngajak hangout berdua. That’s it. Nanti pasti insting lo main, kok, Sat. Lo gak sebloon itu buat urusan love life, kan?” Satria mengangguk. Sedikit merasa puas karena sekarang dia memiliki clue dan gambaran harus apa setelah ini. Padahal dia bukan cowok baru lulus SD yang gak tahu caranya deketin cewek—bahkan kayaknya anak SD jaman sekarang lebih tahu kalau mau gebet orang tuh kayak gimana caranya. “Thank, Jep.” “Yoi. Udah, sekarang lo genjreng lagi gak papa, tapi plis, ganti lagu.” Satria nyengir, tapi dalam rangka sengaja bikin Jefran emosi, jadi dia kembali menyanyikan lagu Kahitna tadi. Kemudian Jefran langsung mengumpat, lagi. “Mungkinkah dia jatuh hati Seperti apa yang kurasa Mungkinkah di jatuh cinta Seperti apa yang ku damba Tuhan yakinkah dia Tuk jatuh cinta Hanya untukku Andai dia tahu.” * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * “Heh, abang-abang sekalian!” Dafi berseru heboh padahal baru juga buka pintu studio. Di dalam ruangan, empat orang yang lain langsung noleh kaget. Ada yang noleh kagetnya biasa aja sampai yang lebay. Sebut saja Brian yang cuman noleh doang sebelum kembali menyetem senar alat musiknya, Wildan menumpahkan minumannya ke karpet, Jefran mengumpat dan menimpuk Dafi dengan bantal gambar dombanya, kemudian Satria cuman memekik—tapi lanjut mengomel. “Lo tuh kalau dateng assalamualaikum dulu kagak bisa, ya? Gak ada sopan-sopannya jadi junior.” Mendengar itu, Jefran jadi ngakak, hampir nyenggol gelasnya Wildan yang ada di sebelahnya kalau aja Wildan gak mendorong tubuh bongsor Jefran biar gak bergerak ke arahnya. “Parah, senioritas lo, Sat!” ujar Jefran. Satria cuman mendengkus. Dafi nyengir. Dia menutup pintu di belakang tubuhnya kemudian duduk bergabung bersama yang lain, masih dengan wajah merekah. “Iya, sori,” ujarnya menyesal sebelum kemudian to the point kepada bahasan yang ingin ia bawa siang ini. “Eh, tapi gue ada kabar baik.” “Apaan?” “Apa?” “Kalau tawaran job lagi, please, tolak aja. Kita udah penuh banget jadwalnya minggu ini,” ujar Brian sambil mendesah lelah. Yang lain mengangguk setuju sama omongan Brian. “Iya, capek, coi. Nyanyi, mah, nyanyi, tapi jangan begini juga, kali. Weekend tetep gak bisa nafas.” “Lebay, lebay,” ledek Brian kepada Wildan. Dafi noleh ke arah Satria yang sibuk sendiri. “Kalau lo, Bang?” “Hah, apaan?” “Kalau ada tawaran job buat Lima Hari, mau gak?” “Lah, sesuai kesepakatan, lah. Ngapain lo nanya gue doang? Kecuali yang diundang atas nama Satria Ardana, bukan Lima Hari.” “Tahu, nih,” Brian ikut-ikutan. “Eh, tapi jadi kabar yang lo maksud beneran tawaran job?” Dafi mengangguk. “Ya elah, skip-skip.” “Iya, skip aja, dah.” Mendengar Satria menjadi salah satu pendukung untuk menolak tawaran job, Dafi mengangkat satu alisnya tinggi. “Beneran lo mau skip aja, Bang? Baru dua minggu lagi, kok, acaranya.” “Tapi, kan, minggu ini kita udah full. Masa minggu depan padet lagi, sih?” Wildan protes. “Yang kayak begini artinya bukan kabar baik.” “Kabar baik, Bang,” Dafi meyakinkan. “Buat Bang Satria maksudnya.” “Lah, kenapa gue? Beneran gue doang yang diundang emang?” Satria coba nebak. “Atau bayarannya jatuh ke gue doang?” “Mata lo,” umpat Jefran langsung. “Bukan gitu. Tapi ini yang ngundang pihak HMJ,” Dafi menoleh lagi ke Satria, dengan mata bersilat menggoda, dia melanjutkan. “HMJ-nya anak FMIPA Biologi.” “HAH DEMI?” Satria sampai menegakkan punggungnya lebay menerima informasi tersebut. Bikin yang lain menoleh kaget ke arah Satria sebelum langsung meledek. “Siapa, ya, yang tadi bilang skap-skip skap-skip mulu? Perasaan ini langsung sumringah banget mukanya.” Satria langsung berdeham dan menetralkan ekspresinya. “Biasa aja gue.” “Preeeet,” ledek Wildan sambil ngakak. “Percaya banget sama yang matanya mau loncat pas denger FMIPA Biologi.” Dafi ketawa-ketawa aja. “Eh, tapi hoaks gak, nih? Lo dapet informasi dari mana? Kita aja gak dapet email.” “Ada, lah. Tadi gue meet up sama temen gue dari Biologi. Terus dia bilang katanya besok pagi kirim email buat minta Lima Hari jadi bintang tamu.” “Emang acara apaan, sih, anak Bio?” “Gak tahu, gak nanya tadi gue.” “Eh, tapi kalau ternyata kita jadi bintang tamu buat anak HMJ doang gimana?” Satria nanya. “Maksudnya kitanya nyanyi buat mereka doang.” “Ya gak mungkin, dong, bang Saaaat. Masa kita nyanyi cuman buat orang seucrit?” jawab Dafi gemas. Jefran ngakak—pada hal receh, lagi dan lagi. “Seucrit, anjing.” “Tapi iya, sih. Pasti buat semua anak Bio, lah. Ya kali, kalau cuman buat anak HMJ-nya doang, sekalian mereka karaokean sendiri aja dari pada buang-buang duit ngundang band.” “Betul.” Satria mengangguk-anggukkan kepalanya paham. “Pasti ada, kok, gebetan lo,” ledek Brian. “Mukanya jangan mikir banget gitu, dong, Sat.” “Biasa aja saya.” “Percayaaaa.” “Jadi gimana, nih? ACC gak?” Dafi nanya serius. “Kalau gak ACC, gue bilang ke temen gue sebelum dikirim proposalnya. Biar mereka jadi gues star lain juga.” “Gimana?” Satria ikutan nanya, Mukanya sok polos, padahal mah udah pengen bilang, ACC aja udeeeh. Baik Wildan, Brian, dan Jefran, otomatis noleh ke Satria, lalu senyum miring. “Iya, iya. Apa, sih, yang kagak buat temen kita yang satu ini?” Satria tersenyum puas. Emang gak salah pilih temen dia, tuh. “Gue usul nyanyi satu lagu, dong.” ujarnya tiba-tiba membuat Jefran berdesis. “Please, Pak, please, jangan bilang lagu lo dari kemarin ini.” Satria nyengir. “Ya elah, kan bagus. Sekalian ngode.” “Lagu apa, sih, emang?” Wildan kepo. “Oh, yang Kahitna itu?” “Yang mana?” Brian kepo juga. “Yang itu, loh, apa sih judulnya gue lupa,” Jefran kemudian menjentikkan jari. “Eh, Andai Dia Tahu.” “Kalau buat ngode, gue tahu, sih, apa yang cocok. Kita pernah bawain ini juga pas dulu gara-gara si Brian ngode cewek dulu. Inget kagak, Nying?” Yang lagi mengernyit bingung, mencoba mengingat-ingat. Beda lagi sama Brian yang langsung mendengkus karena ingat jelas sama momen yang satu itu. “Yang mana, sih, Bang?” Bukannya jawab, Jefran malah langsung menyanyikan lagu yang dia maksud, pakai muka ngeledek ke arah Brian yang bikin Brian pengen nampol muka sahabatnya itu pakai gitar. “Itu, loh... Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku Meski kau tak cinta kepadaku Beri sedikit waktu Biar cinta datang kar'na telah terbiasa.” “Jiakh, bener pake itu aja, Pak!” Sekarang Satria bisa kan bersombong ria bahwa takdir Tuhan betulan membantu dia dan Kaila untuk terus terkoneksi? Lihat saja sekarang buktinya. Alam semesta pun mendukung rencana yang dia punya, membuat Satria lagi dan lagi dipertemukan dengan Kaila di berbagai kesempatan. Ah, Satria Ardana jadi tidak sabar. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Pulang dari studio Lima Hari, Satria gak kemana-mana, langsung balik ke rumahnya karena ia gak mood kemana-mana, juga karena badannya pegel banget pengen langsung pulang. Mana dia laper banget kepingin makan masakan ibunya pula.   Di pukul setengah tujuh malam setelah Satria melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim, Satria yang masih memakai sarung lengkap dengan baju takwanya memilih untuk mengambil gitar dan pergi ke balkon.   Cowok dengan nama lengkap Satria Ardana itu begitu mencintai gitar. Dia udah pernah bilang tentang ini belum, sih? Saking cintanya, dia sampai kadang ngerasa kalau sehari aja dia gak pegang gitar—atau bahkan sehari doang gak ngeliat betuk gitarnya entah di rumah atau di studio, dia ngerasa ada yang kurang. Selebay itu emang. Wajah Kaila tiba-tiba hadir lagi di kepalanya, membuat cowok itu jadi melengkungakn senyum kecil. Sebenarnya, apa yang terjadi hari itu, hari dimana dia ke gedung FMIPA untuk menemui Kaila, tidak berakhir hanya dengan dia menyapa saja. Keduanya sempat mengobrol—atau tepatnya Satria terus memperpanjang obrolan. “Kok disini?” tanya Kaila mengamati Satria. “Kamu bukannya waktu itu bilang—fakultas apa? Bukan FMIPA, kan?” “Iya, emang bukan. Gue FT. Teknik Sipil.” “Oh, iya, Teknik Sipil. Terus disini ada urusan?’ Satria menunjukkna buku yang dibawa. “Mau ke temen nganterin ini.” “Ooh.” “Lo sendiri ini udah mau balik?” Satria kelihatan labilnya gak, sih? Kemarin-kemarin pas ketemu di Perpus Kota, dia memakai aku-kamu ke Kaila karena kelihatan gak sopan, juga karena dia ngikut cara bicara Kaila. Tapi kali ini, dia pakai lo-gue. Jangan heran. Ini efek karena waktu itu dia tremor parah. Canggung dan deg-degan. Makanya gak bisa mikir. “Iya, udah mau balik.” “Pulang?” Kaila menggeleng. “Mau ke perpustakaan dulu, ada perlu cari buku.” Satria ber-oh ria dan mengangguk-angguk.  Tapi belum selesai dia bicara, Kaila udah lebih dulu mendahuluinya. “Aku duluan, ya. Bye-bye.” Kemudian gadis yang hari itu dibalut dress floral—lagi, bedanya kali ini lebih cantik dan terlihat manis dengan waran merah jambu itu—melambaikan tangan sembari tersenyum. Perasaan Satria jadi campur aduk waktu itu. Satu karena dia merasa sial belum apa-apa, belum selesai ngomong, dianya udah ditinggal pergi. Please, lah, Satria belum lega dan puas berbincang dengan gadis itu. Yang kedua, karena hatinya kembali menghangat mendapati senyum manis Kaila. Tangan dengan jemari-jemari itu melambai ke arahnya, memmbuat Satria jadi langsung merekam dengan baik pergerakan sederhana itu di memorinya. Jadi dia berdeham di anak tangga paling bawah, satu tangannya terangkat, lalu dengan gerakan canggung, dia melambai balik. “See you around,” gumamnya kecil, yang pasti Kaila gak akan dengar itu. Kaila gak tahu kalau see you around artinya Satria ingin bertemu lagi, dan lagi, dan lagi dengan dirinya. Karena ulasan memori Satria pada hari itu kembali tergambar di kepalanya malam inilah, Satria jadi punya mood buat main gitar. Dia menemukan satu lagu yang langsung muncul di kepalanya seiring di sudut kepalanya yang lain ada wajah cantik Kaila dan senyuman cantik itu. “Simpan mawar yang kuberi Mungkin wanginya mengilhami Sudikah dirimu untuk Kenali aku dulu? Sebelum kauludahi aku Sebelum kaurobek hatiku Jiwaku berbisik lirih Ku harus milikimu Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku Meski kau tak cinta kepadaku Beri sedikit waktu Biar cinta datang kar'na telah terbiasa.”   * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD