Prolog

1294 Words
Apakah memilihmu adalah hal yang salah? Apakah tidak memilihmu adalah hal yang benar? Bali pagi itu sangat cerah, langit menghamparkan kebiruan disambut dengan suara merdu dari burung camar. Alikha memandang laut yang terbentang luas dari balkon kamarnya. Dia bersandar di pagar balkon sambil menghirup kopi latte kesukaannya. Dari bawah tampak sesosok pria yang sedang mengarungi pasir pantai, dia berjalan dengan mantap sambil menggotong papan selancarnya. Alikha tersenyum melihat pria itu. Matanya terus tertuju padanya. Dia berenang mengayuh papannya guna menjauhi bibir pantai, menuju hamparan lautan yang akan memberikan gelombang ombak untuknya. Saat ombak mulai mendekat dia berdiri dan berhasil menjalankan papan selancar itu. Pria itu cukup ahli untuk menaklukan ombak, dan itulah salah satu alasan mengapa Alikha tertarik padanya. Jiro-san, begitulah panggilan teman-teman terhadapnya. Jiro memang ada keturunan Jepang-Indonesia. Papanya dari Jepang bertemu dengan Ibunya yang kala itu sedang melanjutkan kuliah S2, dan juga menjadi pekerja part time di Café L. Setelah lulus kuliah Papa Jiro langsung mengajak Mama Jiro untuk menikah dengannya. Meskipun awalnya ada kesulitan dalam pertemuan dua keluarga, tapi setelah 2 tahun pacaran, orangtua Mama Jiro akhirnya merestui mereka. Kali ini Jiro gagal untuk tetap di posisi surf -nya, sehingga dia menyelesaikannya dengan berenang ke tepian pantai. Postur tubuhnya tegap, dan kulitnya agak gelap, pertanda bahwa dia terlalu sering terpapar matahari. Tapi dia enjoy saja melenggang melewati kumpulan pengunjung pantai yang memperhatikannya saat dia lewat. “hai, handsome” goda cewek-cewek yang sedang berjemur. “hai” balasnya pendek. Baginya itu merupakan hal yang tidak perlu untuk ditanggapi karena akan melelahkan. Jiro melenggang meninggalkan pantai menuju cottage miliknya. Sebenarnya bukan miliknya pribadi, tapi lebih kepada dia membelikannya untuk Alikha dan calon anaknya nanti. Dia membilas badannya dari ujung kepala hingga kaki, tak lupa juga ia memakai pelembab untuk menjaga kelembaban kulitnya. Peralatan skincare nya hampir sama banyaknya dengan milik Alikha, karena memang dia cukup strict kalau berhubungan dengan kesehatan kulit. “sayang?” Jiro menghampiri Alikha yang masih ada di balkon. “hai sayang, kok cuma sebentar surfingnya?” tanya Alikha. Dia memberikan ciuman kecil pada Jiro. “iya nggak apa-apa, hanya pengen cepat selesai, karena aku lupa kalo ada hal yang lebih penting daripada selancar” “kamu ada meeting?” “ada tapi nanti sore, tapi ini lebih penting daripada meeting” “apa itu?” Jiro mendekatkan wajahnya pada Alikha. “kamu” jawab Jiro. “hmm..sayaaang bisa ajaa” Mereka berpelukan memadu kasih, bibir ketemu bibir. Lidah mereka saling bertautan di dalam mulut. Erangan halus mulai terdengar. Sentuhan halus tangan Jiro menggerayangi tubuh Alikha yang berisi. Jiro menggendong Alikha dan membawanya ke ranjang. Dan pergulatan dimulai. Detik berlalu, menit berlalu, jam berlalu. Mereka menikmati kebahagiaan itu. Setelah selesai mandi mereka kemudian duduk di balkon lagi. “sayang, aku mau bikin konten dulu ya” kata Alikha. “konten apa?” “konten pemandangan sebagai background dan video kita sambal ngobrol gitu” “ooh, oke” Alikha kemudian memasang Hp pada tripodnya, dan mengaturnya supaya mendapatkan pemandangan pantai sebagai latar belakang mereka. Kamera mulai merekam kemesraan itu, mereka berpelukan membelakangi kamera. Setelah itu Alikha memindahkan kamera dan merekam Jiro. “kok aku aja yang di rekam” “udah ikutin aja” bujuk Alikha. Dia kemudian berlari kedalam kamar mengambil kotak kecil. Lalu dia Kembali duduk di tempat dia semula. Kamera masih terus merekam. “I have surprise for you” kata Alikha. “surprise apa? Kamu mau ngeprank aku ya, pake alasan bikin konten pemandangan?” tanya Jiro. “iih, sayang yang serius doong” ucap Alikha manja. “ya deh. Surprise apa sayang?” Alikha merekam Jiro lebih dekat lagi sambal memberikan kotak surprise-nya. “apa ini?” “ya dibuka doong sayang” Jiro membuka lilitan tali kotak, di dalamnya ada amplop. Dia membuka amplopnya. “hah?!! Serius sayang?! Tanya Jiro setengah berteriak. Ekspresi bahagia namun matanya mulai berkaca-kaca. “serius sayang” ucap Alikha dengan suara agak bergetar. “alhamdulillah” Jiro memeluk Alikha erat, ditangannya terdapat alat tes kehamilan yang menunjukkan positif. -------=--1---------- “usia kandungan sudah 2 minggu. Kondisi janinnya baik, sampai saat ini tidak tampak kelainan apa-apa. Semoga begitu terus sampai lahiran nanti ya” kata Dokter kandungan. “alhamdulillah” ucap mereka bersamaan. “yang penting dijaga kesehatan ibunya terutama kesehatan mentalnya, tidak boleh terlalu capek fisik dan juga batin ya” “iya Dok, saya siap siaga menemani istri saya” sahut Jiro dengan wajah sumringah. “bagus, sekarang saya hanya kasih resep vitamin saja” ucap Dokter. Mereka keluar ruangan dengan wajah yang sumringah. Tak henti Jiro bersyukur atas kabar gembira ini. “Mama pasti seneng banget denger berita ini” ujar Jiro. “pastilah sayang, dan almarhumah Bunda juga pasti senang” “bagaimana kalau minggu depan kita mudik ke Malang” ucap Jiro “mau banget sayang, tapi pekerjaan kamu gimana? Bukannya masih ada pertemuan lainnya?” “itu aku coba untuk selesaikan 3 hari kedepan. Jadi aku minta tolong dan minta maaf kalo 3 hari besok aku jarang dirumah” “oke sayang, semoga kerjaan kamu lancar ya” ujar Alikha sambal mengecup pipi suaminya. Mereka memasuki lift menuju basement rumah sakit. Di perjalanan pulang mereka terus berbincang tentang masa depan calon bayi. Dimana dia akan sekolah, nama apa yang mereka berikan, saling menebak gender, bahkan saling bertukar pendapat tentang dekorasi kamar. Tangan mereka saling bertautan seakan takkan lepas selamanya. Tapi takdir berkata lain. Mobil yang mereka tumpangi ditabrak pick up dari belakang, dan mobil Jiro menabrak truk bermuatan kayu gelonggong. Dunia seakan melambat. Orang-orang berlarian menghampiri mobil. Mereka mendobrak kaca mobil dan berteriak memanggil Alikha dan Jiro. Jiro membuka mata, dia menegakkan kepalanya dan melihat sekeliling mobil. Dia belum sadar sepenuhnya, sampai matanya tertuju pada istri yang ada disampingnya. Darah mengucur dari mata, hidung dan telinganya. “sayang..akh..” Jiro menahan sakit di sekujur badannya. Tangannya berupaya menggapai wajah istrinya. Pandangannya berputar, matanya melotot ke kiri dan ke kanan, terakhir dia tak sadarkan diri. Kaca mobil berhasil dipecahkan, ada tangan yang meraih knop pintu dan membukanya dari dalam. Badan Jiro diseret keluar menjauhi puing mobil, begitu juga Alikha. Sadar-sadar Jiro membuka mata secara perlahan. “haus..minta minum..akhh” ucap Jiro. “ini” seseorang membantu Jiro minum air dengan menggunakan sedotan. “tunggu sebentar aku panggilkan dokter” ucap orang itu. Selekas kemudian dia datang bersama dokter. Dokter memeriksa pupil mata Jiro. “selamat pagi, bisa dibantu namanya siapa? “nama saya Jiro” jawabnya. “bagus, bisa melihat dengan jelas jari saya? Ini berapa?” dokter mengacungkan 3 jarinya. “3” “bagus, sekarang apa yang kamu rasakan?” “bingung” “bingung ya?” ucap dokter sambal tertawa kecil. “kamu sekarang ada di rumah sakit, kamu tidak sadarkan diri selama 2 hari karena kecelakaan mobil” Memori peristiwa kecelakaan itu muncul di otak Jiro, dia teringat bahwa Alikha juga dalam kondisi parah dan tak sadarkan diri. “ALIKHA!!” Jiro meronta. “DIMANA ISTRI SAYA DOK?!” “istrimu masih koma, kondisinya sudah membaik daripada sebelumnya, kamu tenang saja” “saya ingin menemuinya” “boleh, nanti kami antar, sekarang kamu istirahat dulu” perintah dokter. Dokter keluar diantar oleh wanita yang dari tadi menungguinya. Setelah menutup pintu, dia kemudian duduk di samping Jiro. “kamu siapa?” tanya Jiro, setelah dia tersadar bahwa ada sosok yang asing menemaninya di kamar itu. “kamu lupa sama aku?” “kamu yang menolong aku dan Alikha?” “iya betul” jawabnya. “terima kasih banyak ya, tapi apa orangtuaku sudah tau tentang kondisiku?” “kamu sungguh-sungguh tidak mengenaliku? Jiro-kyun?” “Jiro-kyun? Ada seseorang yang biasa memanggilku seperti itu, tapi aku lupa..siapa ya.. Me..Megumi..ch..chan?” “ooooi senangnya kamu masih mengenaliku!” ucapnya gembira. “bagaimana kamu bisa ada disini? Bukankah kamu di Jerman?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD