Sasongko meletakkan rokoknya. Wajahnya kini lebih serius. “Bram,” ucapnya tenang, “Saya tahu semuanya ini cepat. Tapi kamu suami Dita sekarang. Anakku bukan perempuan yang mudah dibaca. Tapi saya tahu satu hal dia mencintai dalam, kalau dia sudah percaya. Dan sekali dia terluka... akan lama sembuhnya.” Bram diam. “Jadi saya mohon,” lanjut Sasongko, nadanya rendah tapi penuh wibawa, “jaga Dita baik-baik. Jangan cuma sabar. Tapi sayangi. Karena kamu satu-satunya laki-laki yang sekarang bisa dipanggil pelindungnya.” Bram menatap ayah mertuanya lama. Tak ada janji yang berlebihan, hanya anggukan kecil dan suara mantap yang keluar dari d**a. “Saya akan jaga Dita, Pak. Dengan cara saya. Tapi sepenuh hati.” Angin malam berembus pelan di antara mereka, membawa keheningan yang seperti bentuk r

