Helena melirik ke arah cucunya lalu menjawab datar, “Pagi tadi, Prabu demam tinggi dan muntah-muntah lagi. Dia tidak mau diinfus, malah memaksa pulang ke mansion keluarga Astana Dewangga di Paris. Katanya, tidak ingin merepotkan siapa pun di sini. Mungkin sakitnya cukup berat.” “Hah? Pulang? Ke mansion?” Rania mematung, napasnya tercekat. Helena mengangguk. “Sepertinya dia tidak sempat mengabarimu.” Rania mengepal jemarinya. “Selalu begitu... Selalu nyimpan semuanya sendiri! Dasar keras kepala!” gumamnya tajam. “Nek, bisa tolong suruh sopir antar aku ke sana sekarang juga? Aku... aku hanya ingin memastikan,” katanya akhirnya, berusaha terdengar biasa, padahal hatinya bergemuruh. Helena hanya tersenyum lembut, penuh arti. “Sudah kukatakan, pernikahan harus diperjuangkan dari dua arah,

