Dita menghela napas pelan, lalu menatap layar ponsel yang perlahan meredup. "Oh iya... di Kanada sekarang malam menuju tengah malam... sementara gue di sini, baru mulai hari." Terpisah waktu. Terpisah jarak. Terpisah sentuhan. Dan kini pikirannya justru dipenuhi pria yang bahkan bukan pacarnya. Ia menyandarkan tubuh sebentar di daun pintu, menahan helaan napas dalam. "LDR tuh... capek juga ya," gumamnya lirih. Kemudian, ia menarik napas panjang, menyelipkan ponsel ke saku jaket, dan melangkah keluar dari apartemen. Berjalan sendiri di koridor hingga napasnya terasa berat, Dita merapatkan jaket dan menunduk, seolah ingin sembunyi dari dunia yang tiba-tiba terlalu bising meski sepi. "Dita? Kamu kenapa kayak capek begitu?" Dingin. Familiar. Dan justru itu yang membuat darahnya berdesir

