Bram menutup pintu. Tidak menjawab. Tidak bereaksi. Ia duduk di kursi pengemudi, menatap lurus ke depan… tapi matanya kembali melirik lewat kaca spion. Wajah itu… Wajah keturunan Yogya dan darah Jerman dari garis nenek buyutnya. Cantik dengan cara yang tidak bisa diukur oleh standar. Kulit bersih, tulang pipi tinggi, dan bibir... terlalu mudah dibayangkan dalam ciuman. Terlalu menggoda. Terlalu tidak seharusnya. Bram menelan pelan. “Jangan bodoh, Bram,” gumamnya dalam hati. Lalu ia nyalakan mesin. Dan melaju. Membawa gadis yang setengah mabuk dan setengah membuatnya gila itu... pulang. Sepanjang perjalanan, Dita terus meracau. Suaranya lirih, tapi cukup jelas bagi Bram untuk mendengar betapa perempuan itu sedang lelah menahan rindu dan kehilangan. "Empat tahun,… empat tahun. Aku tah

