“Heem.” “Sini, Bunda bantu bersihkan. Kamu belum benar, astaga, Nak…” Rania berpaling dan meraih wajah Daisy yang belepotan cokelat, menyeka dengan sabar dan penuh kasih. “Minum sudah?” “Dah!” jawab Daisy singkat, sebelum matanya benar-benar terpejam, tubuhnya bersandar nyaman di car seat, tertidur lelap. Prabu melirik dari spion tengah lalu kembali fokus ke jalan. Tangannya meraih satu potong kue yang disisakan Daisy, memakannya perlahan. Rania tahu, tapi memilih pura-pura tidak melihat sampai suara Prabu menyusul. “Saya juga belepotan, Ra, lap-in dong.” “Ih, Bapak kan punya tangan. Kenapa nggak sendiri aja?” Rania menoleh sambil mendelik. “Biar romantis, nggak sih?” “Apasih... ah males,” gumam Rania, tapi tetap saja menyeka bibir Prabu dengan ujung tisu, gerakannya cepat dan malas

