Wajah Prabu menegang. Ia mencoba menjawab, tapi bibirnya hanya bergetar, tidak tahu harus bicara apa. "Ibu pulang dari café, lihat Rania... dengan pacar barunya!” Prabu menahan napas. "Tanggung jawab, Prabu! Kamu ayahnya Daisy, kamu laki-laki dewasa. Kamu pikir perasaan anak kecil bisa dibenahi pakai kata 'maaf'?!" suara Ibu Dahayu meninggi, tapi matanya mulai memerah. Napasnya cepat, menggema di ruang tamu itu. "Maaf, Bu..." hanya itu yang bisa keluar dari mulut Prabu. Ibu Dahayu menarik napas panjang, kedua tangannya bergetar saat menutup wajah, mencoba menenangkan diri. Tapi napasnya belum sempat stabil, ketika… Ting-tong. Bel apartemen berbunyi. Ibu Dahayu menoleh ke pintu, menghela napas berat dan membuka pintu dengan satu tarikan. "Loh? Pertiwi?" alis Ibu Dahayu terangkat. "

