Langkahnya tenang, senyum tipis menghiasi bibirnya. Pertiwi. **** Kedua sahabat Rania kini sudah tahu bahwa Rania dan Prabu berdamai. Setelah tangisan, teriakan, dan sesi terapi dadakan oleh pastor, akhirnya Rania bisa bernapas lega—dan tentu saja, Dita dan Tasha dengan senang hati melepaskan Rania dari segala tanggung jawab hari itu di kafe. “Udah sono gih, peluk-peluk Daisy tuh, dosa lo udah numpuk!” begitu kata mereka sambil mendorong Rania keluar seperti ibu-ibu melepas anaknya ke pelaminan. Dan sekarang? Di sinilah Rania—di apartemen Prabu. Lagi. Pertiwi baru saja selesai membereskan tasnya, hendak kembali ke tempat kerjanya. Mereka sempat mengobrol sebentar—dan Rania, meski awalnya waspada, harus mengakui satu hal: Pertiwi sangat pintar, sangat dewasa, dan ya... aura terpelajar

