" Setiap orang membutuhkan sandaran untuk meletakkan lelah"
Vya pergi kedalam kamarnya, ia melihat semua kerusuhan didalam kamarnya sudah dirapihkan dengan baik oleh Adita.
"Indahnya… rapih sekali, jika saja kakakku sangat baik sekalu merapihkan seperti ini, maka hidupku sudah tenang."
"Berhentilah untuk manja, vya"
"Iya, nanti kalau udah nikah."
"Bagaimana, kalau dewasanya nanti aja setelah kak Adita meninggal?."
"Kak Adita ngomongnya gak jelas."
"Apakah kamu sedih?. Jika kak Adita meninggal nanti?."
Vya merengutkan alisnya dengan sangat kesal "aku sama sekali tidak dengar dengan apa yang kakak katakan, karena itu sangat tidak penting"
Adita terkekeh ia mengelus kepala vya dengang sayang
"Kak, aku ingin meminta maaf."
"Apa?. Tumben minta maaf"
"Aku ingin minta maaf karena aku sudah mengacaukan klienmu, kak."
"Makanya, kalo sekolah jangan bolos terus"
"Kakak ngajak War"
Vya menatapnya dengan tatapan tajam
"Oh iya, tadi ada sahabatmu yang memintaku untuk melukis, lalu aku lukis saja pegunungan, aku sama sekali tidak bisa."
"Bagus, setidaknya kau sudah berusaha meskipun lukisanmu jauh lebih buruk dari anak TK" tawa Vya dengan sangat puas
"Terus saja kau meledekku, aku tidak akan memaafkan dirimu"
"Sudahlah, aku ingin pergi tidur."
Vya sama sekali tidak ingin mendengar ocehan kakaknya, ia segera tertidur diatas kasur dengan nyaman
"Dasar adik laknat!"
"Dasar kakak julid" jawab vya
Adita berjalan pergi menuju kamar adiknya, mereka berdua tertidur di kamar yang bukan milik mereka
"Aduh panas banget sih" Vya terbangun ia melihat AC nya yang mati membuatnya menggerutu kesal "apa ini, kenapa AC nya mati segala?. Bikin rusuh aja pagi-pagi"ia menggerutu
Adita menarik selimut ia merasa sangat kedinginan
"Kenapa dingin sekali disini?"
Ia menoleh ke arah AC yang Celcius nya menurun terus
"Apakah dia mati rasa?."
"Ceklek" mereka sama-sama membuat pintu kamar
"Aku ingin tidur di kamarku" pinta keduanya
Mereka segera berjalan dan bertukar kamar
"Sangat menyebalkan tidur di kamar orang dengan kulit mati rasa sepertinya" gumam Adita
"Apakah kau sekarat sampai-sampai harus tidur tanpa AC"
Pertanyaan Vya membuat ia melihat raut wajahya sendu
"Aku terlihat sangat jelek dengan wajah seperti itu"
Adita tidak merespon Vya, ia segera masuk kedalam kamarnya
"Ada apa sih dengannya, dia sangat aneh sekali" kesal Vya
Keesokan harinya, Vya bersiap pergi ke kantor ia terus memikirkan tentang kejadian semalam yang ia dapatkan
"Dia terlihat sangat sedih, apakah memang benar kalau ia sekarat?. Tapi, dia sakit apa?. Sudahlah, aku sama sekali tak peduli dengan kakak julid sepertinya"
Vya terus bergumam kesal ia melangkahkan kakinya untuk turun dari tangga dan menuju untuk duduk diatas meja makan ia melihat Adita yang masih terlihat sendu
"Adita, mengapa kamu terlambat bangun?. Jam berapa kamu tidur?"
"Maaf Bu, aku habis membaca novel digital"
"Novel?, Kamu sama sekali tidak suka novel. Jangan buat alasan lagi, cepat makan"
"Iya Bu"
Vya makan dengan cepat ia sangat lapar
"Adita, makan perlahan-lahan, bajumu akan terkena noda makanan nanti"
"Iya Bu"
"Aku harus segera berangkat ke kantor, sampai jumpa anak-anak"
Ibu mengecup pipi anak tersayangnya Vya dan Adita
"Aku pergi ya, anak-anak"
Adita mengambil tas nya
"Tunggu!!. Jangan pakai tas itu, aku akan terlihat tidak bagus kalau memakai tas itu"
Adita hanya mengikuti apa yang menjadi arahan adiknya
"Pergilah, aku akan terlihat buruk jika datang terlambat"
Adita segera pergi menaiki mobil untuk menuju sekolah adiknya
"Kak Dita kenapa sih?"kesal vya ia tak mau ambil pusing dan segera pergi menuju kantor kakaknya
Vya sekarang berada di dalam kantor Adita, lalu sekumpulan paparazzi berkumpul untuk membuat beberapa foto untuknya
"Asik, IG Story aku akan melakukan beberapa pose foto terbaikku."
Didalam kelas vya, semua teman-teman vya seperti biasa sedang membicarakan IG story Adita
"Dia tidak seperti biasanya ya, biasanya Adita selalu bersahaja dan terlihat kalem."
"Iya, kali ini dia lebih terlihat sedikit liar"
"Aku lebih suka dirinya yang lebih kalem dan anggun"
Mendengar pembicaraan buruk tentang adiknya, membuat Adita langsung memberikan mereka teguran
"Dia terlihat cantik kok. Mengapa kalian seperti itu?. Apakah kalian mengetahui seperti apa sifat aslinya, bisa saja dia foto seperti itu karena memang sedang mempromosikan sesuatu?."
Sontak teman-temannya sangat bingung melihat seseorang yang membela kakaknya yang ia benci
"Hei Vya, kamu sudah akur dengan kakakmu,ya?."
"Akur?. Apa maksud kalian semua dengan kalimat akur?."
"Engg.. biasanya kamu sangat benci dengan kakakmu dan tidak mau kakakmu di puji."
Adita yang tersentak setelah mendengar pernyataan tentang adiknya dari teman-temannya
"Mengapa aku harus cemburu?." Tanya Adita ia semakin penasaran dengan adiknya
"Kamu cemburu karena ayahmu akan memberikan perusahaan itu kepada kakakmu, benar?."
"Perusahaan?, Jadi karena itu."
Adita membalas mereka dengan hanya senyuman.
"Nona Adita, apakah kamu ingin makan siang bersama?." Tanya sekretarisnya
"Tentu saja!. Ya, aku ingin istirahat mengapa kamu bertanya?."
"Karena biasanya nona menolak untuk diajak makan bersama."
"Begitu ya?. Baiklah, aku tidak jadi makan bersama karena aku tidak lapar." Vya tetap duduk didalam ruangan kantornya ia menatap ke segala sudut ruangan kantornya dengan santai
"Waah, rapih sekali, ruangan ini juga sangatlah harum bunga."
Vya menyandarkan kepalanya di bangku dengan santai hingga bola matanya terhenti di satu laci kecil yang terpisah
"Lho, laci ini kok terpisah?."
Vya menarik gagang untuk membuka laci ia melihat banyak sekali obat-obatan
"Apa?!!" Vya sangat kaget melihat ada banyak sekali obat didalam sana pikirannya mulai menjadi liar
"Hei Vya, ayo kita ganti baju olahraga."
"Olahraga?. Haruskah?"Eluh Adita ia sangat ingin menghindari mata pelajaran yang selalu membuatnya takut
"Sudahlah, ayo" ajak sahabatnya Vya membawanya pergi ke sebuah tumpukan loker milik semua siswi disana
"Cepat, ambil baju olahragamu"
Adita menarik pintu loker ia sangat kaget melihat puntung rokok dan kotak kardus rokok yang ada di dalam loker
"Ada apa Vya?. Mengapa kamu terlihat sangat terkejut?."
"Tidak, tidak apa." Adita tetap merahasiakan sebuah rahasia buruk yang berusaha membuat dirinya tetap berpikir positif.
"Apakah kakak hidup dalam penuh tekanan hingga membuatnya menderita dan harus minum obat seperti ini?" Tanya vya di dalam hatinya
"Dengan siapa dia bergaul?." Tanya Adita dengan nada sinis
Mereka berdua sama-sama menyimpan sebuah rahasia buruk dibalik diri mereka yang berusaha untuk terlihat sempurna dimata orang lain.
"Aku akan memberikan obat ini kepada temanku yang bekerja sebagai apoteker"
"Apa kau tahu siapa saja yang bergaul denganku?." Tanya Adita membuat sahabatnya sangat bingung
"Kau bicara apa sih?. Kamu aneh, vya."
"Aku akan mencaritahu sendiri darimana ia mendapatkan barang-barang seperti ini."