Suasana apartemen malam itu terasa sesak.
Tidak ada yang berbicara setelah ibu Nathan mengucapkan kalimat itu.
“…melihatmu menikahi Vanessa sebelum dia meninggal.”
Clara berdiri diam di dapur dengan tangan gemetar pelan. Sedangkan Nathan membeku di tempatnya.
Ia menatap ibunya tidak percaya.
“Kakek menggunakan sakitnya untuk memaksaku?” suara Nathan terdengar dingin.
Ibunya menunduk pelan.
“Kondisinya memang memburuk, Nathan.”
“Tapi itu bukan alasan mengatur hidupku.”
“Dia hanya takut kau menghancurkan masa depan keluarga.”
Nathan tertawa kecil pahit.
“Masa depan keluarga atau ambisinya sendiri?”
Sunyi.
Ibunya tidak mampu menjawab.
Tatapan Nathan perlahan berubah lelah. Selama hidupnya ia selalu melakukan semua yang diminta keluarga.
Menjadi sempurna.
Menjadi pewaris ideal.
Menjadi CEO muda kebanggaan keluarga Alexander.
Tapi untuk pertama kalinya…
Ia ingin memilih dirinya sendiri.
Memilih Clara.
Nathan menoleh ke arah wanita itu.
Tatapan mereka bertemu beberapa detik.
Dan Nathan langsung melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak.
Clara sedang menahan tangis.
⸻
Malam semakin larut.
Ibu Nathan sudah pergi sejak satu jam lalu.
Kini hanya ada keheningan di antara Nathan dan Clara.
Nathan berdiri di balkon apartemen sambil menatap lampu kota.
Sedangkan Clara berjalan mendekat perlahan.
“Kamu harus menemui kakekmu,” ucap Clara pelan.
Nathan langsung menggeleng.
“Aku nggak akan menikahi Vanessa.”
“Aku nggak bilang kamu harus menikahinya.”
Nathan menatap Clara lama.
“Tapi?”
Clara menggigit bibirnya pelan sebelum akhirnya berkata,
“Kalau kondisi kakekmu benar-benar parah… setidaknya jangan membuat beliau semakin sakit karena kita.”
Deg.
Nathan langsung memahami maksud Clara.
“Kamu mau pergi lagi?”
Suara pria itu terdengar rendah dan terluka.
Clara memalingkan wajah cepat.
Karena Nathan terlalu pandai membaca dirinya.
“Aku cuma nggak mau kamu menyesal nanti.”
Nathan berjalan mendekat hingga jarak mereka sangat dekat.
“Aku cuma akan menyesal kalau kehilangan kamu.”
Air mata Clara langsung jatuh.
“Kenapa kamu selalu membuat semuanya semakin sulit…” bisiknya lirih.
Nathan mengusap pipinya lembut.
“Karena aku serius sama kamu.”
Deg.
Jantung Clara kembali terasa nyeri.
Ia tahu Nathan mencintainya.
Dan justru itu yang membuat semuanya semakin menyakitkan.
⸻
Keesokan harinya Nathan akhirnya datang ke mansion keluarga Alexander.
Rumah besar itu terlihat lebih dingin dari biasanya.
Para pelayan langsung menunduk hormat saat Nathan masuk.
Namun suasana berubah tegang ketika ia memasuki kamar kakeknya.
Pria tua itu terlihat jauh lebih lemah dibanding terakhir kali Nathan melihatnya.
Nathan berdiri diam beberapa detik.
“Kakek.”
Sang kakek membuka mata perlahan.
Tatapannya masih tajam meski tubuhnya melemah.
“Kau datang juga.”
Nathan memasukkan tangan ke saku celana.
“Aku dengar Kakek sakit.”
Pria tua itu tertawa kecil pelan.
“Jadi sekarang kau peduli?”
Nathan menghela napas.
“Aku tidak pernah membenci Kakek.”
“Kalau begitu tinggalkan gadis itu.”
Kalimat itu keluar tanpa ragu sedikit pun.
Nathan langsung membeku.
“Aku tidak bisa.”
Tatapan sang kakek berubah dingin.
“Hanya karena perempuan miskin itu kau rela kehilangan segalanya?”
Nathan tersenyum tipis.
“Aku sudah kehilangan semuanya.”
Pria itu menatap lurus kakeknya.
“Tapi untuk pertama kalinya… aku merasa bahagia.”
Sunyi memenuhi ruangan.
Sang kakek terlihat marah sekaligus kecewa.
“Kau lemah karena cinta.”
Nathan menggeleng pelan.
“Bukan.”
Tatapannya berubah lembut saat mengingat Clara.
“Aku justru merasa lebih kuat karena ada seseorang yang ingin aku lindungi.”
⸻
Sementara itu Clara duduk sendirian di apartemen.
Pikirannya kacau.
Ia terus mengingat ucapan ibu Nathan semalam.
Kalau Nathan tetap bersamanya…
Hubungan Nathan dengan keluarganya mungkin akan hancur selamanya.
Dan Clara tidak yakin dirinya sanggup menjadi alasan perpecahan itu.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Sebuah nomor tidak dikenal menghubunginya.
Clara ragu beberapa detik sebelum mengangkat.
“Halo?”
“Temui saya.”
Suara wanita di seberang terdengar dingin dan familiar.
Vanessa.
⸻
Satu jam kemudian Clara duduk di sebuah café mewah.
Vanessa datang dengan penampilan sempurna seperti biasa.
Wanita itu meletakkan sebuah amplop di atas meja.
“Apa ini?” tanya Clara pelan.
“Uang.”
Clara langsung menatap Vanessa tajam.
“Aku bukan wanita seperti itu.”
“Aku tahu.” Vanessa tersenyum kecil. “Makanya aku datang bukan untuk menghina kamu.”
Clara mengernyit bingung.
Vanessa menarik napas panjang.
“Nathan benar-benar mencintaimu.”
Kalimat itu membuat Clara membeku.
“Selama bertahun-tahun aku mengenalnya,” lanjut Vanessa lirih. “Aku belum pernah melihat dia mempertaruhkan segalanya demi seseorang.”
Tatapan Vanessa perlahan berubah sedih.
“Aku kalah bahkan sebelum mulai.”
Untuk pertama kalinya Clara melihat sisi rapuh wanita itu.
“Tapi keluarga Alexander tidak akan pernah menerima kamu,” lanjut Vanessa. “Dan Nathan akan terus terluka selama mempertahankan hubungan ini.”
Clara menggenggam cangkir kopinya erat.
Dadanya kembali sesak.
Vanessa berdiri perlahan.
“Kalau kamu benar-benar mencintainya…”
Wanita itu menatap Clara dalam-dalam.
“…maka lepaskan dia.”
Deg.
Kalimat itu menghantam hati Clara lebih keras dari apa pun.
⸻
Malam harinya Nathan kembali ke apartemen dengan tubuh lelah.
Namun begitu masuk, ia langsung merasa ada yang berbeda.
Terlalu sunyi.
“Nathan…”
Suara Clara terdengar pelan dari ruang tamu.
Nathan menoleh dan langsung membeku.
Sebuah koper besar berdiri di samping Clara.
Wajah wanita itu pucat dengan mata merah seolah baru menangis lama.
Dan saat itu juga…
Nathan mulai merasa takut lagi.