Clara berdiri membeku di depan toko buku kecil itu.
Angin sore berembus pelan membawa aroma laut, tetapi dadanya terasa sesak seperti kehilangan udara.
Tatapannya tertuju pada tangan Vanessa yang melingkar manja di lengan Nathan.
Pemandangan itu terasa seperti pisau yang kembali mengoyak luka lama di hatinya.
Vanessa tersenyum tipis penuh kemenangan.
“Aku kira kamu benar-benar menghilang,” ucap wanita itu sambil menatap Clara dari atas ke bawah. “Ternyata cuma sembunyi di tempat seperti ini.”
Clara mengepalkan tangan.
Nathan langsung menarik lengannya dari Vanessa.
“Cukup, Vanessa.”
Nada suara Nathan dingin, tapi Clara sudah terlalu sakit untuk peduli.
Ia tertawa kecil pahit.
“Harusnya aku sadar dari awal,” katanya lirih. “Aku cuma permainan sementara di hidupmu.”
“Clara, dengarkan aku dulu—”
“Untuk apa?” potong Clara cepat. Matanya mulai memerah. “Supaya aku mendengar kalau keluargamu tetap memaksamu menikah dengan wanita itu?”
Nathan terdiam sesaat.
Dan lagi-lagi diamnya membuat hati Clara runtuh.
Vanessa tersenyum puas melihat ekspresi Clara.
“Aku dan Nathan memang sudah dijodohkan sejak lama,” katanya lembut pura-pura ramah. “Keluarga besar kami bahkan sudah merencanakan pertunangan resmi bulan depan.”
Deg.
Jantung Clara terasa seperti dihantam keras.
Walaupun ia sudah tahu, mendengar kenyataan itu langsung dari Vanessa tetap terasa menyakitkan.
Nathan langsung menatap tajam mantan kekasihnya.
“Aku belum pernah menyetujui apa pun.”
“Tapi keluargamu sudah setuju,” balas Vanessa santai. “Dan bukankah sejak awal gadis ini memang cuma kontrak?”
Kalimat itu membuat Clara membeku.
Kontrak.
Ya, semuanya memang berawal dari kebohongan.
Tidak seharusnya ia berharap lebih.
Clara menunduk cepat sebelum air matanya jatuh di depan mereka.
“Aku harus bekerja,” katanya pelan.
Lalu ia berbalik masuk ke dalam toko tanpa melihat Nathan lagi.
Namun sebelum pintu tertutup, Nathan menahan tangan Clara.
“Lepaskan,” bisik Clara menahan tangis.
“Aku tidak akan pergi sebelum kamu mendengarkanku.”
Tatapan Nathan penuh kelelahan.
Untuk pertama kalinya Clara melihat pria itu benar-benar terlihat hancur.
“Aku mencarimu ke mana-mana,” lanjut Nathan pelan. “Aku bahkan hampir gila karena kehilanganmu.”
Clara menggigit bibirnya kuat-kuat.
“Kenapa?” tanyanya lirih. “Bukankah ini yang kamu mau? Kita selesai, Nathan.”
“Tidak,” jawab Nathan cepat. “Aku tidak pernah mau kehilanganmu.”
Vanessa langsung tertawa kecil sinis.
“Nathan Alexander jatuh cinta?” katanya mengejek. “Menarik sekali.”
Nathan mengabaikannya sepenuhnya. Fokusnya hanya pada Clara.
“Aku memang bodoh,” ucap Nathan pelan. “Aku pikir aku bisa mengendalikan semuanya. Tapi sejak kamu pergi… rumah itu terasa kosong.”
Clara memalingkan wajah.
Ia benci karena hatinya masih berdebar mendengar kata-kata itu.
Benci karena dirinya masih berharap.
“Nathan…”
Belum sempat Clara melanjutkan, ponsel Nathan tiba-tiba berdering.
Nama “Grandfather” muncul di layar.
Ekspresi Nathan langsung berubah dingin.
Ia mengangkat telepon itu perlahan.
“Aku sedang sibuk.”
Suara berat dari seberang terdengar samar namun cukup keras hingga Clara bisa menangkap beberapa kata.
“…pertunangan minggu depan…”
“…jangan mempermalukan keluarga…”
“…tinggalkan gadis itu…”
Nathan mengepalkan rahangnya.
“Aku tidak akan menikahi Vanessa.”
Kalimat itu membuat Vanessa langsung menatap tajam.
Namun suara sang kakek terdengar semakin keras.
“Kalau kau menolak, lupakan posisi CEO-mu.”
Sunyi.
Clara bisa melihat emosi bercampur di wajah Nathan.
Marah.
Tertekan.
Dan lelah.
Panggilan itu berakhir tanpa kata lain.
Nathan mengusap wajah frustrasi.
Vanessa mendekat sambil menyilangkan tangan.
“Kamu tahu keluarga tidak akan pernah menerima Clara,” katanya dingin. “Dia bukan siapa-siapa.”
Nathan menatapnya tajam.
“Dan kamu pikir aku peduli?”
Kalimat itu membuat Vanessa kehilangan senyum untuk pertama kalinya.
Sedangkan jantung Clara berdegup tidak karuan.
Nathan benar-benar membelanya.
Namun Clara justru semakin takut.
Ia sadar dunia Nathan terlalu tinggi untuk dirinya.
Keluarga kaya.
Perusahaan besar.
Tekanan media.
Sedangkan ia hanya perempuan biasa yang bahkan harus bekerja keras demi bertahan hidup.
Hubungan mereka terasa mustahil.
“Aku lelah…” bisik Clara akhirnya.
Nathan langsung menatapnya.
“Aku benar-benar lelah terus berharap pada sesuatu yang tidak mungkin.”
“Tidak ada yang tidak mungkin selama aku bersamamu.”
“Masalahnya…” Clara tersenyum pahit. “Dunia kita berbeda.”
Nathan melangkah mendekat hingga jarak mereka nyaris tidak ada.
“Aku tidak peduli.”
“Tapi aku peduli!” suara Clara akhirnya pecah. “Kamu tidak tahu rasanya dihina setiap hari karena dianggap tidak pantas berada di sisimu!”
Nathan membeku.
Air mata akhirnya jatuh di pipi Clara.
“Aku mencintaimu, Nathan,” ucapnya lirih sambil menangis. “Dan itu alasan kenapa aku pergi.”
Deg.
Nathan seperti kehilangan napas.
Itu pertama kalinya Clara mengakui perasaannya.
Pria itu langsung memeluk Clara erat tanpa peduli siapa pun yang melihat.
“Aku juga mencintaimu,” bisiknya serak.
Tubuh Clara langsung bergetar.
Pelukan itu terasa hangat.
Terlalu hangat sampai hampir membuatnya menyerah pada semua rasa sakit yang ada.