Keterlambatan

1017 Words
Zafran bangun di pagi hari dengan suasana hati yang cukup baik, karena masih ada Vania di sampingnya. Ia pun meregangkan otot-otot yang ada di sekitar pinggang saat bangkit. Zafran tersenyum melihat istrinya yang masih terlelap, Zafran kira, saat ia terbangun Vania sudah tidak ada di sisinya. Namun ternyata, Vania masih tidur lelap. Hal itu membuatnya tak kuasa menahan keinginan tangannya untuk mengusap pipi halus dari Vania. Gerakan yang dibuat oleh tangannya berhasil mengusik ketenangan tidur Vania hingga wanita cantik itu membuka matanya secara perlahan. “Eungh, ada apa?” tanya Vania, suaranya terdengar sangat parau. Kedua matanya berusaha terbuka, walau sangat jelas sekali jika kantuk masih belum mengizinkan Vania untuk benar-benar membuka kedua matanya. Vania menghela napas kasar seraya memaksa tubuhnya untuk bangkit. Ia melihat ke arah jam dinding yang mana hal itu membuatnya langsung mendesah kasar. Ternyata hari sudah pagi, bahkan sudah lewat dari jam bangun Vania yang biasanya. Itu artinya, Vania harus benar-benar memaksakan matanya agar terbuka. Tak ada lagi waktu baginya untuk terpejam dan menikmati mimpi yang tak ubah layaknya film yang membuat Vania betah. “Bangun, udah pagi! Nanti Nenek marah-marah lagi!” peringat Zafran. Vania yang mendengarnya menganggap jika kalimat yang disampaikan oleh suaminya itu adalah sebuah candaan. Padahal, Zafran sangat serius ketika mengutarakan kalimatnya. Tangan Zafran dengan segera menarik tubuh istrinya agar bangkit, dan hal tersebut berhasil membuat Vania langsung duduk dengan tegak. Vania menghela napas dalam seraya mulai beranjak dari kasur. “Aku mau wudhu dulu, kita shalat bareng ya?” Tentu saja Zafran tak akan menolak. Menjadi imam dari istrinya adalah salah satu hal yang menggembirakan. Ia langsung mengangguk dan membiarkan Vania beranjak menuju kamar mandi. Untuk membantu istrinya, Zafran langsung merapikan tempat tidur. Bukankah hal yang baik jika ia membantu sang istri? Hingga Vania keluar dari kamar mandi, apa yang dilakukan oleh Zafran belum selesai. Dan apa yang tengah dilakukannya itu membuat Vania langsung tersenyum senang. Jika saja ia belum berwudu, maka Vania pasti langsung memeluk tubuh suaminya itu. “Rajin banget sayangnya aku!” canda Vania, sembari tersenyum, ia mengambil alat salat untuknya dan juga untuk Zafran. Kalimat yang dilontarkan oleh Vania membuat Zafran turut tersenyum, bahkan pipinya hampir saja bersemu jika ia tak mengalihkan pandangannya cepat-cepat. Lantas Zafran langsung menyelesaikan pekerjaannya. Dengan segera ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Tingkah mau-malu yang ditunjukkan oleh pria muda itu tak luput dari perhatian Vania yang hanya mampu mengulum senyum sembari menggelengkan kepalanya. 0o0o0o0o0 “Adik kamu sering terlambat bangun kayak gini?” tanya Asih, pada Vano yang baru saja keluar dari kamarnya. Pertanyaan tersebut kontan saja membuat Vano langsung menoleh, sedikit kaget karena neneknya berada tak jauh dari pintu kamarnya. Sambil mengusap rambutnya yang basah karena habis keramas, Vano pun langsung menggelengkan kepalnya. “Engga, Nek, kadang-kadang aja. Emangnya Vania belum bangun ya?” “Iya, padahal ini udah mau jam enam, sampai akhirnya nenek masak sendirian!” keluh Atina dengan mulutnya yang komat-kamit. Atina pun langsung melangkahkan kakinya menuju meja, makan, yang mana langkah kakinya tersebut langsung diikuti oleh Vano dengan gontai. Vano berharap jika keterlambatan yang Vania lakukan tak akan mengubah pagi ini menjadi pagi yang buruk. Semoga saja! Atina duduk di atas kursi akan dengan wajah yang lesu, cenderung masam yang membuat Vano tak berani untuk mengutarakan apa pun. Pria muda itu hanya menarik napas dalam dengan harapan agar adik dan juga adik iparnya akan segera datang. Untunglah doanya terkabul, tak lama kemudian datang Vania dan juga Zafran yang tampak berjalan sambil mengobrol, hingga membuat mereka tertawa. Namun, tawa keduanya sama-sama hilang ketika melihat Atina yang menunjukkan mimik wajah yang tak bersahabat. Tampak Vania yang langsung menarik napas dan menghampiri Nenek. “Selamat pagi, Nek. Maaf aku terlambat bangun, kayaknya aku mimpi indah, jadi aku keenakan tidurnya.” Vania sengaja menyisipkan tawa ringan di akhir kalimatnya dengan harapan jika apa yang dilakukannya dapat membuat suasana mencair. Namun, Atina sama sekali tak menunjukkan mimik wajah yang berubah. Ia tetap sama, bahkan kini mendelik ke arah Vania. Zafran yang melihat itu mencoba untuk tak peduli, ia duduk di tempat yang biasa ia tempati. Wajahnya enggan menoleh ke arah Atina, ia memilih untuk menyunggingkan senyum ke arah Vano. “Kamu tahu ini jam berapa?” tanya Atina, memberikan tatapan tajam ke arah Vania yang langsung menganggukkan kepala. Vania Asih mencoba untuk menyunggingkan senyuman di bibirnya walau sangat suit. Ia pun mendudukkan tubuhnya di samping Zafran dengan perlahan. Kedua mata Vania memindai makan yang tersaji degan baik di atas meja makan, pasti Atina yang telah memasak itu semua. Vania jadi merasa bersalah karena telah membiarkan wanita tua iu bekerja keras di pagi hari. Seharusnya, Vania tidak bangun terlambat tadi, dengan begitu ia bisa membantu Atia untuk masak. Bahkan jika perlu, Vania sendiri yang melakukan hal itu. “Tahu, Nek. Maaf, aku bangunnya terlambat,” ujar Vania. Ia menarik napas dalam sambil melirik ke arah kakaknya. “Bagus kalau kamu tahu! Harusnya kamu bangun lebih pagi! Udah nikah tapi kelakuan masih kayak anak sekolah yang bangun aja harus digedor, kan masa iya?” hardik Atina. Vania hanya mampu menelan ludahnya kasar. Jujur saja, ia tersinggung dengan kalimat yang dilontarkan oleh Atina. Namun, Vania tak mau menunjukkannya. Ia pun akhirnya memilih untuk membalikkan piring yang ada di hadapannya. “Bisa kita mulai makannya?” Tak ada jawaban yang diberikan oleh Atina, Vania menganggapnya sebagai jawaban iya. Dengan segera, ia pun mulai mengalas nasi untuk semua orang, menyiapkan lauk yang sudah terhidang ke atas piring masing-masing. Barulah setelah selesai, Vania menuangkan air puti ke dalam empat gelas yang berposisi di tengah. Setelah selesai, ia langsung duduk. Atina langsung memulai kegiatan makannya dalam hening, yang mana hal itu langsung diikuti oleh Vania, Zafran, dan juga Vano. Tak ada yang mau memulai percakapan, terlebih Zafran yang sangat malas berurusan dengan Atina. Begitu pun Vania, ia tahu jika neneknya itu tengah marah. Mungkin Vania akan meminta maaf lagi secara khusus ketika mereka berbicara nanti. Vania pun akan meminta agar neneknya mau mengubah sikapnya di hadapan Zafran. Semoga saja, Atina tak akan salah menangkap apa yang akan dikatakan oleh Vania nantinya. Besar harapan Vania jika Atina akan mau mengubah sikap dan juga kalimatnya di hadapan Zafran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD