Insiden Memilukan

1042 Words
Tidak terasa malam pun tiba, setelah pulang kantor, Suci bergegas pulang ke rumah hanya untuk membersihkan diri dan pergi lagi untuk menemui Nino seperti yang sudah dijanjikan tadi siang. Jam menunjukkan pukul 18.30 Suci berpamitan kepada ibu dan ayahnya karena ingin menemui Nino. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tidak disangka jalanan malam ini cukup ramai hingga akhirnya Suci terjebak macet. Ditambah lagi langit sedang tidak mendukung karena turun hujan yang cukup deras. Ia pasti akan datang terlambat mengingat pukul 19.00 Suci sudah harus sampai di cafe. Setelah dikiranya jalanan sudah lengang, Suci melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi mengingat ia sudah sangat terlambat karena kemacetan tadi. "Ya Allah, Nino pasti sudah sampai dan nungguin, aku harus cepat sampai di cafe agar Nino tidak menunggu lama," gumam Suci sembari melajukan mobilnya. Terdengar bunyi telepon berkali-kali di handphone Suci yang diyakini Suci adalah panggilan dari Nino. Berusaha ingin mengambil handphonenya yang berada di dalam tas tapi sayangnya setelah berhasil didapatkan, handphone Suci terjatuh. Ia berusaha mencoba mengambilnya tanpa memberhentikan terlebih dahulu laju mobilnya. Saat handphone sudah berhasil diraih dan Suci ingin mengangkat telepon dari Nino, tiba-tiba saja ada pengendara motor yang datang dari arah berlawanan, sontak Suci pun kaget dan membanting stir mobilnya ke kiri demi menghindari agar tidak menabrak si pemotor tersebut. Mobil Suci tergelincir hingga akhirnya menabrak pohon rindang yang berada di pinggir jalan. Mobil menghantam pohon dengan cukup keras hingga menyebabkan kemacetan. Kepala Suci pun terbentur stir mobil dengan keras hingga membuatnya tidak sadarkan diri. Kecelakaan yang dialami Suci membuat kemacetan panjang di jalanan tersebut. Banyak orang berbondong-bondong menghampiri mobil Suci untuk menolongnya. Saat dihampiri ternyata kondisi Suci sangat parah. Darah segar mengucur deras dari kepalanya, beruntung nafas dan denyut nadinya masih ada. Dengan cepat, salah satu pengendara motor menelpon ambulance untuk membawa Suci ke rumah sakit terdekat. Tidak lama ambulan pun datang menjemput Suci dan segera membawa Suci ke rumah sakit. *** Di cafe, Nino yang menunggu Suci mulai cemas karena tidak sama sekali mendapat kabar keberadaan Suci. Tidak sengaja Nino menjatuhkan gelas kopi pesanannya. Perasaan Nino seketika menjadi tidak enak. Ia langsung segera pergi untuk menghampiri Suci ke rumahnya. Pikirnya, Suci telat karena ia lupa akan janjinya bertemu dengan Nino. Pria itu melangkah meninggalkan cafe menuju mobilnya, sebelum melajukan mobilnya, Nino mendapatkan telepon dari nomor yang tidak dikenalnya. Penasaran, Nino pun mengangkat telepon tersebut. Terdengar suara seorang pria yang berbicara. "Halo, selamat malam. Apa benar ini dengan bapak Nino? Kami dari pihak kepolisian menemukan rekan bapak yang bernama Suci Prayudanti mengalami kecelakaan di jalan Malioboro. Kami menemukan nomor bapak di panggilan terakhir di handphone saudari Suci. Sekarang saudari Suci berada di rumah sakit Pratama," ucap seorang polisi menjelaskan apa yang terjadi kepada Suci. "Apa? Suci kecelakaan? Baik pak terima kasih saya akan segera ke sana", ucap Nino dengan lemas mendengar kabar berita dari polisi tersebut. Bagai disambar petir, Nino tidak menyangka akan nasib yang dialami kekasihnya. Tanpa pikir panjang, Nino melajukan mobilnya menuju rumah sakit dan berharap keadaan Suci baik-baik saja. Dalam perjalanan pun Nino sempat menelepon orang tua Suci untuk mengabarkan keadaan Suci, orang tua Suci yang mendengar berita anaknya kecelakaan syok dan kaget tidak percaya anaknya bisa mengalami hal tragis. Sampai di rumah sakit, Nino menunggu Suci di depan ruang operasi. Ya, Suci dioperasi karena banyak sekali kehilangan darah. Orang tua Suci yang baru sampai langsung menghampiri Nino. Di depan ruang operasi sudah ada Nino, dua orang polisi dan beberapa saksi mata kejadian kecelakaan yang dialami Suci. Polisi dan saksi mata menjelaskan kronologi insiden kecelakaan yang menimpa Suci. Mendengar penjelasan polisi dan saksi mata, d**a ibunda Suci terasa sesak yang akhirnya membuat ibunda Suci pingsan. Nino yang melihat itu spontan menolong calon ibu mertuanya, memanggil suster dan dokter agar cepat diberi pertolongan. Sebenarnya Nino pun tidak kuasa menahan rasa sakit di dadanya mendengar kejadian yang menimpa calon istrinya. Namun Nino berusaha untuk tetap kuat dan selalu berdoa karena ia yakin Suci orang yang kuat dan mampu bertahan dalam kondisi sulit seperti ini. Ya, ia yakin Suci akan baik-baik saja dan lekas sembuh seperti sedia kala. Di dalam kecemasan Nino menunggu kabar Suci, ia menelepon kedua orang tuanya memberi tahu kabar yang menimpa Suci. Tidak lama, orang tua Nino pun datang. Ibu Nino langsung berhambur memeluk anaknya. Ia tahu betul akan apa yang dirasakan oleh Nino. Hancur, itu sudah pasti. Siapa yang tidak hancur bila tahu kekasih yang sangat dicintai terbaring di kamar operasi dan sedang bertaruh nyawa. Ibu Nino mencoba menguatkan anaknya. Ayah Nino pun mencoba menguatkan ayah Suci. Lama menunggu hingga empat jam akhirnya dokter keluar dari ruang operasi dan memberi tahu hasilnya. "Alhamdulillah operasi berjalan dengan lancar," ucap salah satu dokter yang keluar dari ruang operasi tersebut. Mendengar kabar dari dokter, semua orang mengucapkan syukur tidak henti-hentinya. Ibu Suci yang sudah siuman pun menangis bahagia mendengar kabar dari dokter. "Tapi, saya mohon maaf. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, namun akibat kecelakaan itu kepala ibu Suci terbentur cukup keras dan mengenai saraf matanya hingga saraf matanya putus. Mohon maaf, ibu Suci mengalami kebutaan, tapi bisa disembuhkan dengan operasi donor mata," sambung dokter melanjutkan perkataannya tadi kemudian melangkah pergi meninggalkan keluarga yang sedang dirundung kesedihan. Mendengar ucapan dokter barusan, ibu Suci histeris ia menangis tiada henti, tidak percaya akan apa yang dialami oleh anak kesayangannya. Nino yang mendengarnya pun syok, ia terduduk bersimpuh menangis tersedu. Merasa gagal ia menjaga Suci, ia terus menyalahkan dirinya sendiri. Seandainya ia tidak menelepon Suci terus menerus, mungkin kejadian ini tidak akan terjadi. Sungguh menurut Nino semua ini adalah kesalahannya. Ia tidak tahu bagaimana lebih hancurnya perasaan Suci jika ia tahu kabar yang menimpa dirinya. Ibu Nino yang melihat kesedihan anaknya selalu memeluk anak bungsunya itu. Seakan tahu rasa sakit yang dirasa oleh anaknya. Tidak henti-hentinya Nino menangis menyalahi takdir yang menimpa kekasihnya. Ia juga terus menyalahi dirinya sendiri. Ibunya terus memberi ketenangan agar Nino bisa berpikir positif dan tetap tegar. "Kamu harus kuat nak, kamu harus tegar. Kalo kamu seperti ini bagaimana nanti dengan Suci, Suci pasti lebih terpuruk lagi, jadi kamu harus kuat ya nak," pesan Dian sambil terus memeluk anaknya yang terus menangis. Beberapa kali juga terlihat Eva yang kembali pingsan karena tidak terima akan nasib anaknya, Darma yang tahu akan perasaan istrinya mencoba terus menenangkan hati istrinya agar bisa menerima kenyataan pahit yang dialami Suci. Bersambung....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD