Yogyakarta, salah satu kota sibuk di Indonesia. Kota yang sangat indah, bersih, sejuk, serta nyaman. Suci Prayudanti, gadis cantik dengan postur tubuh tinggi, memiliki rambut hitam panjang berumur 27 tahun membuat mata lelaki yang melihatnya terus terpana. Suci merupakan salah satu anak dari pemilik perusahaan tekstil terbesar di Yogyakarta, PT Wijaya Sentosa yaitu milik Darma Wijaya.
Walaupun terlahir dari kalangan terhormat, Suci sangat sederhana dan sangat penyayang. Kesederhanaan Suci lah yang membuat salah satu CEO ternama dari PT Angkasa Jaya, Nino Prasetyo jatuh hati kepadanya sejak menduduki bangku kuliah dulu.
Ya, Suci dan Nino pernah kuliah di salah satu kampus ternama di Yogyakarta, dimana Suci merupakan junior dari Nino. Nino yang kala itu melihat Suci sejak pandangan pertama langsung jatuh hati kepadanya. Bagai gayung bersambut, saat Nino mengutarakan perasaannya kepada Suci, Suci pun menerimanya dan akhirnya mereka menjalin hubungan sampai sekarang. Tak disangka dari hanya hubungan percintaan Suci dan Nino, ayah mereka pun ternyata menjalin hubungan kerjasama bisnis dibidang tekstil.
Tepatnya hari Minggu, Nino membawa Suci pergi untuk membicarakan suatu hal yang sangat penting. Sampai ditempat tujuan di sebuah bukit dengan pemandangan alam yang indah, Nino mengutarakan niatnya untuk melamar Suci.
"Sayang, tutup matanya sampai aku bilang buka baru kamu buka ya," ucap Nino dengan senyum di bibirnya.
"Oke, tapi jangan lama-lama ya," balas Suci sembari menutup kedua matanya dengan tangannya.
"Sekarang, buka mata kamu," sambil duduk bersimpuh dihadapan Suci sembari memegang kotak kecil berbentuk hati yang didalamnya terdapat sebuah cincin permata yang sangat indah. Suci pun membuka matanya, dan betapa terkejutnya ia, seolah tak percaya akan apa yang ada dihadapannya.
"Suci, Will you Marry me?" tanya Nino tanpa banyak basa basi karena Nino sebenarnya bukanlah tipe lelaki yang romantis, tapi ia cukup tahu bagaimana membuat hati pasangannya bahagia.
"Yes, I Will Nino," jawab Suci yang terlontar dari mulutnya begitu mendengar lamaran dari sang kekasih hati.
Dengan sangat bahagia Suci meraih tubuh Nino untuk memeluknya. Ya, Suci bahagia, sangat bahagia karena memang saat-saat seperti ini lah yang ia tunggu selama ini setelah penantian panjangnya. Setelah mereka saling berpelukan mengutarakan kegembiraan mereka satu sama lain, Nino mulai memasang cincin ke jari manis Suci. Sangat pas dan sangat cocok berada di jari jemari Suci.
"Sangat cantik dan pas di jari kamu, sayang," puji Nino sembari mengecup tangan Suci yang sudah dipakaikan cincin.
"Terima kasih sayang untuk semuanya, aku sangat bahagia," ucap Suci sambil memeluk Nino kembali dan menangis di pelukan Nino karena ia sangat terharu melihat perlakuan romantis Nino yang jarang sekali Nino tunjukan kepada Suci.
***
Keluarga Suci dan Nino mengadakan pertemuan. Pertemuan untuk membahas tentang prosesi lamaran yang lebih sakral lagi. Pertemuan itu dilakukan di kediaman Suci. Tampak terlihat ayah dan ibu Suci, serta Nino, Hermawan dan istrinya. Mereka semua berkumpul di ruang tamu yang megah. Rumah yang kental dengan nuansa adat Jawa itu kini tengah ramai dengan suara tawa masing-masing keluarga.
"Saya ingin acara lamaran anak kita dilangsungkan di hotel berbintang, untuk biaya biar semua saya yang atur," ucap Hermawan Sanjaya, dengan nada sombongnya.
"Tidak perlu mewah-mewah lah mas, ini kan baru acara lamaran saja bisa dilakukan di rumah, kalau bisa dilakukan hanya keluarga dan kerabat saja yang datang agar sifat kekeluargaannya lebih terasa," ucap ayah Suci yang menolak rencana dari ayah Nino.
Perdebatan kecil pun terjadi antara ayah Suci dan Nino. Namun pada akhirnya ayah Suci lah yang mengalah. Ya, sifat sederhana Suci turun dari sifat ayah dan ibunya. Keluarga Suci memang sangat sederhana meskipun mereka dari kalangan berada. Lain dengan ayah Nino, ayah Nino sangat sombong dan angkuh. Untuk hal seperti ini ia tidak mau terlihat buruk di mata klien-klien besarnya tapi berbeda dengan ibu Nino, ibu Nino memiliki kepribadian yang sangat baik dan juga sederhana.
Tanggal sudah ditentukan untuk prosesi lamaran diadakan. Prosesi lamaran itu akan dilakukan di sebuah hotel mewah di daerah Malioboro. Betapa bahagianya Suci dan Nino. Penantian mereka untuk menjadi sepasang suami istri sebentar lagi akan terwujud.
Setelah pertemuan dua keluarga kemarin, Suci menjalani rutinitas seperti biasa. Ia disibukkan dengan berbagai berkas-berkas penting milik ayahnya. Ia harus menyelesaikan semua berkas ini sebelum acara lamarannya tiba. Begitu pun dengan Nino, di kantornya Nino juga sedang sibuk berkutat dengan pekerjaannya. Di sela-sela kesibukannya, Nino selalu menyempatkan diri untuk menelepon kekasihnya hanya untuk sekedar mengingatkan Suci untuk makan karena Nino tahu jika Suci sedang sibuk, ia selalu lupa untuk makan siang. Nino khawatir jika penyakit maag Suci akan kambuh. Perhatian kecil seperti ini lah yang membuat Suci semakin jatuh hati kepada Nino.
Handphone Suci bergetar dan terdapat panggilan masuk dari Nino, tidak tunggu lama Suci langsung mengangkat telepon tersebut. Terdengar suara yang sangat ia cinta.
"Halo sayang, pasti kamu lagi sibuk ya? Jangan lupa makan ya nanti saat jam istirahat siang. Ingat, boleh sibuk tapi kamu juga harus memperhatikan kesehatan kamu," ujar Nino memperingati Suci agar tetap menjaga kesehatannya di tengah kesibukan dari sambungan telepon.
"Iya sayang, kamu tenang aja. Makasih ya udah diingetin," ucap Suci sambil melengkungkan seulas senyuman karena perhatian dari Nino.
"Ya udah, teleponnya aku tutup ya, aku juga lagi banyak kerjaan soalnya, aku hanya mau ngingetin kamu itu aja. I love you," ucap Nino sambil memberi kecupan via telepon untuk Suci.
"I love you too, sayang," balas Suci penuh ketulusan dan sangat bahagia mendengar ucapan dari Nino lalu mematikan panggilannya.
Sambungan telepon pun terputus dan mereka melanjutkan pekerjaan mereka kembali masing-masing. Suci melanjutkan pekerjaannya sambil terus menyunggingkan senyuman mengingat perkataan Nino di telepon tadi. Hatinya benar-benar sangat berbunga-bunga. Allah begitu baik kepadanya, memberikan orang tua yang baik, kebutuhan yang cukup, memiliki kekasih seperti Nino, benar-benar Suci sangat bahagia dan tidak henti-hentinya mengucap rasa syukur kepada Allah yang telah memberi semua ini. Rasanya hidup Suci sudah lengkap dan tak kurang apa pun lagi, apa lagi jika nanti sudah menikah dan memiliki anak, hidup Suci pasti akan tambah lebih sempurna lagi.
Hanya dengan membayangkannya saja bisa membuat hati Suci berbunga-bunga dan tidak berhenti tersenyum, bagaimana nanti jika semua bayangan itu bisa terwujud dan menjadi nyata. Biarlah orang lain yang melihatnya seperti orang gila yang terus tersenyum sepanjang hari, tapi memang perasaan tidak dapat disembunyikan. Suci memang sangat-sangat bahagia dengan apa yang Allah takdirkan saat ini.
Jam istirahat siang telah lewat, tapi Suci masih berkutat dengan pekerjaannya. Ya, Suci lupa untuk makan siang karena ia terlalu serius mengerjakan pekerjaannya. Saat sedikit lagi pekerjaannya selesai, ada yang mengetuk pintu ruang kerjanya. Ternyata asistennya membawa bingkisan makanan yang diantar oleh supir ojek online barusan. Setelah menaruh bingkisan itu, asisten Suci keluar dari ruang kerja Suci.
Suci menghampiri bingkisan itu dan membukanya. Terlihat makanan kesukaannya yaitu nasi putih dengan lauk gudeg dan urap. Terdapat pula selembar kertas bertuliskan 'selamat makan siang sayang'. Ia sudah tahu siapa pengirim bingkisan makanan ini. Siapa lagi kalau bukan Nino. Satu lagi kejutan dari Nino yang membuat hari-hari Suci semakin bahagia dan tak berhenti tersenyum. Tanpa perlu menunggu lama karena ia pun memang sudah lapar, Suci memakan makanan itu dengan lahap dan tak lupa mengirim pesan kepada Nino untuk sekedar mengucapkan terima kasih karena telah mengiriminya makanan.
Bersambung...