KESERAKAHAN MARDI

1162 Words
" Malamnya semua anak buah Mardi kembali beraksi. Mereka kembali menyambangi rumah Aki Jalu untuk mencuri emas yang telah Wulan Ganti sebagai ganti emas yang telah hilang dicuri sebelumnya. Wulan dan Aki Jalu sudah punya rencana untuk menjebak siapa dalang dibalik para pencuri tersebut. Kretek,,,,, pintu depan dan belakang rumah Aki Jalu tampak dibuka paksa. Pintu yang kemarin baru diperbaiki setelah berhasil dirusak para pencuri itu kini kembali dirusak. Aki Jalu yang sengaja tidur ditengah rumah itu sengaja membiarkan para maling itu untuk masuk. Aki Jalu pura -pura tertidur saat para maling berhasil masuk dan menggeledah semua isi rumahnya. Bagaimana apa emas itu berhasil kalian dapatkan bisik satu maling bicara pada temannya. Satu temannya mengangkat jempolnya tanda berhasil. Bagus, dimana kalian menemukannya ucapnya lagi berbisik. Ditempat kemarin, situa bangka itu sangat bodoh dan t***l dia masih menyimpan emasnya ditempat kemarin ucapnya balik berbisik. Mereka berlima tertawa puas tanpa mengeluarkan suara. Sementara Aki Jalu samar mendengar pembicaraan itu hanya tersenyum sinis. Apa lagi yang akan kita lakukan, apa kita juga akan mengangkut semua hasil panennya seperti kemarin ucapnya lagi. Tentu saja bodoh, ambil semuanya sampai ludes. Tapi jangan membawa ataupun memberitahukannya pada juragan. Semua itu untuk kita semua. Juragan hanya menyuruh kita untuk mencuri emas saja ucap yang lainnya. Deg, ,,,,,,,d**a aki Jalu berdebar, ternyata dibalik dalang pencurian yang sering terjadi dikampung Cisaat ini adalah ulah juragan Mardi. Aki Jalu mengepalkan kedua tangannya erat, emosinya memuncak. Ternyata orang yang dipercaya dan dikira baik ternyata menusuk dari belakang. Semua kebaikannya hanya kedok untuk menipu semua warga. Kurang ajar ternyata semua ini ulah si Mardi batin Aki Jalu geram. Tunggulah Mardi semua kejahatanmu Sebentar lagi akan terbongkar, dasar busuk ucap aki Jalu lagi terus menggerutu dalam hatinya. Setelah semua maling keluar rumah dengan menggasak seluruh hasil panennya tanpa sisa sedikitpun Aki Jalu segera bangkit dari baringnya. Aki Jalu segera berkumpul dengan para warga yang sudah disiapkan dan diberi kode sebelumnya. Wulan dan Bu Siti juga turut hadir. Mereka semua dengan mengendap dan berjalan pelan segera Saja mereka mengepung rumah Mardi. Keadaan dirumah Mardi cukup ramai karena mereka sedang merayakan keberhasilan mereka. Ha.... Ha..... Ha..... Tawa Mardi begitu menggelegar. Bagus,,,,,,, kerja kalian sangat bagus beberapa hari ini. Karena kalian telah berhasil mencuri emas milik Aki Jalu, kalian boleh bersenang -senang dan ini bayaran untuk kalian ucap Mardi melemparkan dua gepok uang berwarna merah. Satu anak buah yang menjadi ketuanya gegas saja secepat kilat mengambil uang tersebut, mengendus dan menciumnya, merekapun tertawa bahagia. Gubraaaak,,,,,,,,, terdengar pintu didobrak dari luar. Pintu terbuka dan beberapa orang masuk kedalam rumah tersebut. Semua orang yang ada didalam rumah tersebut kaget dan terkejut. Mereka tidak tau kalau ternyata pembicaraan mereka telah didengar beberapa warga. Kurang ajar, jadi ternyata selama ini yang sudah mencuri dan maling disetiap rumah dikampung ini adalah karena ulahmu. Busuk kau Mardi, ternyata semua kebaikanmu didepan kami semua hanya topeng belaka teriak Aki Jalu. Bangsat,,,,, Siapa yang sudah mengiijinkan kalian masuk kedalam rumahku nyalang Mardi menatap beberapa warga yang masuk kedalam rumahnya. Atas dasar apa kau menuduhku sebagai dalang pencurian dirumahmu Jalu. Aku tidak melakukan apapun teriak Mardi tertawa remeh. Apa kau punya bukti menuduhku seperti itu sinis Mardi lagi. He...... He..... He.... Jangan mengelak terus Mardi, asal kau tau emas yang kau curi dari rumahku itu adalah emas palsu ucap Aki Jalu lagi. Aku dan Wulan sudah menukarnya dengan yang palsu. Kami berusaha menyusun rencana dan ingin menjebak siapa dalam pencurian selama ini. Kurang ajar....... Jadi kalian sudah merencanakan semua ini untuk menjebakku hah. Apa kau tidak takut kau berhadapan dengan siapa Jalu. Apa yang bisa kalian lakukan disini hah, mau mampus kalian teriak Mardi remeh. Hajar mereka semua teriak Mardi menyuruh para anak buahnya. Beberapa warga mundur melihat beberapa anak buah Mardi saat akan menyerangnya. Melihat wajah garang dan sangar para anak buah Mardi membuat warga yang tadinya beringas kini nyalinya ciut. Aki Jalu yang tampak masih berdiri didepan tanpa bergerak sedikitpun. Kelima anak buah Mardi menyerangnya. Tentu saja Aki Jalu kalah karena tidak punya kemampuan bela diri apapun. Aki Jalu tersungkur kelantai rumah Mardi sudut bibirnya berdarah. Badannya diinjak satu anak buah Mardi. Ha,,,,,,,, Ha,,,,,, Ha,,,,,,, Mardi Tertawa senang melihat aki Jalu jatuh tersungkur. Hanya itu kemampuanmu Jalu. Kau begitu sombong ingin melawanku, cuih.... kau tidak akan sanggup ucap Mardi lagi menunduk dan menjambak rambut Aki Jalu. Kepala Aki Jalu tergelak kebelakang. Kedua tangannya dipegang oleh kedua anak buah Mardi, jadilah aki Jalu tidak bisa berbuat apa -apa. Warga yang lain hanya diam melihat. Mereka begitu ketakutan dan tubuh mereka juga gemetar. Mereka saling merapat saat dua anak buah Mardi mencoba mendekatinya. Apa kalian juga ingin seperti dia tunjuknya pada Aki Jalu. Mereka semua menggeleng. Bagus kalian semua memang harus patuh pada juragan bentaknya lagi. Semua tertawa termasuk Mardi. Mardi bangkit dan berteriak pada satu anak buahnya. Hajar dia dan jangan beri ampun ucapnya. Tapi sebelum itu terjadi satu anak buah Mardi yang ingin kembali menendang Aki Jalu terpental didepan Mardi yang baru saja membalikkan badannya untuk pergi. Mardi terkejut begitupun anak buah yang lainnya . Mardi membalikkan badannya dan melihat siapa yang sudah berdiri dihadapannya. Wulan,,,,,,, ucapnya Tak percaya. Ya ini aku,,, Mardi, aku datang untuk mencabut nyawamu ucap Wulan tenang. Ha..... Ha...... Ha..... Mardi malah tertawa meremehkan kearah Wulan. Apa yang bisa kau lakukan untuk membunuhku Wulan. Kau tidak akan sanggup melawanku dan melawan para anak buahku. Lebih baik kau menyerah saja, dan serahkan emas -emasmu lalu kita bersenang -senang ucap Mardi tersenyum genit kearah Wulan. Cuih,,,,,,,, jangan mimpi Mardi. Kau terlalu banyak bicara ucap Wulan lagi. Bangsat kurang ajar, gadis sialan beraninya kau meremehkan kempampuanku ucap Mardi murka. Tangannya mengepalkan erat, rahangnya mengeras giginya bergemeletuk. Mardi langsung saja menyuruh beberapa anak buahnya untuk mengepung Wulan. Tangkap dan hajar gadis sialan ini teriaknya. Kelima anak buah Mardi langsung mengepung Wulan. Hiaaaat,,,,,,,, bug,,,,,, bug,,,,,, bug,,,,, bug,,,, bug..... Kelima anak buah Mardi langsung jatuh terpental dengan sekali tendangan yang Wulan layangkan. Kurang ajar,,,, melihat kelima anak buahnya ambruk, emosi Mardi kian memuncak. Mardi menyerang Wulan membabi buta. Bug,,,,,, plos tinju Mardi memakan angin. Bug,,,,,, Bug,,,,,, Bug,,,,,, Wulan berbalik menyerang Mardi hingga jatuh terpental dan menabrak dinding. Mardi pun ambruk dan terkapar. Dari mulutnya mengeluarkan darah segar. Semua orang yang melihat kejadian barusan tidak menyangka ternyata Wulan sangat jago bela diri dengan sekali tendangan semuanya ambruk. Semua warga bersorak dan segera saja menghampiri para maling tersebut dan memukulinya membabi buta tak ketinggalan dengan Mardi yang sudah tidak berdaya. Mardi sampai meregang nyawa seketika. BERHENTI,,,,, teriak Aki Jalu yang sudah bisa bangkit berdiri dengan susah payah. Cukup, sudah cukup. Kalian jangan Main hakim sendiri. Ringkus semua maling yang masih hidup dan ikat yang kencang perintahnya. Warga pun menurut, walau sebenarnya mereka belum puas. Merekapun terpaksa mengikat keempat maling yang masih hidup. Satu maling dan Mardi yang telah tewaspun mereka biarkan sementara. Para warga semua berkumpul di rumah Mardi. Mereka semua menunggu waktu pagi yang sebentar lagi akan tiba. Sedangkan Wulan memilih kembali pulang dan besoknya akan kembali lagi bersama Bu Siti. Karena tadi mereka meninggalkan Sari sendiri dirumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD