Seorang pelayan memasuki sebuah ruangan menenteng sebuah papan nama yang baru, menggeser nama CEO lama yang kini sudah tidak menjabat lagi. David Arsenio Liam, Presdir CEO Perusahaan yang baru. Pelayan itu mengangguk kepala, berpamitan kepada seorang yang sejak tadi duduk di kursi miliknya.
Sekilas senyuman itu hadir di wajahnya yang terlihat dingin dan tidak bersahabat. Tangannya memegang sebuah foto wanita, di belakangnya terlampir sebuah data tiri seseorang yang selama ini ia cari.
“Ternyata kamu ada disekitarku selama ini!” gumamnya seraya membaca dengan seksama data diri wanita dalam foto itu.
“Agnes Lidya Zelin!” bisiknya, beberapa kali membaca nama yang tertera berusaha menghafal nama wanita yang sebelumnya tidak pernah ia temui itu.
David menekan telepon, sepertinya dia Tengah menghubungi seseorang. Tak berselang lama, seorang wanita masuk. David memandang wanita itu dan foto di tangannya secara bergantian memastikan bahwa sekretarisnya tidak salah orang.
“Kamu Agnes?” tanya David berbasa-basi, wanita itu hanya mengangguk datar.
“Jadi kamu calon istri saya?” tanya David membuka sebuah percakapan, Agnes terdiam. Mimic wajahnya tidak bisa menyembunyikan sebuah keterkejutan.
“Bagaimana Pak?” tanya Agnes berusaha memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
“Iya, kita akan segera menikah. saya dan kamu!” ucap David dengan tenang, senyumannya tampak dipaksakan sedangkan Agnes tidak bisa memasang wajah datarnya lagi. Wajahnya tampak meremehkan, dia sangat yakin jika CEO itu sedang menggodanya.
“Apa Bapak memanggil saya hanya untuk membicarakan hal konyol, tidak masuk akal ini?” tanya Agnes tanpa rasa takut to the point tidak mau terlalu lama berhadapan dengan presdir barunya, mereka baru bertemu sepekan setelah David dilantik bagaimana bisa tiba-tiba mereka akan menikah.
“Saya tidak sedang bercanda soal pernikahan ini.” jawab David masih dengan senyuman di bibirnya, beberapa orang mungkin melihat bahwa David tampak tenang padahal dalam hatinya mulai gelisah karena menaklukan Agnes tidak seperti wanita di sekelilingnya.
“Apalagi saya! Kalau tidak ada yang dibicarakan saya permisi!” Tegas Agnes berlalu meninggalkan David yang menatapnya pergi.
“Tunggu!” cegah David membuat Agnes menghentikan langkahnya, deru napasnya tampak resah karena kesabarannya hampir habis. Ada sedikit kekecewaan dalam hatinya, ia pikir presdir Perusahaan memanggilnya untuk membicarakan perihal pekerjaan, nyatanya hanya sebuah obrolan tidak berbobot.
“Saya punya alasan, saya membicarakan ini karena nama kamu yang dicantumkan kakek saya di surat wasiatnya.” Tambah David membuat Agnes mengeryitkan keningnya semakin tidak mengerti.
“Para leluhur kita telah menjodohkan kita, kamu bisa bertanya pada kakekmu!” ucap David terus melanjutkan pembicaraan, melihat Agnes yang mulai tertarik dengan obrolan mereka.
“Kakek saya sudah meninggal cukup lama, maka saya tidak akan menikah dengan seorang pria yang saya tidak kenal.” Tegas Agnes berlalu, membuat David menggertakkan giginya. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal. Rasanya antara marah dan menahan malu karena ditolak oleh wanita terlebih karyawan perusahaannya sendiri.
***
Tas belanja di genggaman tangan seorang gadis itu jatuh, tubuhnya mematung di tempat melihat pemandangan di hadapannya. Seorang lelaki Tengah berdiri di depan pintu apartemennya, lelaki yang beberapa hari ini ia hindari dan bahkan panggilan ke ruangannya pun Agnes abaikan.
Entah bagaimana David bisa menemukan persembunyian Agnes darinya, lelaki itu menoleh dengan senyuman berbinar begitu sosok yang sejak tadi ia tunggu akhirnya menampakkan diri. Beruntung saja, ia mengurungkan niatnya untuk pergi begitu beberapa kali ia menekan bel namun tidak ada jawaban.
“Untuk apa Pak David kemari?” tanya Agnes tampak tak suka, wajahnya benar-benar tidak sedap untuk dipandang. Sangat jelas di sorot matanya bahwa kehadiran David tidak dinginkan.
“Apalagi? Tentu saja membicarakan pernikahan kita.” Jawab David dengan penuh percaya diri, Agnes tidak terlalu menghiraukannya dia memilih segera membuka pintu apartemen dan menghindari pembicaraan tidak masuk akal itu.
Agnes ingin menutup pintu apartemen, dia tidak peduli jika dianggap tidak sopan. Pasalnya jabatan presdir untuk David hanya berlaku di perusahaannya saja. David menahannya dengan kakinya membuat Agnes mendongak, menatap mata tajam yang berwarna hitam pekat itu.
“Saya katakan sekali lagi Pak David! Saya benar-benar tidak tertarik dengan pembicaraan kita ini! tidak ada pernikahan di antara kita.” Tolak Agnes terdengar begitu pasrah, David terus mengejarnya dengan berbagai cara layaknya anak kecil.
“Agnes sebaiknya biarkan aku masuk, aku akan menjelaskan semuanya setelah itu kau bisa memutuskan untuk menikah denganku atau tidak!” Ucap David masih berusaha menawar penolakan dari Agnes.
Gadis itu mengalah, dia membiarkan pintu terbuka dan presdir Perusahaan itu memasuki apartemennya untuk pertama kali. Mata David mengitari setiap sudut ruangan, dia tidak memungkiri bahwa dia sedikit kagum dengan selera design Agnes, sedikit mirip dengannya.
Agnes memberikan minuman soda yang ia punya di lemari es pada David, tidak ada waktu untuk sekedar membuat secangkir kopi. Agnes sedang berusaha mempersingkat waktu agar David tidak terlalu lama berada di apartemennya.
“Saya tidak berbohong soal kakek kita yang menuliskan nama kita di wasiat mereka.” Ucap David memulai penjelasan panjang, Agnes menatap David datar tidak berniat untuk menyela atau mengabaikan.
“Lalu bagaimana bisa nama saya yang tertulis di wasiat itu? Sedangkan cucu kakek saya bukan hanya saja.” Bantah Agnes masih enggan percaya.
“Tanyakan pada dirimu sendiri mengapa kakekmu menuliskan namamu? Bukankah kamu adalah cucu kesayangannya?” tanya David membuat Agnes terdiam, benar! Cucu kesayangan Robert adalah Agnes, semua orang mengatakan hal demikian.
David mengeluarkan ponselnya, mengobrak-ngabrik galeri ponselnya. Begitu dokumen yang ia maksud ketemu, lantas menyodorkan pada Agnes agar gadis itu membacanya sendiri.
“Tidak mungkin!” gumam Agnes setelah membaca Salinan surat wasiat milik kakek David, Liam.
“Apa kakekmu masih hidup?” Tanya Agnes pada David, lelaki itu tersenyum dan menggeleng pelan. Senyumannya tak seperti biasa, seperti sebuah senyuman formal untuk menutupi sebuah luka.
“Kalau begitu kita tidak perlu menikah, kau bisa mencari wanita lain sebagai penggantiku. Wanita yang bersedia menjadi istrimu.” Ucap Agnes membuat David menggeleng.
“Aku tidak bisa mempermainkan perasaan kakekku, di surat wasiat itu tertulis namamu, maka tidak akan tergantikan oleh siapapun. Aku yakin siapa yang ditulis disana, dialah pilihan terbaik kakekku untuk saya.” Tegas David membuat hati Agnes sedikit tersentuh, dibalik sikapnya yang arogan dan juga keras kepala rupanya David masih memiliki hati Nurani meski untuk kakeknya saja.
“Kalau kamu ragu, kita bisa mencobanya!” usul David membuat Agnes mengerutkan keningnya tidak mengerti maksud dari ucapan David.
“Mencoba? Mencoba menikah maksud anda! Pernikahan bukan sesuatu untuk dipermainkan Pak!” pekik Agnes kembali kesal, amarahnya kembali tersulut mendengar usulan David yang kian menjadi.
“Kita bisa bersama selama dua tahun, setelah itu kita bisa bercerai. Setidaknya, biarkan aku mewujudkan keinginan mendiang kakekku.” Ucap David membuat Agnes tercengang, dia tersenyum masam antara terjebak dengan rasa iba atau memang David berusaha memanfaatkannya.
“Bukankah itu sama saja?” tanya Agnes tersenyum sinis mendengar penjelasan David.
“Bukankah kau juga ingin mewujudkan Impian kakekmu, kenapa kau terlihat tidak peduli padanya, padahal kau adalah cucu kesayangannya.” Telak David, Agnes bungkam tak sanggup membantahnya, benar! Jika memang itu keinginan Robert mengapa Agnes tidak bisa menurunkan sedikit egonya demi kebahagiaan mendiang kakeknya.
“Apa kamu ingin terus menikah denganku? Kita hidup selamanya!” tanya David menggoda Agnes, berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu larut dalam bayangan masa lalu yang menyedihkan.
***