Bule pov Gue sedang nongkrong di kampus, bersama sohib gue. Seperti biasa kami merumpi masalah gadis-gadis kampus. “Jadi ceritanya, gebetan lo, si Queeny, udah lepas dari genggaman?” sindir Jemmy, sohib sekaligus saingan abadi gue. Kami sama-sama bule, tapi gue bule level yahud. Dia hanya bule afkiran. “Yeah, gue kalah telak sama brondong tajir,” sesal gue. “Brondong ndeso, kan? Udik, panggilannya? Lo kalah dengan orang begitu? Pesona lo payah, Matt!” ledek Jemmy. “b******k! Dia menyamar, tauk! Gue terlena gegara mengganggap remeh dia. Namanya Dean, bukan Udik!” Jemmy mencibir, kentara dia meremehkan gue. Sialan! “Gue masih mempesona seperti biasa, Dodol!” semprot gue gemas. “

