Author pov Omprengan kumuh itu berhenti tepat di depan gerbang rumah yang sangat mewah. Ini bukan rumah, tapi lebih mirip istana, pikir Miah Van Houten dengan mulut ternganga. "Ndak salah, Pak Haji? Udin yayangku ngajak kondangan ke tempat ini?" Pak Haji mengeluarkan selembar kertas lecek yang dipakainya menulis alamat saat ditelpon Udin. Miah Van Houten melirik penasaran. Itu kertas apa bekas bungkus pembalut? Kumal sekali. "Bener kok, Nak Sarimi," jawab Pak Haji yakin. Miah kesal hatinya, hanya Pak Haji satu~satunya yang suka memanggil nama aslinya. Sarimi Ngapunten. Kekesalan Miah tak berlangsung lama, ia melihat seseorang berseragam satpam menghampiri mereka. "Lah itu, Mas Udin datang kemari!" "Ow paling ada hajatan massal di tempat kerja Mas Udin, jadi kita disuruh datan

