Irene menyeringai puas saat berhasil melumpuhkan peniru itu. Aku juga ikut menyeringai puas melihatnya tersenyum. Tak lama, Irene membantuku untuk melepaskan tali pengikat. Dan saat melihatnya begitu dekat itu, aku teringat dengan Jasmine. Mata hazel berwarna cokelat cerah dengan rambut kertiting yang indah. Bagaimana mungkin aku melupakannya. "Kau tidak apa-apa?" "Humm," jawabku singkat. Sebelum Irene benar-benar membawaku pergi, aku menanahannya agar menungguku sebentar. Pria ini tidak bisa kubiarkan pingsan seperti ini. Dia harus mendapatkan ganjarannya. "Kau mau apa? Kita serahkan dia pada polis --" "Mata dibayar mata. Nyawa dibayar nyawa. Dia harus rasakan apa yang aku rasakan terlebih dulu. Itu baru namanya impas." Aku tak tahu apa yang Irene pikirkan. Yang pasti setelah aku

