BAB 4 - I am First

1816 Words
Happy Reading♡♡♡ Rangga sama sekali tak bersuara, namun kakinya tak masih bergerak maju, membuat Kesya berjalan mundur. "L-lo mau nga-ngapain?" ucapnya terbata, "berhenti!" tegasnya, "Gue bilang berhenti, Rangga!" ulangnya penuh penekanan dengan napas yang sudah terengah. "Nggak akan ada yang bisa ganggu kita, setidaknya untuk malam ini!" ujar Rangga begitu santai, seolah apa yang hendak ia lakukan bukanlah hal yang sulit. Kaki Kesya menabrak ranjang, membuat tubuhnya terjatuh di atasnya. Sedikit meringankan, setidaknya Rangga tidak perlu membuang tenaga untuk itu, dan ia bisa memakainya untuk hal yang jauh lebih berarti. "Gue bilang..." Cup! Rangga mengecup kening Kesya lembut. Entah mengapa tapi hal itu berhasil membuat Kesya sedikit tenang. Meski jantungnya masih berdebar hebat, namun terasa sedikit kehangatan dalam hatinya. "Bisakah aku?" Rangga menatap lekat manik milik Kesya, seolah meminta kepercayaan lewat tatapan. Sedangkan tangannya sudah bergerak menurunkan gaun yang tak lagi kesusahan sebab tadi resletingnya sudah diloloskan. "Sejauh apa dia nyentuh lo?" Mendengar hal itu sontak membuat ketenangan Kesya kembali beralih emosi. Pria itu seakan mencoba untuk menjatuhkan harga dirinya yang bahkan sudah dibuat jatuh. "Sejauh apa yang nggak pernah lo tau!" Seketika rahang Rangga mengeras, mengingat kejadian itu. Melihat dengan jelas tubuh terlampau indah di hadapannya ini tengah ia jelajahi. Apa yang kemarin ia lihat adalah yang kesekian kali terjadi? sungguh Rangga tidak dapat membayangkannya. Sungguh ia tidak dapat menerimanya, bahkan tidak mau menerima kenyataan itu. "Nggak ada satupun yang boleh menyentuh milik gue!" Tanpa aba-aba, dengan satu hentakan Rangga membuat seluruh menembus pada milik Kesya seluruhnya. "Aaakkhhhh saa-kit Ranggaaaaa!" erang Kesya seperti menahan sakit yang teramat sangat. Tak bisa tergambarkan, atau diutarakan, hanya saja begitu sakit saja. Hening. "You are still virgin?" gumam Rangga. Tak ada sahutan, selain hanya isakan Kesya yang sedang menengadah ke atas sambil menggigit bibir bawahnya, menahan sakit. "Kesya?" "Bisa diem nggak?" pekik Kesya, tak habis pikir dengan apa yang coba pria itu buktikan. Rangga segera menjatuhkan tubuhnya ke samping, merasakan kelegaan karenanya. Terbukti bahwa hanya dirinya lah satu-satunya. "Thank's, i am first." Rangga mengecup lembut kening Kesya, lalu mengusap air matanya penuh kasing sayang, jauh dari yang telah ia perlakukan sebelumnya. "Puas?" delik Kesya dengan tatapan penuh kekecewaan. Seharusnya pria itu tak pernah menikahi seseorang yang tak dipercayainya. Kesya hendak beranjak, tapi Rangga tak membiarkannya. Pria itu kembali menindihnya. "Eumm.." Kesya segera membungkam mulutnya sesaat setelah bukan hanya bibir Rangga yang bekerja, tapi lidahnya kini mulai menyapu area tulang selikatnya. Tak lagi hanya kecupan ringan, pria itu berencana memenuhi tanda kepemilikannya di sana. Fokus Kesya yang sibuk menahan lenguhan suara, membuatnya tak menyadari kalau sekarang pria itu sudah meloloskan seluruh pakaiannya. Sekarang bahkan Rangga menahan kedua tangan gadis itu pada asing-masing sisinya, ditambah dengan sentuhannya yang semakin intim membuat Kesya sama sekali tak memiliki pilihan selain hanya mengeluarkan suaranya yang bahkan Kesya sama sekali tak menginginkannya. Mungkin Kesya merasa dirinya tengah gila sendirian, tapi nyatanya Rangga lah yang jauh lebih kehilangan kendali. Rangga tak bisa menahannya lagi, setelah membuat Kesya bertelanjang bulat, ia pun bergegas meloloskan seluruh pakaiannya. Untuk kali ini Rangga memang sibuk sendiri, setidaknya untuk membuat gadis yang belum mengerti apa-apa itu paham dengan tahapannya. Kali ini Rangga memberikan kenikmatan yang sebelumnya tak ia berikan, membuat gadis itu melupakan rasa sakitnya. Perlahan Rangga mulai bermain lagi ke daerah intim milik Kesya, meski rasa sakit itu kembali Kesya rasakan tapi dengan kecupan-kecupan yang Rangga lakukan pada puncak miliknya membuat Kesya kembali dibuat frustasi. Sangat sempit, miliknya seakan dipijat. Jujur saja ini bukan yang pertama untuk Rangga, maka dari itu ia tak merasa canggung untuk melakukannya. Tapi tanpa pengaman, dan melakukannya dengan penuh perasaan, ini baru terjadi pada detik ini. Mungkin hal itu pula yang membuat Rangga begitu hilang kesadaran, begitu ingin sampai tak mau menyudahi. Sensasi yang begitu luar biasa, begitu membuatnya gila. Satu tangannya sibuk dengan d**a Kesya, sedangkan tangan lainnya menahan pinggul milik Kesya sebagai tumpuan dari pergerakannya. "Akhh.. aku mau keluar, Sayang," erang Rangga dengan kepala yang menengadah ke atas, lalu tubuhnya pun menghentak beberapa kali sebelum akhirnya terkulai lemas di atas tubuh Kesya yang sudah lebih dulu tak bertenaga. "I love you," suara seraknya kembali berkata, sesaat sebelum kesadarannya kian menghilang, menyusul gadis yang baru saja ia ambil keperawanannya. Kesya, ia memiliki gadis itu seutuhnya. *** "Eummm," Kesya tak bisa meregangkan tubuhnya, bahkan seakan ada sesuatu yang menindihnya. Dalam ketetpejamannya Kesya kembali mengernyit, ia merasakan keanehan lainnya, ia merasa sesak, seolah ada sesuatu yang mendesak di dalamnya. Perlahan kedua mata Kesya terbuka, dan segera melebar sempurna ketika mendapati apa yang terjadi pada dirinya sekarang. Pergerakan Kesya membuat pria yang masih betah dengan posisinya ikut tersadar, ia bahkan dapat mendengar detak jantung milik Kesya, sebab telinganya tepat berada di sana. "Sayang, udah bangun?" Rangga melepaskan miliknya, membuat Kesya mengernyit merasakan pergerakannya menahan ngilu. "Cantik!" Rangga kembali berkata, melihat wajah polos milik istrinya yang bahkan masih sangat cantik meski setelah bangun tidur. Hal yang mulai saat ini akan menjadi kebiasaannya. Jika itu yang Rangga pikirkan, lain dengan Kesya. Ia masih tak menganggap ini nyata. Tidak mungkin hidupnya berubah begitu cepat. Bukan hanya tidur satu ranjang dengan seorang pria, tapi dalam satu selimut yang bahkan tanpa dibekali satu helai kain pun menutupi tubuhnya. Itu sangat mustahil. "Enggak, ini bukan kenyataan. Gue pasti mimpi." Kesya melafalkan kepercayaannya berkali-kali sembari menepuk-nepuk pipinya sambil terus mundur menjauh "Hey, heyyy nanti.." Bughhh! "Awwwh!" Kesya meringis, kesakitannya bertambah kini pada bokongnya. Tubuhnya pun terekspose karena selimutnya tertahan oleh Rangga. "Aku bilang apa kan," keluh Rangga, hendak membantu keterjatuhan istrinya. "Liat apa lo?" Dengan segera Kesya menarik sprai untuk menutupi tubuh polosnya, "jangan liat ke sini!" desaknya. Rangga hanya bisa menahan senyumnya. Entah apa yang wanita itu hendak tutupi, ia bahkan sudah melihat semuanya tanpa terkecuali. "Ngapain masih di sini?" Kesya masih tak berniat untuk berbaik hati, "pergi nggak?!" Baiklah. Sudah sepatutnya Rangga memberi waktu untuk Kesya dapat menerima hal baru dalam hidupnya, sebab ia memang tidak memberi kesempatan itu sebelumnya. Rangga bahkan langsung melakukannya pada malam pertama. "Aaaaaaak!" Kesya berteriak histeris, menutup penuh kedua matanya. Penglihatannya kini terkontaminasi. Sungguh matanya tak lagi suci. "Pergi!" teriaknya, "Pergi nggak?" Teriak Kesya segera menarik selimutnya yang tertinggal lalu melilitkannya lagi pada badan polosnya. Istrinya terlalu berisik bahkan masih sepagi ini. Untung saja kamarnya kedap suara, kalau tidak maka pasti seluruh penghuni rumah akan menjadi saksi atas perlakuannya yang dilakukan penuh paksaan. Haruskah Rangga kembali membuatnya diam? setidaknya untuk melewati hari paginya. "L-lo ma-mau ngapain?" tanya Kesya terbata, sembari memalingkan wajahnya dari sosok yang tengah mendekatinya dengan keadaan telanjang bulat. Dengan mudahnya Rangga meraih tubuh Kesya lalu membuatnya terduduk di atasnya, dengan kaki yang melingkar pada tubuhnya. Bahkan meski tanpa disengaja, milik Kesya sudah kembali melahap miliknya. Kesya melenguh, kepalanya kini berada di atas bahu Rangga seiring dengan membuatnya terbiasa. "Ranggg.." Belum sempat mengeluarkan kata, Rangga langsung melahap bibir merah Kesya yang sudah menggodanya sedari tadi. "Nggak pernah ciuman, ya?" keluh Rangga, melepas ciumannya, membuat Kesya kembali pada kesadarannya yang muali terbuai. "Apa harus diajarin juga?" "Enak aja!" decak Kesya. Meski semua ini memang baru baginya, tapi kalau untuk masalah bibir, teorinya sudah hapal di luar kepala. "Kesya tahu teorinya. "Enak aja" sangkal Kesya menghindari bibir pria itu "Oh ya? apa yang bisa dilakukan anak kecil seperti kamu? hemm." See! bahkan pria itu telah melakukan hal yang tak pantas pada sosok yang ia sebut anak kecil. Tak tahu malu. Tanpa diduga, ternyata Kesya benar membuktkkan ucapannya, ia menyambar bibir Rangga lebih dahulu, dengan cara yang bahkan lebih menuntut dari yang sempat Rangga lakukan. Tak ada penolakan, justru sekarang Kesya sudah melingkarkan tangannya pada leher Rangga. Tepat sasaran, tipuannya berhasil. Sindiran yang semata-mata hanya agar membuat wanita itu merasa tak kau kalah, kini Kesya tengah membuktikan, yang padahal ia sedang dibuat memakan umpannya mentah-mentah. Tubuh Rangga roboh, dan Kesya masih belum menyerah, ia berusaha keras untuk membuktikan dirinya, tak peduli dengan posisinya yang kini begitu mendominasi. "Eummhh," Kesya segera berhenti dan menarik dirinya dengan cepat ketika kesadarannya tiba-tiba kembali. "Kenapa berhenti?" protes Rangga yang merasa tanggung itu kembali menarik tubuh Kesya, kini membuat wanita itu berada di bawahnya. "Minggir! gue mau mandi." Rangga menggelengkan kepalanya, "sebelum itu, kita lakukan sekali lagi?" Kini giliran Kesya yang menggeleng, ia tak satu pemikiran. Tapi percuma, walau kesannya pria itu butuh peraetujuan, tapi nyatanya Kesya sama sekali tak bisa melakukan penolakan. "Salahkan kenapa kamu terlalu cantik untuk dilewatkan," tutur Rangga, sebelum kembali membuat tubuh yang berada di bawahnya menegang. *** Jam sudah menunjukan pukul 11 siang, tanpa merubah posisi dan masih sama seperti sebelumnya. Milik Rangga masih terbenam didalam sana. Rangga terbangun lebih dulu, melihat Sang Istri yang masih terlelap. Rangga mengedarkan pandangannya, begitu berantakan. Apakah semua pengantin baru seperti ini? ia saja baru tahu. Rangga menarik selimut untuk lebih menyelimuti tubuh istrinya yang terekspos. Ia mencium pangkal bibir Kesya lembut, kemudian beranjak untuk membersihkan diri ke toilet. Krwuk krwuk Rasa lapar membuat Kesya terbangun. Sejak kemarin siang belum ada satu pun yang masuk ke dalam perutnya. Ditambah semalaman ia sama sekali tak dibiarkan untuk beristirahat. Bukankah ini sudah termasuk penyiksaan? Kesya bangkit dari posisinya, tapi setelahnya ia melihat sebercak darah di sprai berwarna putih polos itu lantas kembali membuatnya lemas. "Eh, udah bangun," sapa Rangga yang baru menampakkan diri dengan keadaan shirtless, membuat Kesya merubah posisi duduknya jadi menyamping, tak lupa ia pun mengeratkan pegangannya pada selimut tebal yang sengaja ia lekatkan pada tubuhnya. Dengan tak tahu diri pria itu mengambil posisi duduk di sampingnya. "Mandi, gih!" Kesya mencebikkan bibirnya, "mau mandi kek, nggak kek, terserah gue. Urusan lo apa?!" Meski Rangga sudah mendapatkan tubuhnya, ternyata tak berarti hatinya pun luluh. Kesya benar-benar belum menyerah. Apakah ia tahu apa konsekwensinya? Rangga tidak pernah punya kesabaran jika itu di luar pekerjaan. "Apa perlu aku yang mandiin?" ujar Rangga kemudian, mengangkat bahunya singkat. "Aku nggak keberatan." "Ish!" Meski dengan tatapan sinis, itu tak membuat Rangga berubah pikiran, ia bersungguh-sungguh dengan ucapannya. "Oke!" pungkas Kesya, mengangkat kedua tangannya agar pria itu tak menyentuh. "Gue mandi. Puas?" Rangga mengangguk paham, lalu tubuhnya bercondong ke arah Kesya, "good girl!" mengelus lmbut pangkal rambutnya. Namun tak hanya itu, tanpa ijin ia juga meraih tubuh Kesya, menggendongnya ala bridal menuju toilet. "Turunin! gue bisa sendiri!!" Kesya meronta tak karuan, "b******k! reseee! sialan!" tentu saja mulutnya tak berhenti untuk menyumpah serapahi pria itu. Tak peduli mau suaminya atau bukan, Kesya hanya ingin meluapkan kekesalannya. "Aku udah siapan air hangat buat kamu mandi!" ucapnya, menurunkan Kesya di dalam toilet, tampaknya pria itu sama sekali tak mempermasalahkan apa yang sudah istrinya katakan. Lagipula Rangga hanya fokus pada apa yang ingin ia lakukan. "Dasar gapunya adab!" geram Kesya, memukul air yang ada di bathup, membuatnya bercipratan, "Eumm?!" air yang ia cipratkan mengenai wajahnya sendiri. Dan setelah ini segala keburukan yang ia tujukan pada Rangga, pasti akan kembali padanya. Karma itu ada! terlebih lagi jika itu berhubungan pada suami, maka jangan harap hidup akan baik-baik saja. Bersambung . . . Jangan lupa klik love dan komentarnya :))
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD