Happy Reading . . .
“Lama, ya?” Obrol Kesya ketika memasuki mobil berwarna merah tua yang menunggunya sejak 20 menit lalu.
“Anything for you,” balas Reza yang sama sekali tak menampilkan raut wajah keberatan.
Reza Malik, pria yang berhasil memacari Kesya sejak 1 bulan lalu. Terjadi ketertarikan semenjak jadi panitia OSPEK. Mulai berani mendekati ketika gadis itu memulai semester pertamanya di kampus, namun mulai ditanggapi si gadis baru 1 tahun lalu, dan akhirnya berhasil masuk dalam kehidupan gadis yang disukainya pada akhir-akhir masa kuliahnya.
Perjalanan panjang dalam memenangkan hati Kesya membuatnya amat menjaga dari para penikung yang marak di luaran, menghilangkan kemungkinan dari kembalinya para mantan yang menawarkan secuil kenangan, atau bahkan para perusak hubungan yang tidak ada pertanggungjawaban.
Kesya baru berniat menjalani hubungan serius setelah melirik kegigihan Reza yang sudah mendekatinya sejak lama. Lelaki ini sangat bisa menerima kemanjaannya, selalu tahu apa inginnya, dan itu membuatnya ketergantungan.
Kesya itu seperti batu, dan Reza adalah air yang menetesinya. Air yang terus menetesi batu pada akhirnya dapat membuatnya berlubang. Sebagaimana Reza, ia mampu menembus kerasnya hati Kesya karena ketetapannya pada pilihan, dan kekukuhannya dalam menetapkan, bukankah ini bukti nyata dari perjuangan yang tidak akan mengkhianati hasil?!
Keduanya saling tatap sambil melempar senyum satu sama lain, sejauh ini tak pernah ada masalah serius di antara mereka, dan Kesya mulai menyimpan harap pada hubungannya yang baru seumur jagung ini. Menjadi cantik membuatnya kesulitan dalam menemukan ketulusan, mungkin Reza adalah orang yang bisa diandalkan? Siapa yang tahu kalau tidak mencoba?!
***
“Dianaaaa!” panggil Kesya hendak menghampiri gadis yang sudah jadi sahabat karibnya sejak awal perkuliahan, namun pergerakannya tertahan oleh cekalan pria yang ada di sampingnya.
“Keyyy, ayoo!” ajak Diana dari kejauhan, tapi gadis yang memanggilnya lebih dulu itu malah pergi ke arah yang berseberangan. Ulah siapa lagi kalau bukan berasal dari lelaki yang semakin ke sini justru semakin menjadi bumerang dalam hubungan persahabatannya. Sikap berlebihan seperti ini yang membuat Diana tidak pernah menyetujui hubungan mereka sejak awal. Apa boleh buat? Sahabatnya tidak bisa diberi tahu. Batu, bebal, sekarang banyak dilarang ini itu, biar tahu rasa!
Diana Puteri, gadis yang terkenal galak seantero kampus, namun berubah super lembut ketika dihadapkan dengan Kesya. Gadis ini merupakan satu-satunya teman yang mampu bertahan berada di samping Kesya yang selalu digandrungi banyak cowok, tanpa merasa insecure, setidaknya sebelum Reza menyalip lalu menggantikan posisinya untuk menjaga gadis polos ini dari pengaruh buruk sekitarnya.
“Reza, sa-kit!” pekik Kesya, membuat pria yang menariknya sejak tadi segera sadar akan ulahnya.
“Mana yang sakit? Maaf,” sesal Reza segera mengecup lengan Kesya dari bekas cekalannya.
“Kamu itu kenapa, sih? Diana itu sahabat aku.”
“Dan aku, pacar kamu,” balas Reza tak ingin dibantah.
Mungkin hanya ini kekurangan Reza, terlalu tak ingin Kesya jauh, ia tak akan membiarkan gadis ini terbiasa tanpanya. Dan Kesya? Sialnya ia patuh, tapi setidaknya Kesya masih bisa beralibi jika terlalu rindu pada sahabat yang hanya satu-satunya itu.
***
“Pacar lo gila! Masa sama gue dilarang juga?! Kita ini temenan udah lama, ya!” Diana menggebrak meja karena saking kesalnya.
“Ssttt! Enggak usah teriak-teriak juga,” desis Kesya, segera membungkam mulut gadis yang emosinya sedang meluap di hadapannya.
“Bukan ngelarang, cuma—”
“Cuma enggak mau lo terpapar sama dunia luar, dan itu termasuk gue? Emangnya gue virus apa?!” sela Diana terlalu tidak tahan.
“Reza cuma takut gue gak punya waktu buat dia. Lo ngerti, ya?” jelasnya memohon pengertian. Kalau begini caranya, Kesya jadi merasa punya 2 pacar, harus membela yang satu tanpa mencela yang lainnya.
“Tapi, itu berlebihan, Key. Gak wajar! Lo masih enggak sadar?”
“Ntar juga gak bakalan kayak gini, kok. Percaya, deh.”
Diana bisa apa? Meski sabar ada batasnya, tapi teruntuk temannya yang satu ini, stok kesabarannya seakan tak terbatas.
“Oke.” Diana tak punya pilihan, seperti halnya kemarin-kemarin dengan pembahasan yang sama pula. “Tapi pulang ngampus ini, jadi, kan?” sambungnya mengulas rencana keduanya.
“Hemm.” Kesya mengiyakan dengan dehamannya.
“Reza gimana?” tanya Diana meragu.
“Bukan Kesya namanya kalau enggak bisa bikin alesan.” Gadis itu mengerlingkan mata cantiknya. Astaga! mungkin ini tingkah manis yang membuat banyak cowok klepek-klepek, termasuk si cowok banyak ngatur itu, sialnya Kesya setuju untuk terperangkap di dalamnya.
“Ini baru temen gue.” Diana merengkuh tubuh mungil sahabatnya.
***
Bugh!
“Awww!” ringis Kesya ketika tubuhnya bertabrakan dengan seseorang. “Minuman gue?!” keluhnya. "Kalau jalan pake mata, dong!” geram Kesya pada orang yang sudah menyebabkan minuman yang sedang enak-enaknya ia nikmati menjadi terbuang, bahkan mengenai pakaiannya.
“Key, lo yang enggak lihat ke depan.” Diana menahan pergerakan Kesya yang sudah seperti mengajak tawuran. Tadi, temannya itu berjalan sambil sibuk mencari sesuatu dalam tas, sampai membuatnya tak memperhatikan jalan.
“Denger, apa yang temen kamu bilang?”
Rangga Aditya, pengusaha muda nan sukses yang sedang menjadi sorotan di berbagai media cetak maupun elektronik. Kesuksesannya ini membuat sifatnya sedikit angkuh, dan arogan. Tidak pernah mengenal kata kalah ataupun mengalah meski dalam perihal yang sedang terjadi saat ini.
Ketika pemuda seumurannya memilih menghabiskan waktu untuk bersenang-senang dengan uang milik orang tua, tapi Rangga lebih memilih bersusah payah untuk kesenangannya. Baginya, lelah karena bekerja itu merupakan sebuah hal yang menyenangkan.
Diana tertegun ketika melihat pemilik suara bariton tersebut membuka kaca mata hitamnya. Lensa mata yang kecokelatan dengan alis tebal simetris, juga bentuk rahang yang tegas membuatnya terlihat begitu macho.
Mungkin seseorang di hadapannya sekarang ini bisa dikategorikan sebagai definisi pria terkeren tahun ini versi Diana. Tidak menutup kemungkinan kalau orang lain pun berpendapat hal yang serupa, terlihat dari beberapa pasang mata telah mencuri pandang ke arah pria yang sedang sibuk membuka jasnya dengan tatapan kagum, tak jauh beda dengan keadaan yang ia alami.
“Dianaaa!” delik Kesya, meminta gadis itu agar segera meralat perkataan yang malah menyudutkannya.
“Ah… i-iya, lo juga salah karena gak ngehindar! ralat Diana masuk akal. “Udah tahu, orang gak liat jalan, kenapa gak minggir?”
“Dengar, kan? Cepet minta maaf!” tuntut Kesya, melipat kedua tangannya di d**a tidak mau tahu.
Rangga membuka jas mahalnya yang terkena tumpahan dari minuman penuh gula itu, lalu dilemparnya ke arah Kesya, membuat ocehan gadis itu terhenti, dan dengan refleks menangkap benda yang terlempar hampir mengenai wajah cantiknya yang habis perawatan super lama.
Namun, belum sempat Kesya kembali membuka mulut, pria itu sudah lebih dulu melanjutkan langkahnya dengan diikuti beberapa orang berbalut kemeja berbaris rapi di belakangnya.
“Maksud lo apa?” teriak Kesya tak terima. “Wei?! Dasar banci!!!” geramnya lagi, membuat orang yang berlalu-lalang di sekitarnya melirik aneh.
Berbeda dengan Diana, ia masih merasa terpesona. “Ya ampun, Key, fix keren banget!” kagumnya dengan mata berbinar.
Kesya mendelik tak terima. “Makan, tuh, keren!” cibirnya sambil melempar jas milik pria tadi ke arah Diana. Bagi Kesya, siapa pun yang melihat, akan langsung tahu kalau pria tadi itu sangat arogan! Hanya cowok banci yang tidak mau mengalah sama cewek.
***
Ting! Tong!
Suara bel terdengar menggema di rumah Kesya.
“Key, tolong bukain pintunya!” pinta Erina yang masih sibuk bersiap-siap di kamar.
“Iya.” Kesya segera keluar dari kamarnya untuk membukakan pintu rumah.
Ceklek....
“Ini pasti Kesya,” ucap wanita paruh baya yang kini berada di hadapannya. “Cantik ya, Pih,” sambungnya memuji, yang langsung dibenarkan oleh pria yang datang bersamanya.
“Makasih.” Kesya tersenyum simpul, tapi di samping itu ia masih berusaha mengingat karena seperti merasa pernah melihat kedua orang di depannya.
“Key, kenapa gak disuruh masuk, sih?” keluh Erina yang melihat tamunya masih berada di ambang pintu.
“Ah, iya. Silakan masuk.” Kesya mempersilakan.
“Erinakuu!” seru Rindu ketika melihat kemunculan sahabatnya.
Kesya yang hendak kembali ke kamar pun kembali memutar tubuhnya. “Tante Rindu? Om Reno?” gumamnya mengingat sesuatu yang sedari tadi mengambang tak jelas di kepalanya.
“Ingat?” tanya Rindu, menyadari ketidaktahuan gadis itu.
Kesya mengangguk lalu segera berhambur ke arahnya. “Tanteeee!” peluknya erat. “Kok, enggak bilang, sih?!”
“Masa lupa? Tante tersinggung, nih.”
“Maaf,” sesal Kesya setelah menyudahi pelukannya.
Kesya terlihat mencari seseorang yang mungkin tiba-tiba muncul dari balik tubuh sepasang suami-istri yang bertamu ke rumahnya ini. Seakan tahu apa yang menjadi titik cari gadis itu, membuat Rindu hendak kembali berucap, namun suara klakson lebih dulu bersuara.
“Pasti Reza!” gumam Kesya pelan, namun masih bisa terdengar oleh keempat orang yang lainnya. “Kesya izin keluar dulu sebentar, ya!”
“Reza?” ulang Reno, menyebut nama yang ia dengarnya barusan.
Erina menghela napas panjang sebagai jawaban. “Ini yang mau aku bicarakan.”
***
Kesya baru keluar dari tempat bersemayamnya sejak semalam, padahal matahari sudah terik, tapi anak gadis itu masih kusut. Secantik apa pun seorang perempuan, kalau malasnya kebangetan seperti ini, maka itu akan mengurangi nilai, harusnya mencari nilai tambah, malah dapat minus banyak.
“Mandi sana! Ibu enggak suka lihat kamu nggak bersih begini.”
“Iya!” Turut Kesya hendak kembali ke kamarnya, padahal niat awalnya keluar kamar hanya karena lapar. Kalau tahu kepergok begini maka lebih baik berdiam diri saja sampai besok. Menahan lapar itu ahlinya, hanya saja ia akan makan secara berlebihan setelahnya sebagai bentuk pembalasan dendam, lalu nantinya akan berefek pada berat badan yang secara tiba-tiba akan melebihi batas, kemudian Kesya akan mengatur kembali jadwal dietnya.
“Nanti malam kita dinner.” Erina kembali berucap, membuat kaki Kesya kembali turun 1 tangga.
“Dinner?” ulang Kesya.
Erina mengangguk.
“Malam ini?” tanya Kesya lagi, yang padahal sudah jelas di penyampaian sebelumnya.
“Iya, sama Tante Rindu, dan Om Reno juga. Kemarin, kan, kamu malah keluar, orang datang jauh-jauh malah ditinggal.”
“Tapi Bu, malam ini aku ada—”
“Enggak ada alasan!” tegas Erina tak mau dibantah, lagipula sejak kapan wanita ini menerima jawaban tidak?
“Ada yang mau ketemu, kamu pasti senang,” sambungnya lagi, membuat Kesya kembali urung bergerak.
“Anaknya Tante Rindu. Ingat, kan?!”
“Ibu serius?”
“Masa bohong?”
“Tapi, kok, kemarin ...,” Kesya menggantungkan ucapannya.
“Kemarin apa?”
Kesya menggelengkan kepalanya. “Enggak jadi.”
Erina melihat wajah putrinya sebentar, lalu berkutik lagi dengan penggorengannya. “Katanya sibuk, jadi kemarin enggak ikut ke sini.”
Kesya berdesis, “Lagian Kesya enggak nanya, kok. Um… Kesya mandi dulu, deh, laper.” Alihnya segera menaiki anak tangga untuk kembali ke kamarya.
“Laper bukannya makan, malah mandi.” Erina menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
Kesya bersandar di balik pintu kamarnya, seseorang yang Kesya tunggu sejak lama akhirnya kembali, haruskah senang? Karena pada kenyataannya, waktu sudah merubah segalanya.
Bersambung...