"Temani tidur?" cicit Alexa dengan mata terbelalak. "Lagi?" Arthur tak menjawab, tak pula bergerak. Pria itu diam, membiarkan posisi bibirnya yang berada di ceruk leher Alexa. Tidak sadar bahwa perbuatannya itu telah membuat jantung Alexa berdebar-debar bagai diadu pacuan kuda. Sesekali Arthur menghirup lembut aroma wangi vanila dari tubuh Alexa yang bercampur dengan aroma rempah-rempah. Sejenak, Arthur merasa heran. Aroma seperti ini adalah hal yang biasa ia hirup. Entah itu sebagai wewangian mandi atau pewangi ruangan. Namun, entah mengapa jika aroma itu menempel pada tubuh Alexa terasa benar-benar menenangkan dan bagai magnet tersendiri bagi Arthur. Ketika Arthur hampir menghabiskan jarak di antara mereka, refleks Alexa langsung memasang tangannya di depan pria itu untuk menahan gera

