"Apa maksudmu, Kak?" Kening Vivian mengerut saat mendengar perkataan Lyala. Judi yang sesungguhnya? Bukannya sejak tadi pengusaha-pengusaha di sana memang sedang berjudi?
"Kata Arya, merupakan kesempatan langka bisa berjudi langsung di satu meja bersama dengan Zach Rodriguez. Para pengusaha tentu berebut bahkan bisa saling bunuh agar bisa berada satu meja judi dengan Zach Rodriguez itu," jelas Lyala.
"Apa dia sehebat itu?" Vivian memperhatikan kerumunan dengan memiringkan kepalanya sedikit, tapi fokusnya tertuju pada si kepala hitam legam yang sedang membelakangi mereka.
"Sehebat itu, sampai membuat Aryaku sehebat ini." Lyala memandang punggung tegap Arya yang sedang berdiri tegap di samping Zach yang sedang duduk di depan meja judi.
"Menarik sekali," tanpa sadar Vivian berujar sambil mengigit bibir bawahnya, matanya masih focus ke arah Zach yang duduk bersandar dengan Arya berdiri di samping kursinya.
"Lap air liurmu, Nona Salsadila. Jangan berharap terlalu tinggi. Menurut cerita Arya, tuan Zach Rodriguez itu sudah punya BANYAK kekasih. Jangan heran kalau kau, dengan segala pesonamu, bisa tidak terlihat di matanya." Ya, Lyala tidak boleh lupa untuk mengingatkan gadis ini sebelum dia dengan bodohnya membuka paha untuk Zach nantinya.
"Dia punya kekasih?" secepat cahaya, Vivian memutar kepalanya ke arah Lyala yang masih berfokus ke arah Arya.
"BANYAK! Kau pikir, ada berapa ratus jalang yang siap antri untuk menghangatkan ranjangnya? Jangan konyol Vivian Salsadila! Dia kaya, muda, tampan, siapa yang tidak mau dengannya?"
Lyala benar. Tentu saja Lyala benar. Dengan kekayaan fantastis seperti itu, jalang mana yang tidak rela antri untuknya? Vivian merasa perasaannya tercubit mendengar fakta yang dipaparkan Lyala, meskipun Vivian tidak akan mau mengakuinya sampai mati, tapi Vivian sadar dia agaknya cemburu.
"Aku iri padanya," Vivian mendesis pelan.
"Iri padanya, atau jalang-jalang yang berhasil tidur dengannya?" Lyala mendadak tertawa heboh saat mendapati wajah merah menahan kesal milik Vivian.
"Aku tidak seperti itu!" sergah Vivian, berusaha mengelak.
"Ya, katakan itu pada tubuhmu yang bergetar hanya dengan melihat puncak kepalanya, Nona Vivian Salsadila." Lyala belum berhenti dan agaknya tidak mau berhenti menertawai Vivian yang mati-matian berusaha menyangkal kalau Vivian tertarik pada Zach pada pandangan pertama.
"Kau dan mulut kotormu, Kak Lyala," Vivian mendesah kesal, yakin seyakin-yakinnya tidak akan pernah menang melawan Lyala dalam hal berbicara.
***
Jam sudah menunjukan pukul 03.00 dini hari saat Vivian terbangun di ruangan pribadi Arya yang didatanginya bersama Lyala, Vivian melirik ke arah kaca dimana keadaan pesta perjudian itu mulai tampak liar. Keramaian yang menyemut di satu titik meja sudah menghilang entah ke mana, tergantikan dengan pemandangan memuakkan beberapa perempuan melepaskan pakaiannya satu persatu di atas meja judi dengan diiringi music menghentak.
Vivian mual, tentu saja. Dia tidak suka wanita penghibur. Bagaimana bisa ada pria yang meneteskan liur melihat lekukan tubuh wanita yang menari dengan erotis dan nyaris telanjang di atas meja yang tadinya berfungsi menjadi meja judi? Ck, Vivian benar-benar mual sekarang.
Baru saja dia berjalan menuju pintu keluar dan berniat pulang, pintu ruangan itu terbuka, menampilkan sosok yang sedari tadi membuat Vivian kepanasan dan jantungnya nyaris melompat. Si pria berkulit gelap berambut hitam legam, Zach Rodriguez.
"Dimana Arya?" Si pria berkulit gelap arogan itu melangkahkan kakinya ke dalam ruangan dan membuat Vivian otomatis mundur, mencari jarak aman agar degupan gila di jantungnya tidak terdengar di depan Zach.
"Di … a- aku tidak tahu." Vivian tidak berhasil menyembunyikan rasa gugupnya kali ini, wangi parfum maskulin yang tercium di penciuman Vivian, suara berat yang seksi, benar-benar merusak kewarasan Vivian sedikit demi sedikit.
Zach bukannya tidak tahu kalau Vivian memperhatikannya sedari tadi, mata Vivian tidak bisa menyembunyikan ketertarikan pekat Vivian terhadap Zach. Terlalu jujur, terlalu gampang dibaca, dan Zach menyeringai.
"Siapa kau?" Zach mendudukan dirinya di sofa yang tadinya dipakai Lyala untuk melihat ke arah hall.
Vivian tersentak, apa baru saja tuan arogan ini menanyakan namanya? Apa tuan arogan ini tidak punya tv di rumah? atau dia bertanya mengenai hubungan Vivian dan Arya? Apa maksud pertanyaan pria ini sebenarnya.
"Kau bertanya siapa namaku, atau hubunganku dengan Arya?" Vivian akhirnya mendapatkan kontrol diri. Dia mendudukan dirinya di sofa yang tadi dipakainya untuk tidur, tepat di sebelah kanan Zach, yang berhadapan langsung dengan pintu ruangan.
"Keduanya."
"Vivian Salsadila, teman Maria, adiknya Kak Lyala yang merupakan tunangan Kak Arya."
"Oh."
"Aku harus pulang," merasa tertekan sendiri dengan hening yang tercipta, Vivian hendak pergi keluar ruangan, sampai sebuah tangan mencengkram lengan atasnya. Itu Zach! Zach yang sudah berdiri menjulang di samping Vivian entah sejak kapan.
"Mau ke mana?" Tanya Zach memastikan pendengarannya tidak bermasalah.
"Aku harus pulang," Vivian mengernyit bingung.
"Tidak ada yang bisa pergi seenaknya tanpa seizinku, Vivian Salsadila."
Katakan Vivian sudah gila, tapi sifat d******i dan tidak bisa ditentang milik Zach Rodriguez ini membuat Vivian makin tertarik dan takut di saat yang bersamaan.
"Apa?" Vivian heran dan mulai merasa terintimidasi.
"Tetap di sini sampai aku mengizikanmu keluar dari ruangan ini!" Zach berucap tenang.
"Aku bukan bawahanmu. Bahkan aku tidak mengenalmu. Kenapa aku harus mematuhimu, Tuan?"
"Jangan menentangku!" Zach menarik paksa lengan Vivian sampai badan gadis bersurai coklat itu merapat pada badan Zach.
Vivian yakin sedetik lagi dia akan mati terkena serangan jantung. Ini terlalu dekat, nafas Vivian tercekat, dan jantungnya menggila berada sedekat ini dengan Zach Rodriguez.
"Le- lepaskan!" Vivian berontak, mendorong d**a Zach yang nyaris menempel di dadanya.
"Kak!" itu Arya. Saat mendengar suara Arya dan perhatian Zach teralih, Vivian melepaskan diri dari pelukan pria berkulit gelap itu dan bergerak mundur sampai betisnya menabrak sofa.
"Ada apa?" Zach memandang kesal ke arah Arya yang sudah menelan ludah susah payah. Paham benar kalau dia muncul di saat yang salah.
"A- aku mencarimu .…" Arya menggaruk pipinya yang tidak gatal. Matanya menatap Vivian yang sedang mengelus lengan atasnya yang tadi dicengkram Zach.
"Aku pergi .…" Vivian terburu hendak berlari ke arah pintu, sampai suara tembakan menghentikan langkahnya. Wajah Vivian pucat pasi saat melihat bolong berasap tepat di depan pintu yang tepat di depan matanya.
"Aku sudah bilang tidak ada yang bisa keluar ruangan ini tanpa seizinku, Vivian Salsadila," suara dingin Zach sudah menjadi alarm untuk Vivian agar tidak membantah lelaki berkulit gelap itu lagi. Zach memasukkan senjata api yang barusan digunakannya untuk menembak pintu di depan Vivian dengan tenang.
Vivian meluruh di depan pintu, kakinya benar-benar lemas, jantungnya masih berpacu dengan gila mendengar suara tembakan tepat di dekatnya. Gadis bersurai coklat itu menatap syok pintu yang tertembak itu.
"Vi, kau tak apa?" Arya berjalan terburu ke arah Vivian, hendak membantu Vivian berdiri sampai suara Zach membatalkan niatnya membantu Vivian.
"Sentuh dia sedikit saja, kau tamat di tangan ku, Arya Darsana," Zach berucap santai.
Arya tidak segila itu sampai menganggap remeh ucapan Zach. Pria itu tidak pernah bermain dengan kata-katanya. Kalau dia bilang kau akan tamat, maka kau akan tamat!
"Kak, dia syok .…" Arya memandang Vivian dan Zach bergantian. Kepalanya penuh pertanyaan, tapi Arya masih ingin menikahi Lyala dan hidup bahagia, maka dia mengurungkan pertanyaan-pertanyaan yang bersarang di kepalanya.
"Dia jadi urusanku mulai detik ini. Dia milikku, dan aku tidak pernah suka milikku disentuh orang lain. Kurasa kau paham akan itu," Zach berjalan ke arah Vivian yang terduduk lemas di lantai di depan pintu, mengabaikan wajah penasaran Arya dan dengan santai menggendong tubuh Vivian yang masih lemas.
***
"Zach Rodriguez b******k!" Vivian berteriak di depan jendela kamar apartemennya yang memampangkan dengan indah kota Jakarta di bawahnya.
"Ini sudah ke-seribu kali, Kak. Kau tidak lelah? Aku saja yang mendengarnya mulai lelah," Maria meletakkan ponselnya di sofa kamar Vivian yang mengarah ke jendela tempat Vivian berteriak. Dia menatap datar gadis itu. Sudah sejak tadi sumpah serapah, makian dan isi kebun binatang Vivian tujukan untuk seseorang bernama Zach Rodriguez yang bahkan tidak Maria kenal siapa orangnya.
"Aku masih kesal, oke?"
"Ini sudah dua minggu, demi Tuhan. Sebenarnya kau ini kenapa?" Maria mulai hilang akal. Siapapun akan sama sepertinya jika sahabat yang kau punya bertingkah seperti orang gila.
"Hanya kesal," Vivian melipat tangan di depan d**a.
"Sebenarnya kau mau apa? Kau berharap Zach Rodriguez membawamu? Sebenarnya siapa si Zach Rodriguez itu?" Maria ikut-ikutan melipat tangan di depan d**a.
"Aku sudah bilang aku kesal 'kan? Dan aku sudah bilang Zach Rodriguez itu si b******k!"
Sudah dua minggu sejak kejadian di hotel Arya dimana Zach dengan seenaknya menjatuhkan Vivian dari gendongannya begitu saja. Masih melekat jelas di ingatan Vivian tentang apa yang terjadi padanya hari itu.
"Kak, kau mau bawa Vivian ke mana?" Arya sibuk mengekori Zach dari belakang.
"Ke rumahku," Zach dengan santai berujar masih menggendong Vivian yang masih syok. Wajahnya masih pucat pasi, kesadarannya belum kembali seutuhnya setelah Zach menembak pintu di hadapannya.
"Tapi, kau tidak akan suka hal yang akan terjadi kedepannya Kak .…" Arya masih setia mengekori Zach di belakangnya dengan jarak aman.
"Apa maksudmu?" Zach berhenti mendadak, melihat Arya dengan kernyitan tak suka di dahinya.
"Vivian … dia ... sama seperti Maria," jelas Arya.
"Jangan bertele-tele!" Zach yang tidak mengerti arah ucapan Arya makin mengernyitkan dahinya tidak suka.
"Vivian … dia ... artis, Kak."
Detik saat ucapan Arya masuk ke telinga Zach, detik itu juga Zach dengan tega melepaskan kedua tangannya yang sedari tadi menahan Vivian di gendongannya. Vivian yang masih mengumpulkan nyawanya yang bertebaran ke mana-mana karena suara tembakan barusan, mendadak mendapatakan seluruh kesadarannya saat tubuhnya terhempas ke lantai begitu saja.
"b******k!" Vivian memaki. Wajahnya mendongak menatap Zach yang memandang dingin ke arahnya.
"APA MAUMU?" Vivian masih setia dengan wajah kesalnya.
"Pergilah selagi aku masih berbaik hati," Zach berucap dingin. Matanya menusuk tepat ke arah Vivian. Aura tidak bisa ditentang itu lagi. Vivian merinding dan memilih bungkam, berdiri dengan mata berkaca-kaca. Rasa kesal yang tidak bisa tersalurkan dengan makian, berakhir dengan lolosnya air mata dari gadis bersurai coklat itu.
"Mati saja kau!" mulutnya menyumpah, tapi air mata mengalir deras di pipi Vivian tanpa bisa ditahannya. Berlalu begitu saja dari hadapan Zach yang masih mematai Vivian yang berjalan terseok.
"Kita harus bersiap Kak, acaranya di mulai jam delapan malam," Maria mengingatkan, membuat lamunan Vivian buyar.
Maria dan Vivian memang tinggal bersebrangan. Apartemen Maria tepat berada di depan Apartemen Vivian. Tidak heran kalau melihat mereka berdua sering bersama. Entah itu ke acara TV, atau acara off air lain jika mereka berdua yang di undang menjadi bintang tamu acara itu. Seperti ke acara Arya contohnya.
"Kau akan pulang?" Vivian melirik Maria yang sudah berdiri, bersiap kembali ke apartemennya.
"iya. King akan menjemputku jam enam, Kak."
"Jadi, kau akan pergi dengan King dan membiarkan aku pergi ke acara Award itu sendiri? Kau tega padaku, Ri?" Vivian mulai memandang sedih Maria.
"Kau bisa ikut kalau mau."
"Dan melihat kalian bermesraaan di depan hidungku? Tidak, terima kasih."
"Kalau begitu, mulailah mencari pacar Kak!" Maria berlalu dengan santai, meninggalkan Vivian yang nyaris menyumpahi Maria saat pintu kamar Vivian menutup. Maria pergi meninggalkannya sendiri di kamar.