Chapter 19

1919 Words

Vivian berdebar begitu mengatakan pada adiknya tentang apa yang terjadi, terlepas dari seluruh masalah yang menimpanya, masalah ini adalah yang paling gawat darurat. Hening… hanya terdengar suara angin pantai ditelinga Vivian. "Apa? Coba ulangi, Kak" Revina menarik ingusnya sambil mempertajam telinganya. "Aku hamil" ucap Vivian cepat. Hening lagi, terdengar suara angin lagi. "Huweee…. kenapa kau hamil? Lalu aku bagaimana? Apa aku harus bersaing dengan keponakan ku untuk mendapat perhatianmu? kenapa kau cepat sekali hamil… jangan… hiks… Ibu…." Revina mengencangkan suara tangisnya. "Revina? Kau tidak marah?" Vivian memastikan. Tangisnya mendadak reda. "kenapa aku harus marah? Itu rezeki, huwee… tapi aku sedih. Aku bukan lagi satu-satunya yang Kakak cintai lagi… Ibu…." "Revina, bagaim

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD