"Jadi kamu juga demam abis kejadian itu?" Tawa Nian pecah dengan suara khasnya seperti menarik udara dari lubang tenggorokannya yang sempit. Seperti suara alat pembersih kaca yang berdencit. Kebetulan macam apa itu? Tapi, jika dipikir lagi itu bukan hanya kebetulan. Pasti itu hanya efek alami dari kecapekan dan kedinginan. Apalagi mereka saat itu masih kecil.
"Aku sakit seminggu." Ella tersenyum lalu menaruhkan cangkirnya di atas meja lagi. "Mana habis itu aku diinterogasi sama Ayah Ibu."
"Ditanyai apa?" Mata Nian terlihat amat berbinar. Berbincang dengan Ella ternyata benar-benar menyembuhkan dirinya.
"Aku diapain aja sama Kakak. Diajak ke mana aja. Gitu-gitu deh pokoknya." Sebenarnya, Ella juga malu mau mengatakan hal ini. Namun, dia terlanjur bercerita tentang saat itu. "Setelah kupikir-pikir lagi. Orang tuaku lebay juga, ya?"
"Tentu." Senyuman Nian di wajah berganti dengan tarikan datar tanpa kurva menurun lagi. "Gak ada orang tua yang gak khawatir dengan anaknya. Apalagi kalau anak mereka perempuan. Dan—" Lelaki itu menghentikan kalimatnya. Dia ragu mau mengatakan atau tidak.
"Dan apa?"
"Jangan sakit hati, ya?" Nian memastikan. Beberapa detik tadi, dia memikirkan untuk mengatakannya atau tidak.
"Tergantung."
"Ya, udah. Kalau gitu aku gak jadi."
"Kok gak jadi?"
"Gak papa. Anggap aja aku gak bicara tadi."
Ella memajukan bibirnya. "Tapi, 'kan, tadi Kakak udah terlanjur bilang. Jangan bikin orang penasaran, dong."
"Janji dulu, kamu gak bakalan marah atau ngambek abis itu."
"Aku bilang tergantung."
"Ya, udah. Aku juga udah bilang kalau gak jadi."
"Kak Nian, ih. Bete."
Nian menahan senyumannya. Ella sangat menggemaskan. Dia menyentuh pergelangan tangannya, menekan nadi yang ada di sana. Ternyata, dadanya tidak berbohong. Jantungnya sungguh berlomba untuk memompa darah ke seluruh tubuhnya dengam brutal. Jika lama-lama seperti ini terus, sungguh tidak baik bagi tubuhnya.
"Kamu manja."
Ella mengangkat wajahnya yang sengaja ditundukkan karena kesal tadi.
"Tapi, aku suka."
Matanya mengerjap beberapa hitungan. Dia berdehem. Kenapa tiba-tiba dia merasakan panas di tubuhnya? Tangannya mengibas-ngibaskan di pinggir lehernya. Padahal AC ruangan juga menyala sedari tadi.
Hening kembali. Tidak ada percakapan di antara mereka berdua untuk beberapa saat. Mereka sibuk untuk menikmati minuman masing-masing. Mata Ella tertuju pada kue yang ada di tengah meja. Dia pun mengambil garpu dengan cepat dan hendak mencuilnya. Akan tetapi, tangannya terhenti saat garpunya dan milik Nian bersentuhan di tempat yang sama. Tatapan mata mereka bertemu sepersekian detik. Nian pun mengambil bagian dan menyodorkannya di depan bibir Ella.
Ella membeku. Ini terlalu cepat dan tiba-tiba. Dia sampai bingung mau berbuat bagaimana. Setelah menelan ludah dengan susah payah, dia pun memajukan wajahnya dan menyambut suapan yang diajukan oleh Nian.
"Makasih," ucapnya lalu melipat bibirnya ke dalam dan mengunyah kue yang ada di dalam mulutnya. Kue itu terasa meleleh. Membuat mata Ella melebar dan tangannya menutupi bibir. "Enak banget, Kak. Gak bohong."
Tanpa pikir panjang, dia langsung mengambil bagian dari kue itu dan menyodorkannya ke pada Nian. Lelaki itu refleks memundurkan wajahnya. Melihat hal itu, Ella tersadar dari perbuatannya. Dia pun merutuki dirinya dengan agak membuang pandangannya ke samping. Dia bahkan lupa kalau yang di depannya ini Nian. Bukan Ryan. Kalau Ryan, tanpa diminta pun lelaki itu akan memelas untuk disuapi. Ah, kenapa juga dia tadi menerima suapan dari Nian? Tapi, kalau tadi ditolak, juga dia akan merasa sangat segan. Kenapa dia serba salah begini jadinya?
"Maaf." Perlahan Ella menarik tangannya untuk turun. Namun, tangan Nian segera menahannya dan memasukkan potongan kue itu ke mulutnya.
Reaksinya sama dengan Ella. Dia membuka mata lebar-lenar dan mengangguk-angguk. "Baru kali ini aku makan kuenya Devan. Enak banget ternyata."
Ella memiringkan kepalanya. "Baru kali ini? Kakak belum pernah coba kue di sini sama sekali?"
Nian meringis. "Iya. Belum pernah."
"Terus kalau ke sini?"
"Aku makan kue keringnya. Sebenernya, aku gak boleh terlalu sering makan yang gula-gula gitu, sih."
"Biar gak diomelin sama Mamanya Kak Nian, ya?"
"Hahahaha." Tawa Nian pecah. Seperti de javu.
"Kayak permen kapas yang dulu itu, 'kan?"
Nian tersenyum. Dia mengangguk. "Iya."
Ella juga ikutan mengangguk. Entah, untuk apa. Dia merasa akan kehabisan bahan untuk pembicaraan selanjutnya. Dia pun melirik jam yang terpampang di display on gawainya. Ternyata mereka sudah lama juga di sini. Tidak terasa sudah dua jam lebih. Pantas saja mereka seperti sudah kehabisan bahan perbincangan. Sudah banyak sekali yang mereka bicarakan.
Gadis itu tersenyum dengan pandangan yang masih menatap kepada gawainya. Dia merasa bisa menembus batasnya. Tidak pernah sebelumnya dia nyaman berbicara panjang lebar dengan orang yang baru saja dia kenal. Namun, Nian terasa berbeda. Mungkin saja itu karena sifat lelaki yang ada di depannya itu mirip dengan Ryan. Pun, cara Nian memperlakukannya. Mungkin kalau bukan karena 'baru kenal kemarin' dia bisa lebih dekat lagi dengan Nian.
Nian menatap gadis di depannya dengan seksama. Awalnya, dia pikir Ella telah merasa bosan karena sudah menghabiskan banyak waktu dengannya. Akan tetapi, dia menepis persangkaan itu saat melihat tarikan senyuman di bibir gadis itu. Entah, dia juga tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Ella. Namun, dia yakin itu adalah sesuatu yang baik. Terlihat dari cara Ella tersenyum.
Notifikasi di gawai Nian mengalihkan pandangan lelaki itu. Dia melihat nama yang tertera di bilah putih itu. Dari Mamanya.
Mama
Mama jemput kamu habis ini, ya.
Nian
Sebentar, Ma.
Aku belum tanya dia bakalan pulang kapan.
Mama sampai di mana?
Mama
Baru mau lewat jembatan layang.
Nian
Ya, udah.
Bentar, ya, Ma
Nian meletakkan gawainya di atas meja kembali. Dia sedikit terkejut ternyata Ella sedang memperhatikannya. "La," sapa Nian meskipun sudah jelas bahwa gadis itu sedang memandangnya.
"Apa, Kak?"
"Kamu bakalan pulang bareng Ryan juga?"
"Kayaknya, sih, iya." Ella mengecek gawainya. Belum ada pesan ataupun telepon dari sahabatnya itu. Dia mematikan gawainya lagi dan kembali memusatkan pandangannya ke lawan bicara. "Kakak udah mau pulang?" tanyanya.
Nian tersenyum. "Kayaknya, iya. Mama udah kirim pesan."
"Dijemput Mamanya Kakak." Ella menelan ludah. Dia tampak sedikit tertegun dan berada dalam sebuah pikiran.
"Aku gak seanak Mama banget yang seperti kamu pikirkan. Pun kalau kamu tidak berpikiran seperti itu, please, jangan lakukan." Nian melambai-lambaikan tangannya ke depan. Dia tidak boleh dicap demikian. Apalagi oleh gadis yang sedang ada di depannya ini. Image-nya bisa runtuh dalam seketika.
Ella mengangguk. "Oke. Aku paham." Senyumannya sungguh tidak ditebak.
"Paham apa?"
"Kalau Kakak orangnya bukan anak mama. Gak manja gitu. Gak kayak aku." Ella tetap mempertahankan senyumannya. Jujur, dia sudah berusaha untuk tidak menarik kedua ujung bibirnya itu.
"Gak. Gak. Kamu pasti punya kesimpulan lain." Nian mengimbangi dengan senyuman.
"Enggak, Kak."
"Iya. Kamu berpikiran sebaliknya. Aku tahu itu."
"Dari mana?"
"Dari raut wajah kamu." Lelaki itu menunjuk wajah Ella.
Ella yang diperlakukan seperti itu pun terdiam. Dia melipat bibir ke dalam dam menghentikan senyumannya. "Maaf. Aku gak bermaksud, Kak."
Nian tertegun. Wajah gadis itu berubah. Tidak. Jangan sampai dia memberikan kenangan yang buruk di saat akan berpisah seperti ini. "Eh, gak papa. Bukan apa-apa, kok. Aku juga cuma bercanda."
"Hehehe." Kekehan Ella terasa dipaksa. "Enggak. Aku juga keterlaluan, sih."
Nian terdiam sejenak. Dari dua jam tadi dia berbicara dengan gadis itu dan baru sekarang dia mendapatkan respon seperti ini? Ah, kenapa harus sekarang? Apakah Ella sudah bosan?
"La. Beneran gak papa."
Ella tersenyum tipis. "Iya, Kak. Gak papa. Aku juga udah ngempet gak bilang 'maaf' lagi. Disimpan buat besok pas lebaran."
Nian menghela napas. Pastinya dia sudah sangat khawatir dengan suasana yang tetiba berubah secepat itu. Obrolan hangat mereka seakan sirna begitu saja. "Kamu emang unik."
Ella mengangkat kedua alisnya.
"Makanya, Ryan juga betah temenan sama kamu."
Gadis itu tersenyum saat nama Ryan disebut. Dia lega saja. Entah kenapa.
Nian berdehem. "Kalau boleh, aku juga mau berteman lebih dekat lagi sama kamu." Dia menyodorkan tangannya ke depan meskipun agak ragu.
Ella menegakkan punggungnya. Kalimat itu sungguh amat langka. Kebanyakan orang pasti akan menjauhi dirinya saat mengetahui bagaimana sikap dan kelakuan dirinya. Akan tetapi, setelah bertahun-tahun, ada juga yang mau mengajaknya berteman selain Ryan. Maka, dengan senyum yang mengembang sempurna, dia menyambut jabat tangan itu.
Ella tahu yang dilakukannya ini memang sangat tidak biasa. Bahkan Ella pun sedikit kaget dengan kelakuannya sendiri. Akan tetapi, tidak dapat dipungkiri, saat bersama Nian, dia juga merasa nyaman. Rasanya hampir sama saat dia bersama Ryan. "Makasih, Kak."
Mereka melepas tautan tangan itu dan mencoba mencari pelarian. Nian menyesap coklat latte-nya dan Ella yang lansung menunduk untuk memakan kue lagi. Menyadari perbuatan aneh mereka barusan membuat suasana menjadi canggung. Ah, bisakah mereka menjadi dekat?
"Habis ini, jangan canggung lagi, ya. Aku juga akan berusaha pahami kamu." Nian berkata dengan hati-hati.
Ella mengangguk. Senyumannya dikulum. "Iya, Kak. Aku juga bakalan berusaha buat mengimbangi." Dia menggigit sebelah bagian bibir bawahnya. "Tapi, maaf, ya, kalau mungkin aku agak gak bisa dimengerti atau gak jelas. Aku emang orangnya aneh kayak gitu."
"Untung sadar." Nian menaikan kedua alisnya yang disambut dengan tawa renyah Ella. "Jadi, izinkan aku buat lebih deket lagi, ya, sama kamu."
"Iya, Kak. Gak pake diulang lagi juga aku paham. Aku orangnya gak bodoh-bodoh amat, kok."
"Heh, siapa yang bilang kamu bodoh? Aku gak bilang."
"Emang. Aku yang bilang, kok."
"Ya, udah. Aku terima."
"Apanya?"
"Kata-kata kamu. Tapi, aku tetep gak mau bilang kalau kamu seperti itu."
"Kakak gak tahu aku."
"Belum. Bukan tidak."
Ella tergelak dengan adu lidah barusan. Kenapa mereka random sekali seperti ini? Tapi, seru juga.
"Iya, oke. Aku juga gak bilang Kakak anak yang seperti itu."
"Apa?"
"Gak papa."
"Apa, La? Manja? Anak Mama?"
"Pokoknya aku gak bilang Kakak seperti itu."
"Ya, ampun. Aku beneran pengin cubit kamu. Boleh gak, sih?" Nian sudah menyiapkan telunjuk dan ibu jarinya.
Ella langsung menjauhkan wajahnya dari sana. Nian pun tidak akan maju jika tidak ada perizinan dari yang punya pipi. Lelaki itu menurunkan tangannya. Mungkin terlalu dini untuknya dan Ella. Terlebih lagi bagi seseorang sepeti Ella.
"Hai, sayang. Sudah selesai?" Seorang wanita mendekat ke arah mereka dan langsung memeluk pundak Nian. Dia bahkan mencium puncak kepala lelaki itu.
Ella terdiam beberapa saat. Kemudian, dia baru paham dengan situasi yang sedang berjalan. Dia mengangguk khidmat dan tersenyum. Senyumannya semakin lebar tatkala melihat Nian yang terdiam membatu di tempatnya. Lelaki itu menahan malu.